Devi duduk di kamarnya, masih memikirkan Afan yang tiba-tiba mimisan tanpa sebab. Ia merasa khawatir dan tidak bisa menenangkan pikirannya.
"Sebenrnya afan kenapa yah?" Devi berbicara pada dirinya sendiri, mencoba untuk memahami apa yang terjadi.
Ia terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terburuk. Apakah Afan sakit? Apakah ada yang terjadi pada Afan?
Devi merasa semakin khawatir dan tidak bisa menunggu sampai besok untuk bertemu Afan lagi. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Afan, tapi ia tidak bisa menghubungi Afan karena Afan sudah pulang ke rumahnya.
Ia mencoba untuk berbaring di tempat tidurnya. Untuk menghilang kan semua pikiran nya yang negatif.
Tiba-tiba, Devi mendengar suara mamah nya yang memanggilnya dari luar kamar. "Devi, apa kamu sudah tidur?" Medina bertanya.
Devi berusaha untuk menjawab dengan suara yang normal, tapi ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Belum, mah. Aku masih belum bisa tidur," Devi menjawab.
Ayahnya masuk ke kamar Devi dan duduk di sampingnya. "Apa yang terjadi, sayang? Kamu kelihatan khawatir," Medina bertanya.
Devi berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi ia tidak bisa menjelaskannya dengan baik. "Aku hanya khawatir tentang Afan, mah. Dia tiba-tiba mimisan tanpa sebab dan aku gak bisa berhenti memikirkannya," Devi menjawab.
Medina memeluk Devi dan berusaha untuk menenangkannya. "Jangan khawatir, sayang. Afan pasti baik-baik saja. Kamu bisa bertemu sama dia besok dan memastikan kalau dia baik-baik saja," mama devita berkata.
Devi merasa sedikit lega, tapi ia masih merasa khawatir tentang Afan.
"Yaudah mama keluar dulu ya, kamu langsung tidur jangan begadang" Medina berlalu dari sana dan keluar
Saat devita sedang melamun tiba-tiba Handphone nya berbunyi, saat dia melihat ternyata nama afan yang ada di layar nya.
Devita menjawab panggilan dari Afan. "Hai, sayang. Kamu udah gapapa kan?" Devita bertanya dengan suara yang lembut.
"Aku baik-baik saja, sayang. Cuma sedikit capek aja," Afan menjawab.
Devi merasa khawatir. "Kamu kenapa sebenarnya? Kenapa kamu tiba-tiba mimisan tadi," Devi bertanya.
"Aku gak tahu, Dev. Mungkin aku kecapean aja," Afan menjawab.
Devi tersenyum. "Kamu harus istirahat lebih banyak, ya? Aku gak mau kamu sakit," Devi berkata.
"Aku pasti bakal lebih banyak istirahat sayang. Makasih sudah khawatir tentang aku," Afan berkata.
Devita merasa bahagia karena Afan baik-baik saja. "Aku selalu khawatir tentang kamu, Afan. Kamu adalah orang yang paling penting bagi aku," Devita berkata.
Afan tersenyum. "Aku juga sayang kamu, Dev. Kamu adalah orang yang paling spesial bagi aku."
Di pagi afan berpagi-pagi untuk pergi ke rumah devita menjemput nya.
Devita dan Afan berangkat ke sekolah dengan motor Afan. Devita duduk di belakang, menggandeng pinggang Afan erat-erat. Angin pagi yang sejuk berhembus di wajah mereka, membuat mereka merasa lebih hidup.
"Hari ini aku mau makan siang bareng di kantin," kata Devita, berbisik di telinga Afan.
Afan tersenyum. "Aku juga mau, tapi aku harus memastikan aku gak terlambat untuk pertemuan klub basket."
Devita tertawa. "Kamu selalu sibuk dengan basket, tapi aku gak keberatan."
Mereka berdua terus melaju dengan motor, menikmati suasana pagi yang indah dan kebersamaan yang mereka miliki. Tapi, Afan tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ia harus menyembunyikan rahasia penyakitnya dari Devita...
Mereka berdua tiba di sekolah dan memarkir motor Afan di tempat yang biasa. Devita turun dari motor dan menatap Afan dengan senyum manis.
"Aku akan menunggumu di kelas," kata Devita, sebelum berjalan menuju kelas.
Afan tersenyum dan mengangguk. "Aku akan segera menyusul."
Afan memandang Devita yang berjalan menjauh, merasakan kehangatan dan kebahagiaan dalam hatinya. Ia merasa beruntung memiliki Devita sebagai kekasihnya.
Setelah beberapa menit, Afan menyusul Devita ke kelas. Mereka berdua duduk di bangku mereka, siap menghadapi hari yang baru...
Mala dan Rakha, baru saja memasuki kelas dan langsung menuju ke arah Devita dan Afan. Mereka berdua terlihat sangat bersemangat dan ceria.
"Hai, Dev! Hai, Afan!" seru Mala, dengan senyum lebar.
Rakha juga mengangguk dan tersenyum. "Hai, guys! Apa kabar?"
Devita tersenyum dan berbalik untuk menyambut teman-temannya. "Hai, Mala! Hai, Rakha! Kabar baik
Afan juga mengangguk dan tersenyum, menyambut Mala dan Rakha dengan ramah.
Mala duduk di sebelah Devita, sementara Rakha duduk di sebelah Afan. Mereka berempat langsung terlibat dalam percakapan yang santai dan menyenangkan...
Mala dan Rakha, kembali ke tempat duduk masing-masing. Mereka berdua hanya singgah sebentar untuk berbicara dengan Devita dan Afan.
"Kita harus ngobrol lagi nanti, ya!" kata Mala, sebelum kembali ke tempat duduknya.
Rakha juga mengangguk dan tersenyum. "Iya, nanti kita ngobrol lagi!"
Devita dan Afan tersenyum dan mengangguk, menanggapi ucapan Mala dan Rakha. Mereka berdua kemudian kembali fokus pada pelajaran yang akan dimulai.
Guru kelas memasuki ruangan dan memulai pelajaran hari itu. Devita dan Afan duduk dengan tenang, siap mengikuti pelajaran...
Devita dan Afan tersenyum dan mengangguk, menanggapi ucapan Mala dan Rakha. Mereka berdua kemudian kembali fokus pada pelajaran yang akan dimulai.
Guru kelas memasuki ruangan dan memulai pelajaran hari itu. Devita dan Afan duduk dengan tenang, siap mengikuti pelajaran...
Waktu istirahat tiba, dan Devita serta Afan memutuskan untuk pergi ke kantin bersama. Mereka berjalan bersama, menikmati suasana sekolah yang ceria.
Di kantin, mereka bertemu lagi dengan Mala dan Rakha. Keempatnya memutuskan untuk duduk bersama dan menikmati makanan mereka.
"Gue baru saja dengar tentang konser musik yang akan diadakan di kota kita," kata Mala, dengan mata yang berbinar.
Rakha juga terlihat sangat bersemangat. "Aku sudah mendengar tentang itu sayang! Aku mau pergi!"
Devita dan Afan saling menatap, dan kemudian Devita berbicara. "Gue juga mau pergi
Afan tersenyum, tapi terlihat sedikit ragu. "Kalau gue gak tahu, gue harus memastiin gue bisa mendapatkan tiketnya dulu."
Devita menatap Afan dengan khawatir. "Apa yang salah, Afan? Kamu gak mau pergi?"...
Afan tersenyum lemah. "Aku mau pergi, tapi aku gak tahu apakah aku bisa mendapatkan tiketnya. Aku juga sedikit...lelah."
Mala dan Rakha tidak memperhatikan perubahan ekspresi Afan, tapi Devita melihatnya dengan jelas. Ia melihat bahwa Afan terlihat pucat dan lelah, tidak seperti biasanya.
***********
Hay guysss, gimana bab kali ini?
Pantengin terus ceritanya ya, jangan lupa vote and komen. Jumpa lagi di bab selanjutnya babayy👋🏻❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN-
RomanceMenceritakan seorang ketos cuek yang jatuh hati kepada seorang gadis cantik bernama Serly Devita Arabella seorang anak baru disekolah afan sang ketos. Akan kan afan bisa mendapatkan hati devita atau bahkan dia tidak bisa mendapatkan hati anak baru...
