Setelah acara pensi yang meriah selesai, Devita, Mala, Violetta, Rakha, dan Eby berkumpul di kantin sekolah, sementara Metta menunggu dengan sabar di pojok, wajahnya terlihat santai bersama ciara. Mereka semua masih larut dalam euforia acara yang baru saja berlangsung, tapi suasana hati mereka sedikit ternodai oleh kekhawatiran tentang kondisi Afan yang masih terbaring koma di rumah sakit.
"Seru banget ya, acaranya!" seru Violetta, masih dengan senyum lebar di wajahnya. "Kita semua benar-benar menunjukkan bakat kita hari ini!"
"Betul banget," Mala menambahkan, "gue juga senang banget bisa ikut serta dan mendukung acara ini.
Mala sedikit melirik devita. "Tapi sekarang, kita harus mikirin Afan."
Devita mengangguk, "Iya, kita harus ke rumah sakit buat liat kondisinya. Semoga dia cepet sadar, karena dokter ada kabarin tentang kondisi afan lagi sama mami, dan gue juga dari tadi kepikiran sama dia."
Rakha dan Eby hanya mengangguk setuju, mereka semua tahu betapa beratnya situasi ini bagi semua yang ada disini dan tentu saja bagi Afan sendiri.
"Mami, gimana afan?" tanya Devita dengan lembut, mencoba mengalihkan perhatian ke kondisi terkini.
Metta menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Dokter bilang kondisinya masih stabil, tapi belum ada tanda-tanda dia bakal sadar. Mami harap dia bisa cepat pulih"
Mereka semua terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Metta. Setelah beberapa saat, mereka memutuskan sudah waktunya untuk mengunjungi Afan di rumah sakit, memberikan dukungan dan doa bagi kesembuhannya.
"Yuk, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Devita, dan yang lain mengangguk setuju.
Mereka semua berangkat menuju rumah sakit, membawa harapan dan doa untuk Afan. Meskipun situasi ini berat, mereka yakin dengan dukungan satu sama lain dan doa bersama, Afan pasti akan melewati ini.
Saat mereka tiba di rumah sakit, suasana di koridor terasa sunyi dan hening. Mereka semua berjalan dengan langkah perlahan menuju ruang ICU tempat Afan dirawat. Saat memasuki ruangan, mereka melihat Afan terbaring diam dengan berbagai alat medis yang terhubung ke tubuhnya. Metta langsung menuju ke sisi tempat tidur Afan, memegang tangan anaknya dengan erat.
"Afan, sayang, teman-temanmu sudah datang," bisik Metta, suaranya lembut meski terlihat khawatir.
Devita dan teman-temannya berdiri di belakang Metta, menatap Afan dengan wajah penuh kepedulian. Mereka semua berharap Afan segera sadar dan kembali seperti biasanya.
"Semoga Afan cepet sembuh ya," bisik Violetta, suaranya hampir tak terdengar.
Mala mengangguk, "Iya, kita doain terus agar dia bisa segera pulih."
Tiba-tiba, salah satu monitor medis berbunyi, menandakan perubahan pada kondisi Afan. Metta langsung menoleh ke arah monitor, jantungnya berdegup kencang.
"Dokter! Dokter!" panggil Metta, suaranya penuh harap.
Dokter yang sedang berjaga di luar ruangan langsung masuk dan memeriksa kondisi Afan. Setelah beberapa saat, dokter itu memberikan sinyal kepada Metta untuk mendekat.
"Ada perubahan pada aktivitas otaknya, ini bisa jadi tanda positif," kata dokter dengan senyum kecil.
Mereka semua merasa ada secercah harapan, mungkin ini saatnya Afan mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Devita dan teman-temannya saling menatap, wajah mereka sedikit lebih cerah.
"Semoga ini pertanda baik," kata Rakha, suaranya penuh harap.
Mereka semua menunggu dengan sabar, berharap Afan segera membuka matanya dan tersenyum seperti biasanya. Saat-saat ini terasa sangat berat, tapi dengan dukungan satu sama lain, mereka yakin semuanya akan baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN-
RomanceMenceritakan seorang ketos cuek yang jatuh hati kepada seorang gadis cantik bernama Serly Devita Arabella seorang anak baru disekolah afan sang ketos. Akan kan afan bisa mendapatkan hati devita atau bahkan dia tidak bisa mendapatkan hati anak baru...
