"Kamu sakit?" tanya Devita, dengan suara yang khawatir.
Afan menggelengkan kepala. "Aku gak sakit, aku cuma...lelah."
Devita tidak yakin apakah Afan telling the truth, tapi ia tidak ingin memaksa Afan untuk mengakui apa yang sebenarnya terjadi...
Mala dan Rakha tidak memperhatikan perubahan ekspresi Afan, dan mereka melanjutkan pembicaraan tentang konser musik.
"Gue udah dengar kalau konser itu bakal seru banget!" kata Mala.
Rakha juga mengangguk. "Iya, aku sudah mendengar bahwa artis favorit kita akan tampil!"
Devita tersenyum, tapi masih memperhatikan Afan yang terlihat lelah. Ia tidak ingin memaksa Afan untuk mengakui apa yang sebenarnya terjadi.
Afan sendiri berusaha untuk tidak menunjukkan tanda-tanda penyakitnya. Ia tidak ingin membuat Devita khawatir kepadanya.
Jameela, seorang siswi yang cantik dan populer di sekolah, berjalan menuju ke tempat Afan dan Devita duduk. Ia tersenyum manis dan menyapa Afan dengan suara yang manis.
"Hai afan! Kamu ganteng banget hari ini!" kata Jameela, dengan mata yang berbinar.
"Hmm"
Devita, yang duduk di sebelah Afan, merasa sedikit cemburu melihat Jameela yang sangat dekat dengan Afan. Ia tidak suka melihat Afan berbicara dengan gadis lain yang terlalu dekat.
Tapi Afan memperhatikan perasaan cemburu Devita. Ia hanya tersenyum dan memegang tangan Devita dengan lembut, menunjukkan bahwa Devita adalah orang yang paling spesial baginya.
Jameela tersenyum manis, tapi matanya mengandung sesuatu yang lain. Ia tidak suka melihat Afan dan Devita yang sangat dekat.
"Afan, kamu kelihatan bahagia banget bersama Devi," kata Jameela, dengan suara yang manis tapi dengan nada yang sedikit menyakitkan. "Tapi apa kamu yakin bahwa Devi adalah orang yang tepat buat kamu?"
Afan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Jameela. Ia tidak ingin membicarakan hubungannya dengan Devita di depan orang lain.
"Jameela, maksud lo apa?" tanya Afan, dengan suara yang sedikit keras.
Devita merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Ia tidak suka melihat Jameela yang mulai mengganggu hubungan mereka...
Jameela tersenyum manis, tapi matanya tetap mengandung sesuatu yang licik. "Aku cuma mau tahu apa kamu yakin bahwa Devita adalah orang yang tepat untuk kamu, Afan."
Afan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Jameela.
"Jameela, gue udah tahu apa yang gue mau," kata Afan, dengan suara yang tegas. "Gue gak perlu lo buat memberitahu gue apa yang harus gue lakuin."
Devita merasa lega melihat Afan yang tetap setia padanya. Ia memegang tangan Afan dengan lebih erat, menunjukkan bahwa ia tidak akan melepaskan Afan begitu saja.
Jameela melihat adegan itu dan wajahnya berubah menjadi merah dengan amarah. Ia tidak suka melihat Afan dan Devita yang sangat dekat...
Jameela berdiri dan berjalan menjauh, tapi tidak sebelum ia melontarkan kata-kata yang menyakitkan. "Kamu gak tahu apa yang kamu inginkan, Afan. Kamu cuma terjebak dalam hubungan yang gak seimbang."
Afan merasa terganggu dengan kata-kata Jameela, tapi ia tidak ingin membiarkan Jameela mengganggu hubungannya dengan Devita. Ia memegang tangan Devita dengan lebih erat dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan pedulikan apa yang dia ucapin," kata Afan, dengan suara yang lembut. "Aku tahu apa yang aku inginkan, dan aku ingin bersama kamu."
Devita tersenyum dan memeluk Afan. "Aku juga ingin bersama kamu," katanya, dengan suara yang penuh kasih sayang.
Mereka berdua berpelukan dengan erat, menunjukkan bahwa mereka tidak akan terpisahkan oleh kata-kata Jameela yang menyakitkan...
Setelah memeluk Afan, Devita melepaskan pelukannya dan berpaling kepada Mala yang duduk di sebelahnya.
"Mala, apa yang elo pikir tentang Jameela?" tanya Devita, dengan suara yang pelan.
Mala menggelengkan kepala. "Gue gak tahu, Dev. Tapi gue tahu bahwa Jameela gak pernah suka kalau lo dan Afan bersama."
Devita mengangguk. "Gue juga tahu. Tapi gue gak akan peduli. Gue cuma mau bersama Afan."
Mala tersenyum. "Gue senang lo berdua bersama, Dev. lo dan Afan udah cocok."
Devita tersenyum kembali. "Terima kasih, Mala. Lo selalu menjadi teman yang baik."
Rakha, yang duduk di sebelah Mala, juga ikut berbicara. "Iya, Dev. Kita semua mendukung lo dan Afan."
Devita merasa lega dan bahagia mendengar kata-kata teman-temannya. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi Jameela yang licik...
Hari-hari berikutnya, Jameela semakin sering mengganggu Devita dan Afan. Ia selalu mencoba untuk memisahkan mereka berdua, tapi Afan selalu tetap setia pada Devita.
Suatu hari, saat Devita sedang berjalan di koridor sekolah, Jameela tiba-tiba muncul di depannya.
"Devi, gue mau bicara Sama lo," kata Jameela, dengan suara yang dingin.
Devita merasa tidak nyaman, tapi ia tidak ingin menunjukkan ketakutannya. "Apa yang lo mau bicarakan?" tanya Devita, dengan suara yang tegar.
Jameela tersenyum sinis. "Gue mau ngasih tau elo kalau Afan gak akan selalu bersama lo. Suatu hari, dia bakal ninggalin lo."
Devita merasa terganggu dengan kata-kata Jameela, tapi ia tidak ingin menunjukkan bahwa ia terpengaruh. "Gue gak percaya sama ucapan lo, Jameela," kata Devita, dengan suara yang tegas...
Jameela merasa terganggu dengan jawaban Devita. Ia tidak suka melihat Devita yang tidak terpengaruh oleh kata-katanya.
"Lo gak percaya sama gue?" tanya Jameela, dengan suara yang meninggi. "Gue bakal membuktikan kalau Afan gak akan selalu bersama lo."
Devita merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Ia tidak tahu apa yang Jameela rencanakan, tapi ia tahu bahwa ia harus siap menghadapi apa pun.
"Apa yang lo rencanakan, Jameela?" tanya Devita, dengan suara yang tegar.
Jameela tersenyum sinis. "Gue akan membuat Afan melihat kalau lo itu gak pantas buat dia. dan gue akan buat dia ninggalin lo."
Devita merasa terkejut dengan kata-kata Jameela. Ia tidak tahu apa yang Jameela akan lakukan, tapi ia tahu bahwa ia harus melindungi hubungannya dengan Afan...
Jameela berjalan menjauh, meninggalkan Devita yang merasa khawatir. Devita tidak tahu apa yang Jameela akan lakukan, tapi ia tahu bahwa ia harus siap menghadapi apa pun.
Saat Devita kembali ke kelas, ia melihat Afan yang sedang berbicara dengan teman-temannya. Ia tersenyum dan berjalan menuju ke arah Afan.
"Afan, aku mau ngomong sama kamu," kata Devita, dengan suara yang pelan.
Afan menatap Devita dengan khawatir. "Ada apa, sayang?" tanya Afan.
************
Hay guysss, gimana bab kali ini?
Pantengin terus ceritanya. Maaf ya aku baru update sekarang baru dapat ide buat lanjutin ceritanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN-
RomantikMenceritakan seorang ketos cuek yang jatuh hati kepada seorang gadis cantik bernama Serly Devita Arabella seorang anak baru disekolah afan sang ketos. Akan kan afan bisa mendapatkan hati devita atau bahkan dia tidak bisa mendapatkan hati anak baru...
