bab 101

136 21 1
                                        

Kos Devita, Jakal, Yogyakarta. Jam 21.43.

"...tulang manusia ada 206, Dev. Udah aku bilangin 5x.."

Suara Afan dari laptop bikin Devita ngerucutin bibir. Dia jidatnya ditempelin ke meja, buku anatomi kebuka tapi nggak masuk otak. "Bodo. Kamu aja sana ngitung semen."

Afan ketawa. Di layar, dia pake kaos putih, rambut acak-acakan, kipas angin muter kenceng di belakang. Background tembok kos yang ditempelin foto angkatan sekolah.

"Enak aja. Gini-gini aku Teknik Sipil, calon orang kaya. Nanti kamu lagi yang minta bikinin rumah."

"Emoh. Desainnya kotak semua, nggak estetik." Devita nyengir.

Obrolan receh. Obrolan tiap malem. Obrolan yang bikin kangennya kebayar meski kuliah beda fakultas. UGM kecekat. Tapi rasanya jauh kalo nggak ketemu sehari.

Devita mau bales lagi, tapi...

TING.

Notifikasi. Grup Alumni Geng Berisik.

Viona: [mengirim foto]

Devita reflek klik.

Dunia berhenti.

Foto itu...

Ranjang rumah sakit. Cat tembok putih. Selang infus. Selang oksigen. Badan kurus, kulit pucat, kepala plontos. Tapi senyum.

Dika.

Dika Mahendra.

Dan chat Viona di bawahnya nendang ulu hati Devita lebih keras dari apapun.

Viona: Guys... Dika udah nggak ada. Tadi subuh. Leukemia stadium akhir dari kelas 10 :( Mama Dika baru ngabarin. Bilangnya Dika nggak mau ngerepotin kita. Dia minta maafin kalo ada salah. Pemakaman besok siang di Jogja.

Prang.

HP Devita jatuh. Layarnya ngadep atas, masih nyala, masih nunjukin foto Dika.

Di laptop, Afan langsung panik. "Dev? Devita? Sayang? Kok diem? Dev! Kenapa?"

Devita nggak jawab. Dia nggak bisa napas. Dadanya sesek. Kayak ada beton ditumpuk di atasnya.

Leukemia stadium akhir dari kelas 10.

Kelas 10.

Waktu Dika deketin dia. Waktu Dika nganter ke Rumah sakit. Waktu Dika masangin helm. Waktu Dika mundur.

"Gue mundur, Dev. Gue nggak mau jadi alasan lo sama Afan rusak."

Bukan karena kalah.

Bukan karena nggak cinta.

Tapi karena dia tau... umurnya nggak panjang.

"Devita!" Suara Afan makin kenceng. "Ngomong sama aku! kenapa?"

Devita gemeter ngambil HP dari lantai. Tangannya dingin. Dia arahin kamera ke chat Viona.

Afan di layar diem. Matanya baca cepet. Dari Dika udah nggak ada sampe Leukemia stadium akhir.

Wajah Afan berubah. Tawa 3 detik lalu ilang total. Rahangnya keras. Matanya merah.

"Fan..." Suara Devita pecah. Cuma satu kata itu, terus jebol.

Dia nangis. Nggak ada suara. Cuma air mata deres, bahu naik-turun, napas tersengal.

"Dev, tarik napas." Suara Afan geter. Dia panik, tapi maksa tenang. "Tarik napas dulu. Liat aku. Liat aku, sayang."

Devita ngangkat muka. Matanya bengkak, hidung merah, muka ancur. "Aku... Aku jahat ya, Fan? Aku pernah benci dia. aku marah dia tiba-tiba ingkar janji. Gara-gara masalah aku sama dia kita berantem sebulan. Padahal... padahal dia sakit. Dia sekarat, Fan. Dan aku nggak tau apa-apa."

Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN- Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang