bab 40

1K 63 7
                                        

Saat mereka menikmati makanan dan minuman, Afan memandang Devi dengan mata yang penuh cinta. "Aku  bahagia banget hari ini, sayang. Aku memenangkan pertandingan dan aku memiliki kamu di sampingku," katanya dengan lembut.

Devi tersenyum dan memandang Afan dengan mata yang penuh cinta juga. "Aku juga bahagia banget, sayang. Aku sangat bangga sama kamu dan aku sangat  mencintai kamu," katanya.

Saat Afan dan Devi sedang menikmati waktu bersama mereka di kantin, tiba-tiba Afan merasa tidak enak badan. Dia merasa hidungnya berdarah dan tiba-tiba mimisan.

Devi yang duduk di sebelah Afan langsung panik dan bingung. "Sayang, kamu kenapa?" katanya sambil memegang tangan Afan.

Afan mencoba untuk berbicara, tapi darah yang keluar dari hidungnya membuatnya sulit untuk berbicara. Devi langsung mengambil sapu tangan dan mencoba untuk menghentikan darah yang keluar dari hidung Afan.

"Sayang, kamu harus ke UKS sekarang juga" kata Devi sambil membantu Afan berdiri.

Afan mencoba untuk berjalan, tapi dia merasa lemah dan pusing. Devi langsung memeluknya dan membantunya berjalan ke UKS.

Devi membantu Afan berjalan ke UKS dan langsung meminta bantuan dari petugas kesehatan. Afan duduk di tempat tidur dan petugas kesehatan langsung memeriksa kondisinya.

"Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya petugas kesehatan pada Afan.

Afan mencoba untuk berbicara, tapi dia tidak ingin Devi tahu tentang penyakitnya. "Saya cuma... Saya hanya kecapean saja," kata Afan dengan lemah.

Petugas kesehatan memandang Afan dengan curiga, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. "Baiklah, saya akan memberikan kamu obat untuk menghentikan mimisan," kata petugas kesehatan.

Devi memandang Afan dengan khawatir, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut tentang kondisi Afan. "Aku bakal menunggu kamu di luar," kata Devi sebelum keluar dari ruangan.

Afan merasa lega karena Devi tidak tahu tentang penyakitnya. Tapi, dia juga merasa bersalah karena tidak jujur dengan Devi.

Di luar. Devita di hampiri oleh sabahat-sahabat nya.

"Dev, afan kenapa" tanya mala

"Gak tau, dia tiba-tiba mimisan dan gue panik dong liat dia sakit gitu" jawab devita dengan khawatir

"Iya gue paham" mala langsung memeluk devita

Mala melepaskan pelukan nya dengan  devita "Bentar lagi jam masuk, lebih baik lo sama afan izin aja" ucap mala

"Iya tuh Dev, biarin afan istirahat dulu, nanti kalau bel, kalian langsung pulang aja" ucap violetta

"Okey" jawab devita

"Keadaan afan nya gimana Dev" tanya eby dan rakha

"Dia gak papa, cuman ya gitu, dia mimisan, dan gue khawatir" jawab devita

"Syukur deh kalau gitu"

Saat mereka masih berbicara bel masuk berbunyi, mala dan yang lainnya pun pamit untuk masuk kelas. Dan meninggalkan devita.

Afan duduk sendirian di UKS, menunggu petugas kesehatan selesai memberikan obat kepada pasien lain yang sedang sakit juga. Saat itu, Afan mengambil kesempatan untuk minum obatnya sendiri.

Dia mengeluarkan botol obat dari tasnya dan meminumnya dengan cepat. Afan merasa lega karena bisa minum obatnya tanpa Devi mengetahuinya.

Setelah minum obat, Afan merasa lebih baik dan bisa bernapas lebih lega. Dia berharap bahwa obatnya bisa membantu mengontrol penyakitnya dan tidak membuatnya terlalu lemah.

Saat itu, petugas kesehatan kembali ke ruangan dan memeriksa kondisi Afan. "Kamu sudah lebih baik?" tanya petugas kesehatan.

Afan mengangguk. "Iya, saya sudah lebih baik. Terima kasih," kata Afan dengan senyum.

Petugas kesehatan tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, saya pamit.  jangan lupa untuk istirahat dan tidak terlalu capek," kata petugas kesehatan.

Devi masuk ke ruang UKS dan langsung menghampiri Afan. Ia melihat Afan terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Devi langsung meluk Afan dengan khawatir.

"Afan, kamu sakit ya? Aku khawatir sama kamu," Devi berkata dengan suara yang lembut.

Afan tersenyum lemah dan memeluk Devi kembali. "Aku baik-baik saja, sayang. Jangan khawatir."

Devi memandang Afan dengan mata yang penuh kasih sayang. "Aku gak bisa gak khawatir, sayang. Aku cinta kamu."

Afan tersenyum dan memeluk Devi lebih erat. "Aku juga cinta kamu, sayang. Kamu selalu ada untuk aku, dan itu membuat aku sangat bahagia."

Devi memandang Afan dengan mata yang berbinar. "Aku akan selalu ada untuk kamu, Afan. Kamu adalah segalanya bagi aku."

Afan dan Devi berpelukan dalam diam, menikmati kebersamaan mereka. Suasana di ruang UKS menjadi lebih hangat dan nyaman dengan kehadiran mereka berdua.

Setelah beberapa saat berpelukan, Devi memisahkan diri dari Afan dan memandangnya dengan mata yang penuh kasih sayang.

"Afan, kamu harus istirahat lebih banyak, ya? Aku gak mau kamu sakit lagi," Devi berkata dengan suara yang lembut.

Afan mengangguk dan tersenyum. "Aku akan selalu istirahat, sayang. Aku janji."

Devi tersenyum kembali dan memeluk Afan sekali lagi. "Aku akan selalu menjagamu, Afan. Kamu gak perlu khawatir."

Devi memeluk Afan lebih erat dan membenamkan wajahnya di bahu Afan. Afan merasa nyaman dengan kehadiran Devi dan merasa bahwa dia tidak sendirian.

"Sayang?" Devi berkata dengan suara yang lembut.

"Apa, sayang?" Afan menjawab dengan suara yang lemah.

"Jangan pernah meninggalkan aku, ya?" Devi berkata dengan suara yang penuh harapan.

Afan tersenyum dan memeluk Devi kembali. "Aku gak akan meninggalkan kamu, sayang"

Devi tersenyum dan memandang Afan dengan mata yang berbinar. "Aku cinta kamu, sayang," katanya dengan suara yang lembut.

Afan tersenyum kembali dan memeluk Devi lebih erat. "Aku juga cinta kamu, sayang," katanya dengan suara yang penuh kasih sayang.

Mereka berdua berpelukan dalam diam, menikmati kebersamaan mereka. Suasana di ruang UKS menjadi lebih hangat dan nyaman dengan kehadiran mereka berdua.

Tiba-tiba, Afan berbicara dengan suara yang lembut. "Sayang?"

"Apa, sayang?" Devi menjawab dengan suara yang lembut.

"Aku ingin kamu tetap di sini dengan aku," Afan berkata dengan suara yang penuh harapan.

Devi tersenyum dan memeluk Afan lebih erat. "Aku gak akan pernah meninggalkan kamu, Afan. Aku akan selalu di sini untuk kamu," katanya dengan suara yang penuh kasih sayang.

Afan tersenyum kembali dan memandang Devi dengan mata yang berbinar. "Aku sangat bahagia memiliki kamu, Dev," katanya dengan suara yang lembut

                        *************
                     Hay-hay semuaa.
              Gimana bab kali ini suka?
           Jangan lupa vote and komen ya.
       Pantengin terus cerita-cerita aku
           jumpa lagi di bab selanjutnya        
                           Babayy❤👋🏻

Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN- Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang