bab 96

239 40 13
                                        

1 Bulan Kemudian.

Lonceng sekolah bunyi. Bukan lonceng masuk, tapi lonceng pengumuman libur panjang. Ujian akhir beres. Nilai aman. Nggak ada yang remed.

Afan nutup loker pelan. Seragamnya udah agak longgar. Sebulan terakhir dia fokus ngejar materi ketinggalan + gym lagi. Badannya udah balik. Luka jahitan udah jadi garis putih tipis.

"Fan, ke kantin dulu nggak?" Eby nongol di sebelah.

Afan geleng. "Gue langsung balik. Ada perlu."

Bohong. Dia cuma males. Karena meja pojok kantin itu, sekarang cuma diisi dia, Eby, Viona, sama Rakha, Mala.

Nggak ada Devita.

Flashback sebulan terakhir.

Afan keluar Rumah sakit beberapa setelahnya. Nggak ngomong apa-apa ke Devita. Devita dateng ke rumah 2x Afan cuma bilang "Aku nggak apa-apa, kamu silahkan fokus buat ujian akhir aja"

Dika? Abis nganter Devita hari itu, dia langsung chat Afan: Maaf, Fan. Gue kelewat batas. Gue bakalan menjauh dan gak akan munculin diri didepan devi lagi.

Sejak itu Dika nggak pernah ada di tongkrongan biasa. Kalo papasan sama Devita di sekolah, cuma anggukan yang dia berikan.

Devita egois? Iya. Karena setelah Afan sembuh, ia malah denial dengan perasaan sendiri karena ada nya Dika dihidupnya dan membuatnya berpikir untuk melepas Dika dari hidupnya. Dan bahkan ia ngerasa Afan yang ngejauh duluan. Sedangkan Afan ngerasa Devita yang nggak mau jelasin. Sama-sama nunggu, sama-sama diem. Akhirnya renggang.

Minggu Pertama Libur. Mereka merayakan nya Dirumah Viona.

Ulang tahun Viona yang ke-18. Temanya garden party. Kecil-kecilan, cuma teman-teman dekatnya juga teman satu kelas.

Afan datang telat. Sengaja. Biar nggak ketemu Devita di gerbang.

Pas masuk halaman belakang, semua udah kumpul. Viona lagi tiup lilin. Rakha ngerekam. Eby tepuk tangan. Mala... lagi nata piring.

Dan Devita duduk paling pojok. Sendirian. Nggak ada Dika di sebelahnya.

Mata Afan sama Devita ketemu sedetik. Canggung. Devita senyum kaku. Afan bales angguk doang. Terus buang muka.

"Fan! Sini woi!" Rakha narik Afan duduk. "Telat lo. Kena hukuman."

Afan ketawa dipaksa. Duduk di antara Rakha sama Eby. Depan persis sama Devita, tapi kehalang meja.

Mala nyamperin bawa minuman. Naroh di depan Afan. "Nih. Lo kan nggak suka yang manis banget."

Afan noleh. "Makasih, Mal."

Mala senyum, terus balik lagi ke Rakha. Nyender di bahu Rakha. Rakha langsung ngelus rambut Mala.

Satu bulan ini Mala lebih manja dan fokus ke hubungan nya dengan Rakha. Semenjak Afan sembuh, Mala pelan-pelan ngurangin intensitas dengan Afan. Katanya ke Viona: "Tugas gue jagain dia udah kelar. Dia udah bisa lari lagi. Jadi gue gak perlu khawatir buat kehilangan dia."

Mala masih perhatian. Tapi porsinya pas. Gak ada yang berlebihan, karena dia tahu Afan udah balik seperti sediakala.

Afan lega. Jujur. Karena dia sayang Mala, tapi sebagai sepupu. Dan dia nggak mau Rakha salah paham, karena mala ngasih perhatian lebih ke dirinya.

Acara lanjut. Makan, ngobrol, main truth or dare.

Giliran Devita kena dare. Viona yang ngasih.

"Gue tantang lo... samperin orang yang paling lo kangenin sebulan ini, terus ngomong." Viona senyum jahil, tapi matanya ngelirik ke Afan.

Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN- Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang