Epilog

131 24 5
                                        

Yang Pergi, Dan Yang Tinggal...

3 Bulan Setelah Pemakaman Dika. Jogja.

Langit Jogja lagi biru banget. Nggak ada mendung. Nggak ada hujan.

Kos Devita rame. Bukan karena anak-anak nongkrong. Tapi karena kardus.

"Kiri dikit, Fan! Nanti nabrak lemari!" Devita ngarahin Afan yang ngangkat kardus paling gede.

Afan ngos-ngosan. "Ini isinya apaan sih? Batu? Kamu mau pindahan apa mau bangun candi?"

"Buku anatomi! Berharga tau!" Devita ketawa, terus bantu dorong kardus dari belakang.

Hari ini Devita resmi pindahan. Dari kos Jakal ke kos baru di Sleman. 5 menit dari kos Afan.

Alasannya? "Biar gampang belajar bareng. Efisien." Kata Devita ke mama nya.

Alasan aslinya? Malem-malem abis pemakaman Dika, Devita nggak bisa tidur sendiri. Tiap merem, kebayang Dika di ranjang rumah sakit. Kebayang nisan.

Dia chat Afan jam 2 pagi: Fan, boleh ke kos nggak? aku takut.

Afan dateng 10 menit kemudian, bawa bantal. Nggak ngomong apa-apa. Cuma gelar tiker di lantai kos Devita, tidur di bawah. Jagain.

Sebulan kayak gitu. Sampe akhirnya mama Devita nyerah: "Udah, pindahan aja deketan. mama lebih tenang kalo ada Afan."

Jam 4 Sore. Kos Baru Beres.

Lima orang selonjoran di lantai. Kardus udah dibongkar. Mi instan udah diseduh.

Viona, Eby, Rakha, Mala dateng bantuin. Sekalian reuni kecil.

"Gila, kos lo estetik banget, Dev," Mala muter-muter. "Ada balkonnya. Bisa buat nongkrong."

Rakha langsung gelar tikar di balkon. "Fix, markas baru kita di sini."

Eby ngecek kulkas. "Anjir, kulkas dua pintu. Afan yang beliin?"

Afan nyengir, nimpuk Eby pake bungkus mi. "Sewa patungan. Jangan fitnah."

Devita ngeluarin sesuatu dari tas. Pigura. Ukuran 10R.

Isinya foto kelulusan mereka. Yang diedit. Berenam. Dika di tengah, nyengir, tangannya ngerangkul bahu Afan sama Devita.

Hening sebentar.

Viona yang pertama pecah. "Anjir... lo cetak, Dev?"

Devita angguk. Dia naroh pigura itu di meja belajar, persis di depan kursi. "Biar tiap gue belajar, inget... gue nggak boleh males. Gue harus ingat kalau gue punya kalian semua, dan gue mau jaga titipan Dika buat gue selalu bahagia."

Afan diem. Terus nyamperin Devita, rangkul bahunya dari samping. Nggak ngomong. Tapi genggamannya ngomong: Gue ada. Kita sama-sama jaga itu.

Mala nangis. Pelan. Rakha ngusap punggungnya. "Udah, Mal. Dika pasti seneng liat kita gini. Kumpul lagi. Gak ada pertengkaran lagi."

Malem. Jam 9. Balkon Kos Devita.

Tinggal Devita sama Afan. Yang lain udah pulang.

Mereka duduk di lantai balkon, nyender ke tembok. Di depan mereka, lampu kota Jogja gemerlap. Adem.

Devita nyender ke bahu Afan. Nggak ngomong apa-apa dari tadi.

Afan mainin jari Devita. "Berat ya?"

Devita angguk. "Tiap hari. Tapi... makin lama makin bisa aku bawa. Kayak yang kamu bilang. Kita harus bahagia. Dua kali lipat."

Afan nyium pucuk kepala Devita. "kamu udah lakuin itu. Tadi kamu ketawa pas Eby ngeledek. Tiga bulan lalu, kamu nggak bakal bisa."

Devita diem. Terus dia nengok, natap mata Afan. "Fan."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 20 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN- Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang