bab 100

222 32 5
                                        

2 Bulan Setelah Study Tour. Kelas 12 Semester 1.

"Dev, contekan MTK!" Viona nyodorin kertas kecil dari belakang.

Devita nerima, nyelipin di bawah LKS. Di sebelahnya, Afan pura-pura nggak liat, tapi kakinya nendang pelan kaki Devita di bawah meja. "Bahaya"

Devita nyengir, bales nendang. Balas-balasan kaki di bawah meja itu udah jadi bahasa baru mereka sejak study tour.

Bel istirahat bunyi.

"Aku ke kantin dulu. Nitip tas." Devita berdiri, nyaut handuk kecil di tas.

Afan langsung berdiri juga. "Bareng."

"Nggak usah. Kamu lanjut ngerjain fisika gih." Devita dorong bahu Afan biar duduk lagi. "Nanti aku bawain es teh."

Afan nurut, tapi narik pergelangan Devita dulu sedetik. "Jangan lama-lama. Nanti gue jemput."

Eby yang liat dari belakang langsung muntah gaya. "HOEK. Gula gue naik, Cuy."

Rakha ngelempar penghapus ke kepala Eby. "Makanya jangan liat orang bucin."

Mala udah nggak malu lagi. Dia duduk di paha Rakha pas jam kosong, nyuapin Rakha risol. Apalagi Status mereka udah jalan 1 tahun lebih. Solid. Nggak ada tuh drama "sepupu nempel" lagi.

Geng utuh. Meja kantin rame. Nggak ada bangku kosong.

Cukup. Nggak ada yang kepo lebih jauh.

Try Out Pertama.

Devita stress. Nilai TO-nya jeblok. Matematika 45. Fisika 50.

Dia nangis di perpus, di pojok, di antara rak buku sejarah.

Afan nyusul. Bawa dua kotak susu coklat sama tisu.

"Jangan nangis. Jelek." Afan duduk di samping Devita, nyodorin susu.

Devita nyedot ingus. "Aku bego, Fan. Aku nggak bakal lolos SNBP."

"Siapa bilang?" Afan buka susu satunya, minum. "Nilai TO aku juga ancur. MTK 55. Kita sama-sama bego. Impas."

Sebenernya nilai afan tidak pernah anjlok hanya saja ia tidak ingin devita sedih sendiri dan merasa dirinya bego.

Devita ketawa di tengah nangis. "Bego kok bangga."

"Bangga lah. Bego bareng kamu." Afan nyolek jidat Devita. "Denger. Mulai besok, tiap pulang sekolah kamu ke rumah aku. Kita belajar bareng. Aku ajarin MTK, kamu ajarin aku Biologi. Deal?"

Devita diem. Matanya masih sembab. "Emang kamu mau? Nggak ganggu?"

Afan nyengir. "Ganggu. Ganggu banget. Tapi aku kangen diganggu kamu sebulan waktu itu. Jadi sekarang gantian."

Sejak hari itu, rumah Afan jadi basecamp. Meja belajar Afan penuh sama coretan Devita. Dinding kamar Afan ditempelin rumus sama post-it tulisan Devita: _Semangat, Fan! Tinggal 200 hari lagi!_

Mami Afan tiap sore bikin pisang goreng. Alasannya: "Biar otaknya nggak gosong."

Padahal aslinya: Biar ada alasan ngintip anaknya sama Devita belajar beneran atau pacaran doang.

Malam Tahun Baru. Rumah Viona.

Geng kumpul. Bakar jagung. Kembang api.

Jam 23.55, Viona ngide. "Guys, bikin resolusi!"

Eby: "Gue mau langgeng sampai kuliah"

Rakha: "Gue mau Mala makin sayang sama gue." Mala langsung nampar pelan muka Rakha.

Mala: "Gue mau kita berlima kuliah di kota yang sama."

Giliran Devita. Dia liat Afan. Afan liat dia balik.

Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN- Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang