Setelah teman-temannya pamit pulang, Devita memilih untuk tetap berada di samping Afan. Mereka berdua duduk berdua di ruangan rumah sakit yang kini lebih sunyi, hanya suara mesin medis yang bekerja di latar belakang.
"Aku seneng banget kamu udah lebih baik, Afan," kata Devita, memegang tangan Afan dengan lembut.
Afan tersenyum lemah, tapi matanya bersinar ketika melihat Devita. "Aku juga seneng kamu di sini, sayang. Aku merasa lebih tenang kalau kamu ada di dekat aku."
Mereka berdua mengobrol ringan, membicarakan hal-hal kecil yang terjadi di sekolah. Afan masih terlihat lelah, tapi dengan Devita di sampingnya, dia merasa lebih nyaman.
"Apa yang kamu mau sekarang?" tanya Devita, merapikan selimut Afan.
Afan berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku mau pulang... dan bisa jalan-jalan lagi sama kamu."
Devita tersenyum, "Itu pasti bisa, Afan. Kamu harus fokus sama pemulihan dulu, ya."
Afan mengangguk, merasa lega dengan kehadiran Devita. Mereka berdua duduk dalam keheningan yang nyaman, menikmati kebersamaan meskipun berada di ruangan rumah sakit.
Setelah beberapa saat, Afan mulai merasa lelah lagi dan akhirnya tertidur dengan tenang di samping Devita. Devita tetap memegang tangan Afan, menatapnya dengan penuh kasih sayang. Dia merasa lega melihat Afan yang semakin membaik, meskipun masih dalam proses pemulihan.
Ketika Afan tidur, Devita mengeluarkan ponselnya dan membalas pesan dari teman-temannya yang menanyakan kabar Afan. Dia juga mengirimkan foto Afan yang sedang tidur dengan caption "Lagi tidur, makin baik kondisinya😊".
Setelah membalas pesan, Devita kembali menatap Afan dengan senyum. Dia merasa bersyukur bisa berada di samping orang yang dicintainya saat-saat seperti ini.
Tiba-tiba, Metta masuk ke ruangan dengan membawa makanan ringan dan minuman untuk Devita. "Devita, sayang, kamu pasti lapar. Makan dulu ya," kata Metta dengan senyum hangat.
Devita tersenyum, "Makasih banyak, mami. devi gapapa kok."
Metta mengangguk, "Kamu emang anak yang baik. mami senang melihat kamu peduli sama Afan seperti ini."
Devita merasa sedikit tersipu, tapi dia merasa bahagia karena bisa menjadi bagian dari proses pemulihan Afan.
Setelah Devita selesai makan dan minum, dia kembali duduk di samping Afan yang masih tidur. Metta memberikan isyarat untuk tidak membuat kebisingan agar Afan bisa tidur nyenyak.
Devita mengangguk dan duduk dengan tenang, memperhatikan Afan dengan penuh kasih sayang. Dia merasa bahagia bisa berada di samping orang yang dicintainya, meskipun dalam situasi seperti ini.
Setelah beberapa jam, Afan terbangun dan terlihat lebih segar. "Sayang, aku lama ya tidurnya?" tanya Afan dengan suara yang lebih jelas.
Devita tersenyum, "Sekitar beberapa jam. Kamu pasti butuh istirahat banyak."
Afan mengangguk, "Iya, aku merasa lebih baik sekarang. makasih ya, sayang, udah selalu nemenin aku terus."
Devita memegang tangan Afan, "Aku selalu ada untuk kamu, Afan. Kamu nggak sendirian."
Mereka berdua mengobrol lebih lanjut, membicarakan rencana untuk masa depan ketika Afan sudah pulih sepenuhnya. Devita merasa bahagia melihat Afan yang semakin membaik dan optimis.
Setelah beberapa hari, Afan semakin membaik dan sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit. Devita selalu ada di sampingnya, nemenin dia dan bantu dia melakukan terapi fisik. Afan udah mulai nempel lagi sama Devita, dan Devita juga sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN-
RomanceMenceritakan seorang ketos cuek yang jatuh hati kepada seorang gadis cantik bernama Serly Devita Arabella seorang anak baru disekolah afan sang ketos. Akan kan afan bisa mendapatkan hati devita atau bahkan dia tidak bisa mendapatkan hati anak baru...
