Tawa Dika ngeredain canggung 2 detik yang lalu. Tapi pipi Devita tetep anget.
Dika diem bentar. Terus suaranya jadi lebih pelan. "Dev..."
"Hm?" Devita nggak nengok.
"Gue seneng deh kalo suasana kayak gini. Cuma kita berdua. Nggak ada yang ribut, nggak ada yang ngatur."
Devita akhirnya nengok. Dika natap jendela, tapi senyumnya tulus. Nggak ada maksud aneh-aneh.
"Gue juga..." Devita jujur aja. "Sama lo tuh gue nggak capek, Dik. Nggak perlu mikir mau ngomong apa. Mau diem juga enak."
Dika nengok balik ke Devita. "Nah itu. Nyaman kan?"
"Iya. Nyaman banget." Devita ngangguk. Beneran. Nggak ada perasaan yang terlihat aneh. Cuma rasa aman yang udah dia kenal dari lama. "Makanya gue nggak mau kehilangan lo, Dik. Walaupun kita cuma temen."
Kalimat itu bikin Dika napasnya ketahan sedetik.
Dia nggak jawab 'iya' atau 'nggak'. Cuma geser kursinya lebih deket ke ranjang Devita. Jaraknya sekarang tinggal sejengkal.
"Gue bakal berusaha buat selalu ada dev." Dika nyender juga, sama kayak Devita. "Selama lo masih butuh temen buat ngobrol nggak jelas.. gue ada."
Devita senyum. Lega. "Janji ya?"
"Janji." Dika ngacungin kelingking.
Devita ketawa, terus ngaitin kelingkingnya juga. "Oke. Janji temen."
Tangan mereka lepas. Tapi rasanya... udah cukup.
Hening lagi. Kali ini hening yang enak. Cuma ada suara AC sama mereka berdua yang sama-sama nggak mau suasana ini bubar.
"Eh, tau nggak..." Dika buka suara lagi, ngancurin diemnya. "Besok kalo lo pulang, gue anter ya. Nggak usah pake Afan. Gue aja."
Devita ngelirik. "Lah, berani?"
"Berani. Temen nganterin temen sakit pulang. Normal." Dika ngangkat bahu, tapi matanya nggak bohong.
Devita diem. Terus ngangguk pelan. "Iya... boleh."
Dia nggak mau ngelepas Dika.
______________
Di kamar Afan.
Ceklek.
Mami Rara masuk bawa semangka potong. "Masih belum tidur?"
Afan ketawa kecil. "Belum ngantuk, Mih."
Rara duduk di pinggir ranjang, nyuapin Afan sepotong. "Makan buah dulu. Biar seger."
Afan nurut. "Makasih Mih."
Mereka diem bentar. Cuma ada suara sendok kena piring.
"Devi udah tidur?" tanya Rara pelan, nggak ngeledek.
"Kayaknya udah. Tadi katanya mau istirahat." Afan jawab seadanya.
Rara ngangguk. "Iya. Bagus lah. Biar cepet pulang."
Jeda.
"Fan..." Rara mainin ujung selimut. "Mami cuma mau bilang... kamu istirahat ya. Jangan kebanyakan mikir."
Afan nengok. "Mikir apa?"
"Ya... tentang Devi." Rara senyum tipis. "Mami tau kamu sayang banget sama dia. Mami juga sayang sama Devi kok."
Afan agak lega denger itu. "Iya Mih. Makasih."
Tapi jauh di dalam hati Rara, ada rasa aneh. Dari tadi dia liat Devita lebih banyak sama Dika. Nemenin, ngobrol, ketawa. Sedangkan Afan anaknya, cuma bisa diem tanpa bisa mengungkapkan perasaan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketos Cuek Tapi bucinnn -DEFAN-
RomanceMenceritakan seorang ketos cuek yang jatuh hati kepada seorang gadis cantik bernama Serly Devita Arabella seorang anak baru disekolah afan sang ketos. Akan kan afan bisa mendapatkan hati devita atau bahkan dia tidak bisa mendapatkan hati anak baru...
