Kami masih setia menelusuri jalanan desa ini. Masih berusaha mencari Komandan dan kak Bagas. Kemana sebenarnya perginya dua orang itu? Sudah dari tadi kami keluar masuk rumah, tapi tidak juga bertemu dengan mereka. Jika bertemu nanti akan kupukul kepala mereka masing-masing.
Jalanan sudah sepi. Apakah mereka masih tetap ingin bersembunyi? Apakah mereka tidak ingin cepat pergi dari desa ini? Aaargh! Dimana mereka?!
Kami kali ini berbelok ke sebuah gang. Semoga saja mereka berdua ada di gang ini. Jika tidak ada, maka aku akan benar-benar teriak memanggil mereka.
Kulkas berbelok ke kiri, memasuki satu rumah yang tertutup rapat. Aku tidak ikut karena diminta untuk menjaga di luar saja oleh Kulkas. Mataku tak henti memperhatikan segala hal. Menelusuri samping dan belakang rumah sebab cemas akan ada hal mengerikan lainnya.
Tak lama Kulkas keluar, nihil, tidak ada siapa-siapa. Yang dia bawa malah satu batang kapak, satu parang dan beberapa pisau dapur.
"Bagusnya pakai yang mana?" tanyanya seperti anak kecil yang sedang memilih baju jalan.
"Pisau jangkauannya pendek. Kakak harus dekat banget sama mereka. Pisau bisa disimpan aja untuk jaga-jaga. Lagian kakak juga daritadi kan pegang pisau, kenapa malah ambil pisau lagi?"
"Gapapa untuk jaga-jaga." Dia menaruh pisau-pisau itu ke dalam tas. Lalu kembali padaku untuk mendengar pendapat lain.
"Kapak juga aku rasa sama aja. Walaupun gagangnya panjang, tapi yang tajam cuma ujungnya. Pilihan paling untung ya parang karena panjang dan semua bagiannya tajam, tapi kakak coba dulu deh dua-duanya. Mana yang nyaman dipakai."
Akupun seperti seorang ibu yang ikut memilih baju untuk anaknya.
Dia menyerahkan parang padaku lalu mulai mengayunkan kapak seolah-olah ada zombie di depannya. Selesai praktek dia mengangguk kecil kemudian beralih pada senjata lain. Selama mengayunkan parang, bisa kulihat wajahnya yang mengkerut.
"Jadi?" tanyaku tidak sabar.
"Kayaknya ...." Dia tidak menyelesaikan perkataannya. Ditimbang-timbangnya benda tajam itu ditangannya. Kesulitan untuk membuat keputusan.
Srak
?!
Kak.
Dia langsung mengerti setelah aku menghentikan tangannya. Kami lalu perlahan mendekati pohon jambu sambil terus melihat sana sini.
Aku tidak salah dengar. Suara tadi seperti suara sepatu yang terseret. Aku pasti tidak salah dengar.
Walaupun pohon ini tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan tubuh kami berdua, tapi untungnya rumah ini memiliki tumbuhan jalar di pagar rumahnya. Kami sedikit mengintip untuk melihat keadaan jalanan karena aku yakin suara tadi asalnya dari jalanan.
"Kamu dengar suara apa?"
Dia tidak dengar? Sepertinya dia sangat fokus pada pemilihan senjata sampai tidak mendengar suara tadi.
Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan aku menjawab, "suara se-."
Punggung manusia terlihat. Kulkas sedikit menarikku agar terus bersembunyi di balik pohon, tapi dengan kesadaran penuh aku menepisnya dan keluar dari persembunyian.
"Kak Bagas!"
Yang dipanggil terperanjat, sontak mengarahkan senapannya dan untung saja tidak menembak setelah tahu siapa yang meneriakinya.
Kulkas pun yang awalnya ingin menghentikanku ikut terdiam setelah tahu siapa yang aku panggil. Mereka berdua berjalan cepat mendekati satu sama lain, berpelukan lega sambil menepuk punggung satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
neWorld
Science FictionDunia baru yang lebih mengerikan. Bertahanlah, bagaimanapun caranya. ©Aytidajghost 2021 Don't copy! Babak 1 Start : 26 Juli 2021 End : 14 Agustus 2021 Babak 2 Start : 1 Desember 2021 End :
