48 ¦

57 4 4
                                        

Mobil ini besar, keras, tinggi dan dingin. Sampai-sampai si kecil langsung tertidur beberapa menit setelah kami memasukinya. Mobil ini juga luas, barang-barang kami tidak lagi menumpuk di bawah kaki dan kaki ku pun kini bisa bergerak bebas. Tidak ada lagi drama kaki kram dan tidak bisa telentang, hanya saja lantainya terlalu keras untuk tidur. Yang empuk dari keseluruhan mobil ini hanyalah kursinya. Aku menidurkan si bayi di kursi dan aku pun berbaring di kursi seberangnya. Sementara tiga orang lainnya berada di depan dengan Komandan yang menyetir.

Tidak tahu sudah seberapa jauh kami berjalan setelah meninggalkan rumah sakit, tapi kondisi daerah ini masih sama anehnya. Tidak ada manusia ataupun zombie.

Mobil terus melaju. Mereka bertiga diam saja di depan. Aku pun tenang melihat jalanan dari jendela. Walaupun harus bertumpu pada lutut untuk melihat keluar. Sesekali aku menengok, pada anak kecil yang sudah bangun. Dia terlihat sibuk ingin memakan selimutnya, tapi setelah itu menyerah dan berakhir menghisap tangannya. Sesekali dia tertawa, tidak tahu apa yang dia tertawakan. Apakah dia tertawa karena senang menghisap tangannya? Aku tidak mengerti. Biarkan saja lah dia bermain sendiri, yang terpenting dia tidak menangis.

Aku kembali melihat keluar. Melihat jalanan sepi dan pohon-pohon yang menjulang.

Oh!

Kami baru saja melewati tugu. Tugu apa itu? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.

"Itu tadi tugu apa kak?" tanyaku pada Kulkas, tapi dijawab oleh Komandan.

"Tugu selamat datang. Kita di Madiun."

Hooo. Madiun.

Kami sudah lumayan jauh dari Malang. Walaupun belum setengah jalan menuju Mabes, tapi setidaknya kami masih bisa terus jalan dan hidup.

"Kita dekat tol. Apa ga mau lewat tol aja ndan?" tanya kak Bagas.

"Mungkin aja tol di sini ga penuh kayak sebelumnya," lanjutnya mengira-ngira.

Ya itu mungkin saja, tapi jika dipikir dengan baik. Jalanan yang kami lewati ini sepi, tidak ada alasan kenapa jalanan ini sepi selain semua orang melewati tol. Kemungkinan tol sepi itu tidak mungkin dan kemungkinan jalanan ini sepi juga seharusnya tidak mungkin, tapi sekarang kami malah melaju tanpa henti. Jika mereka tidak berkumpul di tol lalu kemana orang-orang? Kenapa dua daerah yang kami lewati sangat sepi? Seperti sudah ditinggalkan sejak lama. 

Jika memang orang-orang sudah mengungsi. Di mana mereka berkumpul?

Perasaan ku semakin mengganjal.

Apakah ini yang dinamakan tenang sebelum badai?

Banyaknya manusia di negara ini tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Ratusan juta penghuni pulau Jawa ini dan mereka tidak terlihat? Yang benar saja!

"Kita cari jembatan," kata Komandan sedikit melajukan mobil yang sudah laju ini.

Aku melihat sekitar dan yang bisa kulihat hanyalah toko-toko yang tutup. Yaps sudah pasti, ini adalah jalanan alternatif tol. Seharusnya sangat tidak mungkin jalanan ini sepi. Kecuali orang-orang sudah mengungsi dan sekarang sedang berkumpul di satu titik. Pertanyaannya adalah di mana mereka sekarang?

Mobil semakin melaju. Aku pun tidak lagi mengintip di jendela, sedang memegang si bayi karena mobil yang semakin tidak terkendali.

Beberapa saat setelahnya mobil melambat lalu berhenti di depan pos polantas. Komandan melihat sebentar jalanan di samping pos. Mungkin sedang memikirkan akan masuk dengan mobil atau tidak.

Detik berikutnya mobil berbelok dan tak lama berhenti.

"Di depan ada jembatan," ungkap Komandan lalu turun dari mobil.

neWorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang