44 ¦

19 2 0
                                        

"Kamu ga suka anak kecil?"

Hahh. Berhentilah bertanya dan fokus saja pada jalanan sepi ini.

"Padahal kan kamu perempuan. Biasanya malah perempuan yang suka banget sama anak kecil."

Ingin rasanya ku jahit mulut manusia satu ini.

"Kamu beneran ga suka anak kecil?"

F CK!

"Sini," ucapku tanpa basa-basi mengambil anak kecil ini dari gendongannya lalu berjalan cepat mendahuluinya.

Sudah berapa kali dia terus bertanya dan sudah berkali-kali juga kukatakan aku bukannya tak suka anak kecil hanya saja sekarang bukan waktunya untuk suka atau tidak suka.

"Kenapa ga dari tadi?"

Wahh. Wahhhh! Orang ini benar-benar menguras kesabaranku.

Apa aku buang saja ya anak kecil ini?

"Aditya," panggil Kulkas.

Apa?! Mau apa?! Kau tadi setuju untuk membawa anak ini kan? Seharusnya kau saja yang menggendongnya! Kenapa sekarang malah diam?!

"Sini aku aja yang gendong."

...

"Di tanganmu ada parang. Mau gendong gimana?"

"Bisa kok. Sini aku aja."

...

"Udahlah fokus aja. Dia udah tidur gini ga usah diganggu."

Kulkas menyerah, tapi kini berjalan sedikit di belakangku. Sementara Komandan sudah berjarak di depan sana. Kak Bagas pula mendahuluiku dan berjalan di samping Komandan yang pincang.

Kami berjalan dalam diam. Aku terus saja melirik anak di gendonganku ini. Sesekali ku tepuk-tepuk pahanya saat ia bergerak. Takut dia terbangun dan menangis. Kulkas pula beberapa kali ingin mengambilnya, tapi aku tidak mau memberikannya.

Sudah jauh kami melangkah. Kini aku tidak lagi heran melihat jalanan yang sepi. Helikopter itu berhasil menciptakan efek domino yang hebat. Desa-desa ini benar-benar mati. Tidak ada manusia maupun hewan yang terlihat. Bahkan kendaraan pun tidak kulihat keberadaannya. Sepertinya kendaraan-kendaraan itu berkumpul di tol.

Tanganku tidak lagi pegal, tapi kini sudah mati rasa. Tangan kananku erat menggenggam pergelangan tangan kiri agar anak kecil ini tidak jatuh karena sudah tidak lagi bisa kurasakan tangan kiriku.

"Kak," panggilku pada Kulkas yang sudah sangat siap membantu.

"Cari kain dong."

"Kain?"

Aku mengangguk lalu mengedik dagu ke arah rumah berwarna putih. Kulkas tidak bertanya apa-apa, dia berlari cepat memasuki rumah membuat Komandan dan kak Bagas berhenti dan menanyaiku.

"Cari kain untuk gendongan."

Mereka berdua ikut menunggu. Menggunakan waktunya untuk beristirahat karena kami sudah satu jam berjalan tanpa henti. Selama satu jam itulah juga aku terus menggendong anak kecil ini.

Aku ikut duduk bersama mereka. Panas aspal tidak lagi kupikirkan ketika tanganku akhirnya bisa bernapas lega. Inilah surga dunia yang sebenarnya.

Tak lama Kulkas berlari keluar. Membawa segumpalan kain kotak-kotak dan polos. Disebarnya kain-kain di depanku, sepenuhnya menyerahkan pemilihan kain kepadaku yang akan terus menggendong makhluk kecil ini.

Aku mengambil kain polos yang sangat panjang karena aku tiba-tiba teringat dengan video youtube tentang gendongan bayi yang dibuat hanya dengan kain panjang. Semoga aku tidak salah membuatnya.

neWorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang