46 ¦

24 3 0
                                        

Tidak ada.

Tidak ada rombongan lain. Tidak ada manusia lain. Tidak ada siapa-siapa. Bahkan makhluk-makhluk mengerikan itu.

Matahari semakin tenggelam. Langit kembali berwarna oren dan kami masih berada di kota yang sama.

Mereka bertiga masih belum masuk ke mobil setelah beberapa menit yang lalu datang dan memberitahuku kondisi sekitar.

Bagaimana sekarang?

Rencana mereka tidak berhasil dan hari sudah semakin gelap. Tidak mungkin kami berjalan di malam hari. Aku tahu malam bisa saja lebih aman karena kami kemungkinan besar tidak akan terlihat karena gelap, tapi tetap saja masih banyak bahaya di luar sana selain makhluk-makhluk buruk rupa itu. Terlebih kami tidak memiliki peralatan tempur yang memadai. Senjata yang di pegang Komandan dan kak Bagas sepertinya sudah tidak ada amunisi. Tidak tahu kenapa mereka masih setia menentengnya. Sekarang kami hanya ada parang, kapak dan pisau pendek. Oh, mungkin masih ada sedikit amunisi dari pistol mereka. Cukup untuk menembak diri kami sendiri.

_W_

Kami bermalam.

Sedetik setelah matahari muncul Komandan membangunkan. Meminta kami bersiap karena di pagi yang cerah ini kami tidak akan membuang-buang waktu lagi dan harus melanjutkan perjalanan, dengan atau tanpa rombongan. Sepanjang malam kami masih menunggu kedatangan mereka, tapi sampai saat ini tidak ada juga tanda-tandanya. Ntah kami memang ditinggal oleh rombongan atau kami yang akan meninggalkan rombongan.

Diva, Yuni, Risma, tolonglah tetap hidup. Aku yakin kita akan bertemu lagi.

Aku mengangkat pelan bayi yang tertidur pulas ini. Tidak ingin membangunkannya karena aku tahu bagaimana berisiknya bayi saat baru bangun tidur. Mereka akan mencari induknya dan tidak akan diam sampai si induk datang memeluk mereka. Sekarang, dia sudah tidak ada ibu dan aku tidak ingin mendengarnya menangis.

Kami keluar dari mobil. Dinginnya pagi menusuk kulitku. Ku eratkan kain di tubuh dan memeluk si manusia lemah yang ada di dekapanku.

Lagi. Kami akan berjalan, lagi. Aku sampai bosan mengulang kata 'jalan'.

"Ndan maaf. Izin, disana ada toko sepeda listrik. Tokonya tutup, tapi mungkin masih ada beberapa sepeda di sana," jelas kak Bagas sebelum Komandan hampir memulai jalan panjangnya.

"Yang mana?" tanya Komandan.

Mereka berdua lalu berjalan ke belakang. Menuju toko yang cukup jauh dan terlihat sedang berusaha membuka pintunya. Pintu terbuka kemudian mereka masuk dan tak lama keluar membawa tiga sepeda listrik.

Sepertinya aku akan dibonceng oleh salah satu dari mereka dan tentu saja aku tahu siapa orang itu.

"Kamu akan kesusahan jika mengendarai sepeda sambil menggendong bayi. Jadi, kamu sama Angga saja."

Siap Komandan. Melihat kalian membawa tiga sepeda saja aku sudah tahu duluan apa yang akan terjadi tanpa harus diberitahu.

Kami mulai berjalan. Menyelip diantara kendaraan-kendaraan lain. Aku menikmati saja perjalanan ini. Melihat kanan kiri waspada dan terus menepuk juga menimang anak di tanganku.

Akhirnya sepeda naik ke jembatan dan penampakan mengerikan pun terlihat.

Mayat.

Dari dewasa sampai anak kecil bahkan bayi. Terombang-ambing di sungai. Tubuh-tubuh itu bergerak lambat mengikuti aliran sungai. Kini tidak hanya sampah yang mencemari sungai, tapi juga manusia-manusianya.

Melihat hal ini, aku jadi berpikir bahwa alam benar-benar mengerikan. Pertama, mereka memberikan virus, perlahan mematikan manusia-manusia di bumi. Sama halnya seperti manusia yang semakin mengerus, membotakkan dan menghancurkan bumi. Mereka membuat manusia-manusia itu tidak ada harga dirinya, nyawa manusia sangat tidak berharga di mata mereka. Lihatlah sekarang. Benda-benda yang setiap hari selalu menghembuskan polusinya, tidak bisa menyelamatkan mereka. Uang yang merupakan tuhan manusia pun tidak bisa menghidupkan mereka kembali. Semua dikembalikan ke alam dan hanya menjadi sampah-sampah yang tidak bisa di daur ulang.

neWorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang