45 ¦

18 2 0
                                        

Kurasa emosiku semakin tidak bisa dikendalikan. Beberapa menit yang lalu aku biasa saja, setelah itu bahagia dan sekarang aku merasa sedih.

Kulkas mendorong sepeda di belakangku dan kak Bagas menggendong bayi di depanku. Mereka tidak memarahiku karena berteriak, bahkan tidak menyalahkanku juga ketika si bayi tidak berhenti menangis. Mereka hanya diam saja. Aku yang malah merasa bersalah disini.

Komandan tegap berjalan di depan sana, kak Bagas terus mengelus punggung si bayi. Dia diam saja bersender tenang di pundak kak Bagas, seolah tau bahwa sekarang bukan saatnya untuk bersuara.

Aku akan menggendongmu nanti. Untuk sekarang tetaplah tenang di pundak ayah barumu.

Jalanan lurus ini masih terlihat sangat panjang. Aku menoleh ke arah sawah. Sejauh yang ku lihat, tidak ada tanda-tanda apapun, tapi aku cemas. Kupelankan jalanku agar bisa berdampingan dengan Kulkas karena tiba-tiba aku merasa takut.

"Kenapa?"

Aku menggeleng tidak ingin menjawab.

Kami terus berjalan. Berjalan dan terus berjalan. Tidak berhenti bahkan semenitpun. Jalanan ini sepi dan juga panjang. Hanya kami berlima dan sebuah sepeda yang berada di atasnya. Kakiku sudah melewati batasnya. Aku lelah, tapi tidak bisa dan tidak ingin berhenti. Ingin rasanya aku masuk ke salah satu rumah dan tidur di kasur empuknya.

Kami baru saja melewati warung nasi goreng dan bakso. Hahh. Aku rindu dengan dua makanan itu. Kapan ya kira-kira aku bisa makan bakso lagi? Dengan kuahnya yang panas, sambel yang banyak dan sedikit perasan jeruk nipis. Ugh! Aku jadi lapar.

"Aditya!"

Hah?! Dia mempercepat langkahnya. Mengejar Komandan yang sudah berlari menjauh.

Apa? Apa? Kenapa?

Kami berlari mengikuti Komandan sampai akhirnya berhenti di spbu.

Wahh di depan spbu ini juga ada yang jual bakso.

"Saya kira bakalan ada kendaraan di sini," ucap Komandan.

"Kita sudah tidak ada waktu lagi. Bisa jadi kita akan ditinggal oleh rombongan," lanjutnya terlihat kesal.

Sebenarnya, aku tidak mengerti kenapa kami harus berpisah seperti ini? Pertanyaanku masih sama, kenapa kami harus berpisah? Bukankah akan lebih aman jika terus bersama?

"Kak," panggilku pada Kulkas.

"Kenapa kita harus pisah-pisah kayak gini sih? Apa alasan yang sebenar-benarnya?"

Kulkas diam sebentar. Dilihatnya Komandan yang berkacak pinggang kesal lalu kembali padaku.

"Kami dapat info dari pak Purnomo ... banyak pengungsian yang tersebar di pulau Jawa." Dia berhenti sejenak, memperhatikan ekspresiku lalu lanjut berkata, "kami ga tau ada di daerah mana aja, makanya Komandan memutuskan untuk mencar."

Hah? HAH?!

"Jadi ... kita ... lagi nyari pengungsian yang ada di pulau Jawa?" Kulkas mengangguk, membuatku tambah kesal karena dia terlihat tidak sadar. "Pulau Jawa?!" tekanku dan dia masih mengangguk tolol.

"Nyari pengungsian di pulau Jawa yang bahkan kit– pak Purnomo sendiri! Ga tau dimana keberadaannya?"

Kulkas lagi-lagi mengangguk. Aku tidak tahu lagi mau berkata apa. Pengungsian? Di pulau Jawa?! Dia tahu kan sebesar apa pulau ini?! Bagaimana kami bisa mencari pengungsian itu? Dan juga tidak mungkin rombongan lain mencari sampai keluar Kediri disaat titik berkumpul berada di Kediri. Dia mengatakan pulau Jawa, tapi kemungkinan kami hanya mencari di sekitaran Kediri. Bagaimana jika pengungsian itu berada di kota lain? Kabupaten lain? Aarghh! Dimana sebenarnya pengungsia– oh!

neWorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang