MARK & HAECHAN

472 19 3
                                        

4 tahun berlalu, sejauh ini kehidupan Jaemin dan Jeno sangat baik dengan putra mereka Jisung, anak itu telah tumbuh menjadi begitu tampan dan pintar sejak dini, tidak heran sebagai keturunan dari Lee Jeno.

Jeno sendiri telah menerima hubungan antara ibunya dan Jaehyun, 3 tahun lalu Jaehyun dan Taeyong telah melangsungkan pernikahan mereka.

Banyak hal yang berubah, sebagai contoh renjun yang telah menghilang sejak terakhir kali bertemu Ten dirumah sakit, orang itu tak pernah terlihat lagi, bahkan sang kakak, Jaehyun, tak dapat menghubunginya sama sekali.

"Jen, Apa kata Daddy?" Tanya Jaemin seraya memotong-motong wortel, sementara suaminya, Jeno, tengah duduk di kursi meja makan mengawasi putranya yang bermain ponsel Jaemin.

Jaemin tengah memasak untuk putranya, Jisung ingin dimasakkan sup wortel untuk makan siangnya.

Jeno menatap istrinya, "Masih tidak ada petunjuk" jawabnya.

"Sebenarnya renjun kemana, aku sangat khawatir" ujar Jaemin seraya mengaduk sup.

"Jangan terlalu dipikirkan, sayang, sebenarnya, dulu renjun suka dengan sengaja mengganti nomor untuk menghindari dimarahi oleh Daddy jae aaasaat diluar, bisa saja renjun melakukan hal yang sama" jelas Jeno berusaha menghibur istrinya.

"Buna, ada telepon dari tante chanie" celetuk Jisung menyodorkan ponsel sang ibu.

"Sayang, ganti dulu" tutur Jaemin mengisyaratkan Jeno untuk menggantikannya memasak sup.

Jeno mengangguk dan mengambil alih memasak sup, sementara Jaemin menerima panggilan telepon dari Haechan.

"Chanie, ada apa?"

"Nana, tolong aku, aku di kantor polisi, pak Mark menangkapku dan tidak mau melepaskan aku, padahal aku sudah bilang aku tidak bersalah, aku tidak ingin mengganggu kakak ipar ku, tolong" ujar Haechan.

Jaemin sedikit tersentak, ia menatap suaminya membuat pria jangkung itu penasaran.

"Jangan terus berdalih jika kau bersalah!"

"Berapa kali aku harus jujur jika aku tidak bersalah?! Aku tidak tau apapun!"

"Jika kau tidak tau, mengapa kau ada disana dan terlibat dalam perkelahian?! Kau tau keributan apa yang kau buat di jalanan?! Patuh dan ikuti prosedur! Saya hanya ingin penjelasan dari kasus ini! Saya tidak ingin alasan acak mu!".

"Kau ini sengaja kan?!!"

"Diam!!"

Terdengar keributan yang seperti terjadi sangat parah antara Mark dan Haechan diseberang sana.

"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Jeno.

"Jen, ayo ke kantor polisi, sekarang juga" ucap Jaemin menatikan ponselnya dan memasukkannya ke saku celananya.

Jeno mematikan kompor gas kemudian menyusul Jaemin yang pergi lebih dulu seraya menggendong putranya, Jisung.

Dalam perjalanan menuju kantor polisi, Jeno menyempatkan untuk menanyakan situasi yang terjadi pada Haechan dan Mark saat ini.

"Mereka bertengkar sekarang, dan kedengarannya perdebatan mereka sangat serius, kamu tau sendiri bang Mark sangat tegas, aku yakin kamu tau apa yang aku khawatirkan" tutur Jaemin menatap nyalang kearah depan.

Jeno terdiam, beberapa bulan ini cukup baginya mengenal baik sikap kakak tirinya, apalagi mengenai kedisplinan, ayah tiri dan adik tirinya juga pernah mengingatkan Jeno tentang sikap Mark yang berubah-ubah saat jam kerja, hal itu merupakan kekhwatiran tersendiri bagi Jeno saat ini.

🌻

🌻

🌻

Jeno masuk tergesa-gesa dengan Jaemin yang mengikutinya dengan langkah yang sama, netra Jaemin bergulir menatap salah satu ruangan dimana terdengar suara keributan dari dalam sana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeno masuk tergesa-gesa dengan Jaemin yang mengikutinya dengan langkah yang sama, netra Jaemin bergulir menatap salah satu ruangan dimana terdengar suara keributan dari dalam sana. Langkahnya membesar memasuki ruangan itu, Jaemin terpaku, sahabat tengah menangis dengan Mark yang masih menunjuk-nunjuk kearah Haechan dengan beberapa makian yang keluar dari mulutnya.

"Bang, Kamu ngapain?" Sergah Jeno.

"Aku hanya melakukan pekerjaan ku, jangan coba-coba membela kriminal, Jeno" tegas Mark.

"Mau mu apa sih?!! Aku punya masalah apa denganmu hingga kau menyulitkan aku sebegini?!" Sentak Haechan kesal.

"Diam! Jangan kira kau sahabat adik iparku dan kau bisa bebas melanggar aturan, saya tidak akan melepaskan mu! Kau akan ditahan 24 jam sebelum penyelidikan selesai!" Sarkas Mark membuat Haechan mengepalkan tangannya geram.

Jaemin tak tau harus membela Haechan bagaimana, melihat betapa seriusnya Mark membuat Jaemin ragu untuk membela Haechan.

"Terserah! Aku benar-benar membencimu komisaris Mark!" Sarkas Haechan kemudian pergi keluar dari ruangan Mark.

Mark meneriaki Haechan yang pergi saja, ia mengira Haechan akan melarikan diri.

"Bang, udah ya, dia gak akan melarikan diri" Cegah Jeno melihat Mark hendak mengejar Haechan.

"Jaeminie sudah mengikuti Haechan, kamu tenangkan dirimu dulu" lanjut Jeno membujuk kakak sambungnya itu.

Mark terdiam, ia jatuhkan bokongnya ke kursi, ia bersandar dan memijat pangkal hidungnya berat. "Kenapa dia susah sekali ditangani" keluhnya.

"Bukan susah ditangani, kau saja yang kurang mencoba mengerti" tukas Jeno duduk di kursi depan meja Mark.

Mark mengernyit, "apa maksudmu kurang mengerti, aku membawanya kemari untuk kebaikan dia sendiri, dia yang harusnya memahami" cetus Mark.

"Bang, selama beberapa tahun ini keluarga kita bersatu, kita tau seperti apa Haechan, dan aku sudah memerhatikan seberapa jauh kau memandang padanya, kau tertarik padanya, kan?" Tutur Jeno membuat Mark bungkam seketika.

"Jangan mengada-ada, aku hanya memperhatikannya karena dia teman istrimu, aku tidak menyukai orang-orang berantakan di sekitarku!" Tegas Mark, dan Jeno hanya diam tak ingin menanggapi perkataan kakak tirinya itu.


TO BE CONTINUE

One Night StandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang