HAECHAN TAU

1.1K 59 2
                                        

Masih ditempat dan situasi yang sama, namun pembicaraan antara Jeno dan Haechan menjadi semakin serius.

"Renjun adalah selingkuhan ayahku" Satu kalimat ini berhasil membuat Jeno terpaku kaget.

"Selingkuhan?" Tanya Jeno lagi, ia ingin memastikan pendengarnya tidak bermasalah.

"Iya, Renjun dan ayahnya ku sudah menjalin kasih sekitar 1 tahun lebih, aku baru tau jika dia adalah selingkuhan papi beberapa 2 bulan lalu, Renjun adalah alasan papi berubah, Renjun adalah alasan keluargaku terpecah, jika aku mengatakan aku dendam padanya tidak, karena tidak semua salah dia, Papi ku juga salah dalam hal ini" ujar Haechan panjang lebar.

"Ayahmu bukankah Seo Johnny?" -Jeno.

"Iya, benar, Seo Johnny yang dikenal baik oleh orang nyatanya kini dia tidak seperti itu" Saut Haechan sendu.

"Aku pernah tak sengaja memergoki mereka saat diam-diam berhubungan di hotel xx , karena saat ini aku juga sedang bekerja paruh waktu disana" sambungan Haechan sukses membuat Jeno terpaku.

Jeno sangat tidak menyangka jika temannya itu adalah orang yang seperti itu, dimatanya Renjun tidak seliar itu walaupun memang Renjun sedikit keras kepala.

"Aku tidak akan terlalu formal, aku sekarang disini sebagai anak dari ibuku, dan sebagai sahabat untuk Jaemin, ada hubungan apa antara kamu dengan dia? Renjun" tanya Haechan.

"Aku berani bersumpah dia hanya teman, akhir-akhir ini aku sudah menjauhinya karena Nana meminta itu" saut Jeno.

"Lee Jeno, maaf jika aku tidak sopan, tapi aku perlu mengatakan ini, Renjun itu..... Aku yakin dia tidak akan berhenti begitu saja, maksutku, dia, Jaemin, harus benar-benar ada dalam pengawasan mu"

"Anak dikandungan Jaemin akan menjadi target utama Renjun jika ia memiliki niatan untuk nekat" sambung Haechan membuat Jeno terkesiap.

"Lalu tentang tadi..... Sebenarnya apa saja yang aku lewati?" Tanya Jeno.

"Aku tidak bisa mengatakan banyak hal, dari sorot mata Renjun, anak mu menjadi objek, calon bayi kalian yang Renjun mau, bukan Jaemin" Saut Haechan menatap pria jangkung di depannya dengan tatapan serius.

Jeno tertegun, ia berdiri lalu pergi begitu saja meninggalkan Haechan di ruang tamu sendirian, Jeno melangkahkan kakinya dengan langkah yang terbilang cepat, ia buka pintu kamar yang mana membuat netranya terfokuskan pada pria cantik yang tengah tertidur pulas dengan posisi kepala miring ke kanan menghadap pintu.

Cantik, selalu cantik, batin Jeno tidak sanggup jika harus melihat wajah cantik itu penuh kehancuran, Jeno tak ingin itu terjadi, dan sebisa mungkin dirinya tak akan membiarkan itu terjadi.

"Anak Daddy... Yang kuat ya sayang, Buna dan Daddy sedang di uji" tutur Jen, jemarinya mengarah ke perut Jaemin yang tengah tertidur.

Jeno elus perut Jaemin dengan penuh kasih sayang, sungguh tuhan... Jaemin dan calon anaknya adalah tujuan hidup Jeno saat ini dan kedepannya.

Siapa yang menyangka Jeno akan benar-benar terikat cinta dengan pria manis yang ia temui karena kesalahan, membuatnya memiliki niat untuk lebih dewasa dan lebih bijaksana, membuatnya benar-benar berlatih untuk menjadi pasangan yang baik dan calon ayah yang baik, sungguh Jaemin merupakan perubahan terbesar dalam hidup Jeno.

"Sayang, aku janji akan menjaga kalian dengan baik, terimakasih sudah hadir dan mewarnai hidupku"

"Aku tidak tau bagaimana rasanya takut kehilangan, namun sekarang aku merasakannya, aku benar-benar takut kehilangan kalian berdua, aku tidak sanggup membayangkan hal itu terjadi" -Jeno.

"Eung~" lenguhan ringan Jaemin membuyarkan lamunan Jeno.

"Jeje" Jaemin berusaha menetralkan penglihatannya ketika melihat Jeno disebelahnya.

"Jangan bangun, tidur saja, aegi lelah dan Buna juga lelah, kalian berdua butuh istirahat" tutur Jeno lembut.

"Yasudah sini, Buna dan aegi ingin dipeluk Daddy" titah Jaemin mengisyaratkan Jeno untuk rebahan di sebelahnya.

Jeno tersenyum, ia menuruti permintaan si cantik kesayangannya dan membaringkan tubuhnya disisi Jaemin tidur, ia peluk si cantik yang tengah tersenyum manis menatapnya, tak lupa Jeno elus perut si manis menyalurkan rasa nyaman terhadap ibu dan anak itu, berharap keduanya akan tidur dengan nyaman.

"Tuhan, kuatkan Istriku untuk hal-hal yang akan datang esok dan kedepannya" batin jeno lalu memejamkan matanya.

T
B
C

One Night StandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang