Hari ini Jaemin tengah di dalam mobil Jeno, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke mall, seperti yang disepakati keduanya tadi malam.
Tak ada pembicaraan selama perjalan, Jaemin asik menatap jalanan dari balik kaca mobil, sedangkan Jeno asik berkutat dengan tabletnya, ia memeriksa jadwal pekerjaan nya yang baru saja sekertaris nya kirim lewat email.
"Tuan, sudah sampai" Ucap supir membuat Jaemin dan Jeno mulai berhenti dengan aktifitasnya.
Jeno dan Jaemin pun turun, mereka memasuki mall dengan Jaemin yang mengekor di belakang Jeno, ia tak berani berjalan selaras dengan Jeno.
Jeno menoleh kebelakang, ia melihat Jaemin yang berjalan seraya menundukkan kepalanya, Jeno berbalik dan berhenti.
_Dhuk
"Aduh" Keluh Jaemin saat dahinya menabrak dada Jeno.
"Jalan itu lihat depan, bukan lantai" Ujar Jeno.
Jaemin diam, ia tak tau harus mengatakan apa. Jeno yang menatap wajah Jaemin cukup mengerti apa yang dipikirkan Jaemin.
"Sini" Ucap Jeno yang langsung menggenggam tangan Jaemin tanpa izin.
Dag dig dug
Jantung Jaemin berdetak lebih cepat dari biasa, ayolah, dirinya baru bertemu dengan Jeno kemarin, tapi ia sudah salah tingkah hanya karena tangannya di gandeng oleh Jeno.
"Jaemin, jangan pernah merasa bahwa kau hanya mainan ku, ataupun hanya pemuas nafsuku" Ujar Jeno tiba-tiba, yang mana membuat Jaemin tertegun.
"Jika kau mau, aku benar-benar ingin menjalin kasih denganmu" Lanjut Jeno, yang sontak membuat Jaemin salah tingkah dengan pipi yang mulai merona.
"Tapi kau baru saja mengenalku" ucap Jaemin menatap Jeno yang tepat berjalan di sampingnya.
"Kenapa? baru bertemu bukan berarti tak tertarik" Ucap Jeno menatap Jaemin sekilas sebelum akhirnya kembali menatap kedepan.
Jaemin diam, ia mencerna kalimat Jeno satu persatu, jika benar Jeno tertarik padanya dan mengalami cinta pada pandangan pertama, haruskah Jaemin menerima? sedangkan dirinya dan Jeno dalam status yang berbeda.
Jeno adalah seorang CEO muda, anak keluarga ternama, sedangkan Jaemin sendiri hanyalah anak yatim piatu, yang mana dulu orang tuanya hanyalah pedagang kue, kasta mereka benar-benar berbeda jauh.
_
_
"Ayo pilih baju yang kau suka" Ujar Jeno yang mana mereka sudah sampai di salah satu tempat yang menyediakan berbagai pakaian bermerek dengan harga yang fantastis.
"Jeno, bisakah kita ganti tempat?" Tanya Jaemin yang gugup melihat semua merek pakaian itu.
"Sudah sana, harga bukan masalah untukku" Ujar Jeno seraya mengusak rambut Jaemin.
"Tapi-" ucapan Jaemin terhenti kala Jeno langsung memanggil pelayan disana untuk membantu Jaemin.
Jaemin pun dibawa pergi untuk mencoba pakaian yang menurutnya cocok untuknya, sementara Jeno menunggu di salah satu sofa disana.
Beberapa saat kemudian Jaemin keluar dengan salah satu style dan memperlihatkannya pada Jeno, ia ingin tau jawaban Jeno apakah baju yang ia pilih cocok untuknya.
"Coba yang lain" Titah Jeno yang langsung di angguki oleh Jaemin.
Jaemin kembali masuk keruang ganti, ia mencoba model pakaian yang lain, sesaat kemudian Jaemin keluar lagi dan menerima perintah yang sama, alhasil Jaemin berganti pakaian hingga belasan kali.
"Oke cukup, pakai itu" Ucap Jeno yang sukses membuat Jaemin lega, jujur saja dirinya telah kelelahan bolak balik ruang ganti.
"Saya ambil semua yang dia coba barusan" Ucap Jeno kepala seorang pekerja yang membantu Jaemin memilih pakaian tadi.
Jaemin kaget dengan apa yang Jeno lakukan, ia ingin mengucapkan kata-kata penolakan tapi Jeno langsung mengecup bibirnya sekilas yang membuat Jaemin membeku seketika, beraninya Jeno menciumnya di depan umum.
sementara pekerja tadi langsung pergi dengan senyum di bibirnya, baru kali ini ia melihat seorang Lee Jeno bersama pria dan bahkan terlihat begitu mesra.
"Jeno kau tak tau malu!" Cetus Jaemin memukul lengan Jeno.
"Patuh dan aku akan diam" Ucap Jeno tersenyum.
Jaemin hanya bisa menurut, kalau tidak Lee mesum Jeno nya akan kembali melakukan hal diluar nalar kepadanya, benar-benar menyebalkan kata Jaemin.
_
_
_
Jaemin tengah menatap belanjaannya hari ini, dan semua barang ini telah dibeli oleh Jeno untuk nya dengan cara paksaan, Jaemin sungguh bingung harus bagaimana ia membalas perlakuan Jeno padanya itu, ia bahkan tak memiliki uang yang cukup untuk membayar satu helai pun pakaian itu.
"Jeno, aku ingin kembali bekerja" Ucap Jaemin menatap Jeno yang sedang menyusun buku matkul Jaemin hari ini.
"Kerja? Ketempat itu lagi?❄️" Tanya Jeno dingin, membuat Jaemin menelan gumpalan salivanya dengan berat.
"Bisakah kau diam saja disini dengan patuh?" Sambung Jeno tegas.
"Tapi aku ingin mengganti semua ini" ucap Jaemin hati-hati.
"Kau fokus saja pada kuliahmu, semua barang-barang ini jangan pernah berpikir untuk menggantinya" Tegas Jeno kemudian pergi begitu saja meninggalkan Jaemin yang diam tak bergeming sedikitpun.
Jaemin menatap buku matkul yang Jeno siapkan untuknya, buliran bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya yang indah.
"Hiks hiks hiks aku hanya tak ingin berutang budi.... aku bahkan tak tau apa statusku tinggal disini, jika suatu saat kau membuang ku aku harus bagaimana membayar semua ini?" Lirih Jaemin yang sesungguhnya benar-benar kecewa dirinya tinggal bersama Jeno tanpa status yang jelas.
Jaemin menyeka air matanya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena ia harus kuliah, 2 jam lagi jam kuliahnya akan dimulai.
30 menit Jaemin habiskan untuk mempersiapkan dirinya, ia menuruni tangga dan tak melihat batang hidung Jeno sama sekali, bahkan dikamar saja tak ada, entah kemana Jeno pergi.
"Apa dia pergi karena marah padaku?" Batin Jaemin sendu, ia benar-benar merasa bersalah.
"Tuan Na, hari ini saya yang akan mengantar anda kuliah" Celetuk seseorang mendatangi Jaemin.
"Siapa namamu?" Tanya Jaemin yang memang belum mengenal orang-orang Jeno, karena memang Jeno belum memperkenalkan mereka semua, yang Jaemin tau hanyalah Pak Lu seorang.
"Saya Soe-Han tuan" Jawab Soe-Han sopan.
Jaemin mangut-mangut tanda mengerti, kemudian ia mengajak Soe-Han untuk segera berangkat, karena Jaemin tidak mau jika sampai dirinya telat.
Jaemin dan Soe-Han pun pergi, Hari ini Jaemin di antar dengan mobil yang berbeda dengan yang kemarin.
Selama perjalanan mereka sedikit sekali berbicara, karena Jaemin juga tak mengeluarkan suaranya, sedangkan untuk Soe-Han memang ia tak boleh bicara jika tak diajak bicara lebih dulu oleh atasannya.
Walaupun Jaemin bukan atasan resminya, tapi begitulah Jeno memperkenalkan Jaemin padanya tadi, Jaemin adalah kekasih Jeno yang berarti atasan Soe-Han juga.
"Kau pulang saja, tidak perlu menunggu ku" Ujar Jaemin sebelum akhirnya keluar dari mobil.
"Tuan, saya akan menunggu didepan, jika anda selesai anda bisa mencari saya di depan sana." Tutur Soe-Han sopan.
Jaemin menoleh dan mengernyit, baru saja ingin mengatakan sesuatu Soe-Han sudah lebih dulu memotong pembicaraan nya.
"Ini adalah perintah tuan Jeno, dan tuan Jeno juga mengatakan anda tidak boleh menolak pengaturan yang tuan Jeno atur" Ujar Soe-Han yang sukses membuat Jaemin mendengus kesal.
"Terserah kalian saja!!" Cetus Jaemin yang kemudian melenggang pergi dengan langkah besar, ia benar-benar kesal saat ini.
BERSAMBUNG..........................................
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Stand
Fiksi PenggemarTerjebak dalam genggaman tuan muda yang arogan, malam pertamanya dirampas begitu saja oleh tuan muda yang nyatanya begitu dirinya benci.
