Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini adalah hari ke 8 Haechan keluar dari rumah sakit, selama itu juga Mark selalu mengikuti Haechan demi mendapatkan maaf dari si manis dengan rambut coklat itu. Dengan mata bulat pria beruang itu menatap sengit Mark yang tengah membujuknya dengan sebuah ice cream.
Mark melemparkan tatapan memelasnya memohon pada pria yang lebih oendeka darinya itu untuk menerima ice cream pemberiannya.
"Ini sudah akan meleleh, apakah tidak sayang jika membuangnya?" Bujuk Mark.
Haechan berdecak sebal kemudian dengan enggan menerima ice cream itu, ia masih tak bicara pada Mark, meski begitu Mark begitu senang melihat Haechan bersedia menerima ice cream pemberiannya, bahkan pria beruang itu memakannya, sama sekali tidak membuangnya.
"Berhentilah menggangguku tuan muda Jung!" Ketus Haechan membuat Mark tertegun.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas kesalahan ku" ujar Mark hati-hati.
"Sudah ku maafkan, dan sekarang pergilah, tidak perlu menemuiku lagi" sarkas Haechan kemudian pergi dengan langkah cepat meninggalkan Mark yang terpaku di tempatnya.
Mark berjalan lesu menuju sebuah bangku, ia jatuhkan bokongnya disana kemudian mengacak rambutnya frustasi, ia tidak tau lagi harus bagaimana bisa dimaafkan oleh Haechan. Meski Haechan mengatakan telah memaafkan Mark, tetap saja Mark tau jika pria beruang yang sedang marah padanya itu belum benar-benar memaafkan dirinya.
"Kak Mark?" Seru seseorang mengalihkan perhatian Mark.
"Jaemin, Jeno" Mark berdiri dari duduknya membuat adik sambungnya bergegas mendekatinya.
"Ada apa? Kamu tampak begitu kacau" tanya Jeno menatap kakak tirinya itu dari atas hingga bawah, dari bawah hingga atas.
"Ceritanya sedikit rumit, singkatnya tentang Haechan" ungkap Mark memijat singkat pangkal hidungnya. "Duduklah Jaemin" tutur Mark kemudian.
Jaemin tak banyak omong, ia langsung duduk di sebelah Jeno yang mana suaminya itu tengah duduk di samping Mark.
"Banyak usaha yang udah aku coba Jen, tapi tidak ada satupun yang mampu mengurangi amarah Haechan padaku" keluhnya putus asa.
"Jujur deh kak, Kamu tuh sebenarnya gimana sih sama Haechan? Aku ngerasa kamu tuh sebenarnya kayak tertarik sama Haechan, entah itu suka atau rasa tertarik biasa aku gak mau nebak-nebak, aku yakin kamu mempunyai jawaban nya sendiri, Jadi sekarang jujurlah, situasinya akan semakin sulit kalau seperti ini" Tegur Jeno.
"Benar apa kata Jeno, kak Mark. Setidaknya kalau kami tau yang sebenarnya terjadi antar kakak dan Haechan, mungkin kami bisa membantu lebih banyak" timpal Jaemin.
Mark diam, ia merenung beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas panjang, ia sedikit mengacak rambutnya merasa kacau dengan pikirannya sendiri.
"Awalnya aku hanya berusaha menjaganya menghindari hal hal buruk karena kasusnya dengan orangtuanya, dan juga dia sahabat mu Jaemin, yang jelas-jelas kamu adik ipar ku, jadi aku berusaha melindunginya untuk menghormati hubungan kekeluargaan kita" jelas Mark mulai memberanikan diri.
"Tapi semakin lama aku berinteraksi dengannya, saat itu juga aku semakin kacau dan bingung, aku benar-benar lebih ingin menjaganya, dan berakhir aku sangat menuntutnya dengan hal baik, hingga.... hari itu tiba, aku sangat marah ketika mendengar kabar itu, makanya aku sebegitu nya padanya"
"Awalnya aku ingin meminta maaf karena tidak enak hati merasa bersalah menuduhnya, tapi makin kesini aku semakin tidak terbiasa dengan sikap acuhnya padaku, aku tidak ingin dia marah padaku, aku tidak ingin dia mendiami ku dan menjauhiku seperti ini, aku tidak suka Haechan mengabaikan ku, bahkan tidak tersenyum padaku" Lanjut Mark sesekali mengacak-acak rambutnya.
Jeno dan Jaemin saling pandang, sejenak Jaemin tersenyum membuat Jeno juga tersenyum karena merasa pemikiran mereka berpendapat hal yang sama tentang masalah Mark.
Jeno tepuk bahu kakaknya itu membuat pria dengan alis camar itu spontan menatapnya.
"Apa?" Tanya Mark lesuh.
"Perhatian kamu ke Haechan udah berubah jadi rasa suka, bahkan suka yang lebih jauh dari rasa suka biasa" jelas Jeno.
"Ha? Maksudnya gimana?" Bingung Mark.
"Duh... Gini loh kak Mark, kamu ini sama seperti Jeno dulu padaku" celetuk Jaemin membuat Mark tertegun.
"Maksudnya- maksud kalian aku tuh ditahap itu pada haechan?!" Tanya Mark tak percaya.
Jeno mengangguk mengiyakan, begitu juga dengan Jaemin.
"Enggak, gak mungkin, bagaimana bisa itu terjadi?" Sergah Mark.
"Terserah mu dah, intinya kalau udah yakin segera bergeraklah, jangan sampai Haechan sudah benar-benar tidak bisa digapai baru kamu ingin bertindak" tutur Jeno membuat Mark terdiam karena berusaha mencerna kata-kata Jeno.
"Yasudah, pikirkan dulu baik-baik, Aku sama Jaemin pulang dulu, kasian jie kelamaan diluar" ucap Jeno berdiri dari duduknya, disusul oleh Jaemin.
Mark hanya berdahem menanggapi ucapan Jeno, membuat pria berahang tegas itu hanya bisa tersenyum tipis.
Jeno dan Jaemin pergi meninggalkan Mark yang masih tampak masih merenung, berusaha mencerna nasehat dari adiknya. Mark beberapa kali merasa ragu, tapi beberapa kali muncul keyakinan yang serupa, ia bingung sekarang, ia tak tau harus meyakini pikiran yang mana antara pikiran yang pertama dan pikiran kedua yang muncul di kepalanya.
"Ck! Tidak mungkin, bagaimana bisa aku sejauh itu dengan Haechan? Aku perhatian padanya hanya karena kasihan dengan nasib nya yang malang, bukan tahap suka yang seperti itu" sergah Mark pada dirinya sendiri.
Mark menggeleng beberapa kali, ia bangkit dan pergi dari tempatnya duduk untuk pulang, ia tak ingin memikirkannya lebih lanjut, itu membuatnya sakit kepala dan semakin hilang fokus.