Waktu sudah agak sore, Jaemin yang sibuk menyusui anaknya menjadi salah fokus saat melihat jendela, "Guanlin, apa baby bisa dibawa keluar?" Tanyanya berpikir untuk menghirup udara sore bersama bayi kecilnya.
"Loh, kamu jangan banyak gerak dulu" bukan guanlin yang menjawab, tapi Jeno, ia menyela sebelum guanlin sempat menjawab.
"Tapi sekali-kali tidak apa-apa bukan membawa jie keluar?" Ujarnya lalu menatap guanlin.
Jeno ikut menatap guanlin yang mana guanlin mengangguk mengiyakan ucapan Jaemin, "itu benar, tapi tidak berlaku juga untukmu, ini baru beberapa jam selepas operasi" tutur guanlin.
"Tuh, Jie aku aja nanti yang bawa jalan-jalan ya?, nanti aku fotoin senjanya buat kamu, kamu mau liat senja juga kan?" Ujar Jeno, ia sebenarnya sudah memerhatikan kemana arah mata Jaemin menatap sedari tadi, Jaemin tergoda dengan sinar matahari sore.
"Huhh baiklah" murung Jaemin.
"Tidak apa-apa princess, nanti kan kalian bertiga bisa jalan-jalan bertiga tuh, kepantai, atau kemanapun bersama Baby Jie" pria dengan paras teduhnya turut nimbrung menghibur Jaemin.
"Iya mommy"
Jeno tersenyum tipis, ia kecup kening sicantik kesayangannya itu, "maaf ya sayang, aku ingin menuruti semua keinginanmu, tapi yang ini aku minta maaf ya, aku khawatir jika kamu keluar" tutur Jeno Lembut.
Jaemin tersenyum, ia mengangguk lalu meminta dipeluk yang tentu saja langsung mendapatkan apa yang dirinya mau.
"Tetaplah seperti ini Jeno, jangan berubah, aku sungguh mencintaimu" pungkas Jaemin membuat Jeno tertegun beberapa saat.
Jeno hanya tersenyum, ia kecup kening Jaemin dan ia usap pipi lembut Jaemin dengan sayang, ada ungkapan cinta yang tulus dalam sentuhannya, Jeno tak perlu mengutarakan perasaannya, ia hanya akan membuktikan dengan semua perilakunya terhadap si cantik dihadapannya.
"Istirahat ya sayang, aku akan membawa anak kita keluar dulu" ujar Jeno lembut, Jaemin hanya mengangguk sebagai jawaban.
🍁
🍁
🍁
"Anak papa tampan sekali, heumm" puji Jeno.
"Dia manis seperti jaemin, Jen" celetuk seseorang di sebelah Jeno.
"Istriku memang manis Mark" puji Jeno bangga.
"Dinikahin aja belum" cetus Mark membuat Jeno terdiam.
"Mark, Nana sering menolak saat aku ajak menikah, haruskah aku mempersiapkan acara pernikahan tanpa persetujuannya?" -jeno.
"Bodoh, itu namanya maksa" Cetus Mark.
"Dia menolak ada alasannya, atau kusebut saja ada hal yang ia takutkan, kau harus mencari tau apa itu, Jen. Kau jangan diam saja dan hanya menunggu persetujuan Jaemin" sambung Mark menasehati calon adiknya.
Jeno diam, ia menatap lekat putranya yang tidur di gendongannya, pikirannya sedikit melayang mencari beberapa memori yang mungkin merupakan petunjuk dari apa yang Mark utarakan.
"Kalau kau disini kenapa tidak pulang kerumah?! Dan apa ini?! Apa yang terjadi padamu Renjun! Apa yang kau lakukan hah?!! Semua media meliput tentangmu!!"
"Maafkan aku kak, hiks hiks hiks maaf kak, aku mohon maaf"
Jeno terdiam, menatap ke-salah satu arah dimana ia melihat 2 orang yang sangat ia kenal ada di lorong rumah sakit, dan mereka sedang berdebat.
Mark menatap arah dimana Jeno menatap, "Loh, Daddy, paman?".
Jeno kaget, ia menatap Mark dengan tatapan kaget, "Paman?" Tanya Jeno, ia ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya, Renjun, dia adik Daddy, tapi sebenarnya umur Renjun tak jauh dariku" jelas Mark membuat Jeno lagi-lagi terpaku.
Ada rasa kecewa dihati Jeno, bertahun-tahun dirinya dan Renjun menjadi teman, kenapa Renjun tak pernah bercerita jika dia memiliki seorang kakak, dan kakak Renjun adalah Jaehyun, calon Daddy Jeno.
Jeno masih termenung, sementara Mark?, ia sudah lebih dulu beranjak mendekati ayah dan pamannya yang sedang berdebat itu.
"Daddy, Paman" panggil Mark.
Jaehyun menoleh, begitu juga dengan Renjun, mata sembab Renjun sangat jelas terlihat.
"Dad, ada apa?" Tanya Mark.
"Paman mu ini sudah melakukan kesalahan besar, huh seharusnya dia kamu tangkap" ujarnya membuat Renjun sontak menatap Jaehyun dengan kaget.
Renjun terkekeh, "Menangkap ku?".
"Kenapa kau hanya berpikir untuk menangkap ku!! Kenapa kau tidak berpikir untuk menangkap orang-orang yang melakukan ini padaku?!!! Aku diperkosa!! hiks Kau hanya bisa memikirkan perasaan orang lain!! Pernahkan kau memikirkan perasaanku kak?!!" Amarah Renjun kian memuncak, ia cemburu kakak nya selalu memikirkan orang lain daripada dirinya adiknya sendiri.
"Kerja kerja dan kerja!! Hanya itu di otakmu!! Aku begini karenamu!! Hiks hiks hiks" pecah sudah tangis Renjun, amarahnya kian tak terbendung.
"Hiks aku membencimu kak, hiks AKU BENCI PADAMU!!" Renjun pergi dari hadapan Jaehyun yang terpaku diam, begitu juga dengan Mark.
Renjun terpaku dihadapan Jeno, ia menatap bayi ditangan Jeno yang membuat tangisnya kian pecah, apalagi yang tersisa dihidupnya, tidak ada, Jeno yang selalu ada untuknya sekarang telah pergi, ia telah memilih orang lain.
"Selamat ya" ucap Renjun, ia tutup mulutnya dengan tangan menyembunyikan isak tangis yang kian menguasai dirinya.
Sakit sekali, mengapa menjadi Renjun semenyakitkan ini, Renjun telah kehilangan semuanya, orang tuanya, kakaknya, dan sekarang Jeno, tidak ada lagi yang tersisa, pada siapa dirinya harus mengadu jika kesulitan, tak ada harapan lagi untuknya bertahan.
T
B
C
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Stand
FanficTerjebak dalam genggaman tuan muda yang arogan, malam pertamanya dirampas begitu saja oleh tuan muda yang nyatanya begitu dirinya benci.
