MAAF, HAECHAN

388 14 3
                                        

Jaehyun yang mendengar kabar tentang Haechan dari Jeno bergegas menuju kantor polisi, Taeyong pun juga ikut serta, Haechan sudah seperti anak sendiri bagi Taeyong.

"Jeno, dimana kakak mu?" tanya Jaehyun spontan dengan nafas yang sedikit terengah.

"Di dalam dad, bang Mark gak mau mendengarkan kata-kata ku" saut Jeno.

Jaehyun masuk kedalam kantor Mark, ia melihat putra sulung nya tengah duduk dengan kertas ukuran A4 di tangannya, kertas itu berisi laporan kasus perkelahian yang terjadi malam ini.

"Mark" seru Jaehyun membuat putranya mendongak menatap ke arah pintu masuk.

Mark berdiri dari duduknya dan meletakkan kertas laporan ditangannya, "Daddy, ngapain Daddy disini?" tanya nya.

"Kalau tidak?, Daddy tidak akan tau apa yang akan terjadi pada haechan kalau daddy tidak disini" tukas Jaehyun.

Mark melepaskan berkas laporan ditangannya dengan kasar dimeja, ia tatap wajah sang ayah dengan tatapan penuh kebingungan.

"Daddy datang kemari hanya untuk ini?" Tanya Mark terdengar agak ketus.

"Daddy hanya ingin memastikan kamu tidak melakukan kesalahan" saut Jaehyun menyindir pasti pembahasan tentang masalah Mark dan Haechan hari ini.

"Kenapa semua orang membela bocah itu?! Bahkan saat dia salah, semua orang ingin aku menganggapnya benar!" Cetus Mark.

Jaehyun menghela nafas, ia tak bisa apa-apa lagi menghadapi anaknya yang keras kepala itu, sangat susah untuk membuat putra sulungnya mengerti nasehatnya.

"Permisi komisaris jendral, saya membawa sebuah laporan baru" seseorang sedikit mengetuk pintu ruangan Mark.

"Masuklah" titah Mark.

Mark menerima laporan baru yang dibicarakan, sedang Jaehyun hanya mendengarkan, laporan terbaru menyatakan benar adanya perkataan Haechan, haechan tak mengikuti atraksi liar di jalanan, ia hanya lewat saja waktu itu.

"Jadi dia tidak berbohong, dia hanya lewat" batin Mark.

"Jadi?" Celetuk Jaehyun membuat Mark melemparkan berkas ditangannya dan berlari keluar dari ruangannya.

Jaehyun menggelengkan kepala, "Haissss anak itu" ucapnya kemudian pergi menyusul Mark.

Terjadi kericuhan di luar, yang mana Jaemin tampak tengah menangis, dan Jeno yang berusaha menenangkan, seseorang tengah di angkat oleh beberapa polisi menggunakan tandu.

Mark tertegun, begitu juga Jaehyun yang berdiri di belakang Mark.

"Haechan?!" Mark berlari mendekati Haechan yang telah tampak dengan beberapa luka pukulan.

"Apa yang terjadi?!" Menatap seluruh bawahannya.

"Kamu yang apa!! Kenapa kamu memerintahkan anak buahmu memasukkan Haechan ke sel berisi tahanan SS?!!" Sentak Jaemin tak terima sahabat baiknya diperlakukan seperti itu.

Mark mengernyit, ia bingung, tahanan level SS? Kapan dirinya mengeluarkan perintah? Ia bahkan belum mengatakan apapun pada bawahannya untuk memenjarakan Haechan.

"Aku tidak mengeluarkan perintah seperti itu, Jaemin!" Sentak Mark.

"Tidak perlu membentak istriku Mark Jung!!" Sentak Jeno balik membela sang istri.

"Ayo, Haechan lebih penting" Jaehyun melerai tatapan sinis yang dilemparkan satu sama lain oleh kedua putranya itu.

Jeno menghela nafas kemudian membawa Jaemin mengikuti beberapa bawahan Mark yang membawa Haechan. Taeyong menatap sang suami memberikan isyarat mata pada suaminya, Jaehyun yang mengerti membiarkan Taeyong pergi duluan bersama dengan Jeno Jaemin.

Jaehyun menoleh pada putra sulungnya yang masih diam terpaku di tempatnya, jelas anaknya itu terlihat kebingungan.

Jaehyun tepuk pundak sang anak, "Selidiki nanti saja, tidak mau melihat Haechan?".

Mark hanya diam membuat sang ayah tersenyum tipis, "ayo" ajak Jaehyun menarik putra sulungnya pergi untuk menyusul Jeno dan Jaemin.

🌻🌻🌻

Mark duduk terdiam di bangku samping ranjang dimata Haechan tengah berbaring, pria manis itu baik-baik saja, hanya perlu pemulihan pada luka lebam nya saja, beruntung tak ada luka yang serius.

Mark hanya mampu menatap wajah teduh itu dengan rasa bersalah, tangan lentik itu tak pernah Mark lepaskan dari genggamannya.

"Maafkan saya, Haechan" ucap Mark meletakkan tangan haechan yang digenggamnya ke dahi.

"Uhh" Haechan melenguh kecil membuat Mark terkesiap dan segera melepaskan genggamannya pada tangan Haechan.

Haechan menengadahkan pandangannya, ia menatap langit-langit rumah sakit sebelum akhirnya tatapannya terpaku pada pria yang tengah duduk di samping ranjang.

"Kamu-"

"Dimana Nana?" Tanya Haechan memotong pembicaraan Mark.

Mark terdiam beberapa saat, "Haechan, maafkan saya" ucapnya segera.

Haechan memalingkan wajahnya berlawanan arah dari Mark, "Dulu saat pertama kali kita bertemu aku menganggap mu orang yang sangat baik, tapi sekarang kau membuka pandangan ku" cetus Haechan dengan dingin.

Mark ingin mengatakan sesuatu, namun Haechan lagi-lagi mencegahnya berbicara.

"Aku ingin bertemu Jaemin, bukan kau" cetus Haechan lagi membuat Mark hanya bisa menghela nafas berat.

Pria jangkung dengan alis camar itu berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Haechan yang sudah jelas tak ingin melihat dirinya, Mark hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena terlalu meninggikan Ego nya.

"Bagaimana bang?" Tanya Taeyong melihat putra sulungnya keluar dari ruangan.

Mark menggeleng menjawab pertanyaan ibu sambungnya itu, membuat yang lain hanya bisa menghela nafas.

"Kalo ini jelas salah kamu, kamu harus lebih berusaha keras meminta maaf dengan tulus pada haechan, mengerti?" Tutur Taeyong lembut.

Mark mengangguk mengerti, Iya, Bubu" saut mark.

TBC


Jika ada typo maafkan aku ya🙏🏻

Entah itu di mangatoon, Noveltoon, Fizzo, aku memang dikenal sebagai author langganan typo😭🙏🏻 walaupun udah ku revisi berkali-kali kadang masih ada.... aja yang keselip typo nya😔.

One Night StandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang