In Room 402 (1)

157 22 10
                                        

.
.
.
Bau disinfektan dan aroma lotion antiseptik berteknologi tinggi menguar di lantai tiga Rumah Sakit Universitas Hanguk. Jam dinding menunjuk pukul dua siang, waktu di mana koridor poliklinik biasanya mulai lengang, meninggalkan dengung sunyi dari pendingin ruangan sentral.

Park Jihyo menghembuskan napas panjang, sebelah tangannya meremas erat tali tas jinjing kulit sintetis yang warnanya mulai memudar. Di kursi tunggu berbalut kulit hitam itu, ia merasa duduk di atas bara api.

Sialan kau, Miyeon, batin Jihyo menggerutu kesal sambil memejamkan mata sesaat.

Semua kekacauan ini bermula dari obrolan sarapan pagi tadi di apartemen kecilnya. Jihyo, dengan segala kepolosan yang dibalut kecemasan akut, mengeluhkan pada sahabatnya itu mengenai tubuhnya sendiri.

Sudah beberapa bulan terakhir, Jihyo merasa ada yang mati rasa. Bukan sekadar kelelahan fisik akibat pekerjaannya sebagai kurator galeri seni muda yang kerap lembur, melainkan sebuah kebas yang asing di area intimnya. Ketika malam merayap dan ia mencoba mencari kehangatan atau sekadar pelepasan biologis yang wajar bagi wanita berusia dua puluhan akhir, tubuhnya seolah membisu. Tidak ada respons, tidak ada gairah, hanya hampa.

Miyeon, dengan entengnya sambil mengunyah roti panggang, berkata, "Kau harus periksa ke dokter spesialis, Jihyo. Jangan-jangan ada saraf yang terjepit atau gangguan sirkulasi darah di sana. Coba ke Rumah Sakit Hanguk, ambil poli khusus."

Dan di sinilah Jihyo sekarang. Karena kepanikannya sendiri, ia salah mengambil nomor antrean. Ia mengira poli yang ditujunya adalah klinik obstetri dan ginekologi. Namun, akibat kecerobohan seorang perawat magang yang salah membaca lembar rujukan awal dan keterburu-buruannya memanggil nama, Jihyo justru melangkah masuk ke Ruang Pemeriksaan 402.

Pintu putih berikon stetoskop itu tertutup rapat di belakangnya.

Jihyo berdiri kaku di tengah ruangan yang didominasi warna putih bersih dan abu-abu arang. Di sudut ruangan, sebuah meja kerja kayu jati berukuran besar tampak rapi, tertata dengan laptop tertutup, beberapa map rekam medis berwarna biru tua, dan sebuah papan nama kecil dari akrilik bening.

Dokter Jeon Jungkook, Sp.JP (K).

Darah Jihyo mendadak berdesir, mendingin seketika. Huruf-huruf itu—Sp.JP, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah. Otak Jihyo langsung berputar keras. Jeon Jungkook? Nama itu terasa sangat familiar, menghantam batok kepalanya dengan memori masa lalu yang seketika hidup kembali.

Tidak mungkin.

Jihyo menggigit bibir bawahnya. Lima tahun lalu, saat ia masih mahasiswi tingkat akhir jurusan Sejarah Seni di Universitas Hanguk, nama Jeon Jungkook adalah legenda hidup yang berjalan di lorong-lorong kampus.

Pria dari Fakultas Kedokteran itu selalu menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena parasnya yang dianugerahi kesempurnaan, rahang tegas, hidung mancung bak pahatan, dan mata tajam yang jarang sekali menatap ramah, tetapi juga karena reputasinya yang dingin, arogan, dan hampir mustahil disentuh.

Jungkook tidak pernah tersenyum pada mahasiswi yang terang-terangan mendekatinya. Ia hidup dalam dunianya sendiri, buku teks setebal batu bata, ruang preparasi anatomi, dan ruang kuliah tingkat.
Dan sekarang, pria dingin yang dulunya berjalan dengan angkuh di atas lantai marmer kampus itu duduk tepat di hadapannya, mengenakan jas putih dokter yang melapisi kemeja biru muda berkerah kancing rapi, dengan stetoskop melingkar di leher jenjangnya.

Jungkook belum mendongak. Jemarinya masih lincah mengetik sesuatu di layar komputer tablet di atas meja.

"Silakan duduk di kursi pasien," suara bariton itu mengalun rendah, datar, tanpa emosi, menusuk keheningan ruangan. "Nomor antrean 32, atas nama... Nona Park Jihyo."

Just Junghyo✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang