.
.
.
Cengkraman tangan Jungkook di pinggang Jihyo terasa begitu kokoh, tidak memberi celah sedikit pun bagi wanita itu untuk mundur. Ruang praktik nomor 402 yang temaram mendadak terasa begitu menyesakkan, dipenuhi oleh ketegangan yang siap meledak kapan saja.
Jihyo mendongak, menatap mata tajam sang dokter yang menyala dalam gelap. Sebelum ia sempat melontarkan protes atau kata-kata ketus untuk membentengi dirinya, Jungkook sudah membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan langsung merenggut seluruh sisa oksigen di paru-parunya.
Ciuman itu bukan lagi sebuah bujukan, melainkan sebuah pernyataan kepemilikan mutlak. Jihyo melenguh pelan, jemarinya secara refleks mencengkeram erat kemeja hitam Jungkook, membiarkan tubuhnya melemas dalam rengkuhan pria tersebut.
Jungkook melepaskan ciumannya perlahan, meninggalkan jejak napas yang memburu di antara bibir mereka. Tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari mata Jihyo yang mulai berkabut karena hasrat, tangan pria itu bergerak cepat. Dengan gestur yang terukur namun tanpa ampun, Jungkook melonggarkan mantel wol dan mengangkat gaun rajut yang dikenakan Jihyo, menyingkap seluruh pertahanan terakhir wanita itu dalam hitungan detik.
"J-Jungkook..." cicit Jihyo dengan suara parau yang sarat akan rengekan manja. Kakinya bergetar hebat saat menyadari posisinya kini telah berada tepat di tepi meja kerja sang dokter, sepenuhnya terbuka di hadapan tatapan memuja sekaligus mendominasi dari pria tersebut.
Jungkook tidak membuang waktu. Pria itu menurunkan tubuhnya, berlutut tepat di hadapan Jihyo tanpa melepaskan kancing kemejanya. Sentuhan jemari kasarnya yang hangat langsung menelusuri paha mulus wanita itu, memicu sengatan listrik dahsyat yang membuat Jihyo mendesis tajam.
Dan kemudian, Jungkook memulai permainannya.
Alih-alih langsung memberikan sentuhan yang ia duga, Jungkook sengaja memperlambat gerakannya. Ia meniup lembut area sensitif Jihyo, menciptakan sensasi dingin yang langsung berubah menjadi gelombang panas membakar saat lidah hangat pria itu menyentuh kulitnya secara perlahan.
"Ah... sshh... tidak... Jungkook..." rintihan Jihyo langsung pecah menjadi jeritan tertahan. Kepalanya terkulai ke belakang, jemarinya mencengkeram erat tepi meja kerja hingga buku-buku jarinya memutih, sementara pinggulnya terangkat secara refleks mengikuti ritme lidah yang dimainkan dengan sangat teliti oleh sang dokter.
Jungkook mempermainkan kepekaan Jihyo tanpa ampun. Ia memperlambat tempo, membiarkan Jihyo merasakan setiap gesekan basah dan panas yang menghantam sistem sarafnya, lalu tiba-tiba menghantam dengan kecepatan yang membuat sang kurator kehilangan seluruh akal sehatnya.
"Sebut namaku, Jihyo," suara bariton Jungkook terdengar serak di sela-sela kegiatannya, menuntut pengakuan mutlak di saat-saat paling rentan wanita itu.
"Jungkook... ah... ya... Jungkook!" teriak Jihyo histeris, air mata nikmat menetes di pelupuk matanya saat gelombang pelepasannya datang menghantam dengan kekuatan penuh.
Tepat pada detik puncak pelepasan itu meledak, Jungkook membiarkan seluruh kepuasan tersebut tumpah ruah di hadapannya. Sensasi luar biasa yang mengguncang tubuh Jihyo membuat wanita itu mencapai klimaksnya dengan mata terpejam erat dan napas tersengal-sengal, sementara Jungkook menerima setiap detik ketidakberdayaan kurator seni tersebut di bawah kendali penuhnya.
Gelombang pelepasan yang hebat baru saja mereda, meninggalkan tubuh Park Jihyo dalam keadaan gemetar hebat dan lemas tak bertulang. Ia bersandar di tepi meja kerja sang dokter, napasnya tersengal-sengal pendek, dan pandangannya kabur akibat terjangan kenikmatan yang luar biasa intens. Sisa-sisa air mata nikmat masih membasahi bulu matanya, sementara tangannya terkulai lemas di atas meja.
Namun, di hadapannya, Jeon Jungkook sama sekali belum berniat melepaskan kendali.
Pria itu masih berada dalam posisi berlutut, menatap lekat-lekat pada tubuh Jihyo yang bergetar pasrah. Alih-alih bangkit atau merapikan diri, Jungkook justru mendekatkan wajahnya lebih dekat. Dengan penguasaan mutlak seorang predator yang menikmati hasil buruannya, Jungkook menjilat bersih setiap tetes cairan pelepasan Jihyo yang masih mengalir, menyeruputnya dengan rakus dan tanpa ragu.
Jihyo kembali mendesis tajam, terkesiap kaget hingga jemarinya mencengkeram erat tepi meja. Sensasi basah dan hangat dari lidah Jungkook yang membersihkan seluruh sisa dirinya memicu sengatan kejut baru di sekujur sarafnya yang belum sepenuhnya pulih.
Jungkook menegakkan kepalanya perlahan, sudut bibirnya sedikit basah, sementara sorot mata tajamnya menatap lurus ke dalam mata Jihyo yang membelalak lebar karena rasa malu dan candu yang teramat sangat.
"Kau sepenuhnya milikku, Jihyo," bisik Jungkook dengan suara bariton yang serak, rendah, dan begitu mutlak. "Setiap bagian dari dirimu, bahkan cairan yang mengalir dari tubuhmu, adalah milikku."
Jihyo tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa menundukkan kepala, membiarkan rona merah padam membakar seluruh wajah dan lehernya. Pertahanan terakhir yang ia miliki telah hancur lebur di bawah kaki sang dokter muda, menyisakan kepatuhan mutlak yang tak lagi bisa ia elakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Junghyo✔
FanfictionBeda judul beda alur (Jungkook Jihyo doank isinya) #oneshoot iya, ficlet iya, short story iya juga# note : setiap cover berganti, artinya akan segera publish cerita baru 17+ juga ada
