.
.
.
Malam setelah jamuan makan malam di restoran The View meninggalkan trauma sekaligus jejak debar yang asing di dada Park Jihyo. Sesampainya di apartemen kecilnya, Jihyo langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi kepalanya, dan merutuki kebodohannya sendiri karena tidak melawan saat Jungkook mempermainkannya di bawah meja.
Yang lebih membuat Jihyo frustrasi adalah kenyataan bahwa pakaian dalam yang dilucuti Jungkook tanpa suara kini berada di tangan pria dingin itu.
Pria itu benar-benar seorang monster berkedok dokter terhormat, gumam Jihyo kesal dalam gulungan selimutnya.
Namun, di balik rasa kesal dan amarah yang membara, ada sisi lain dari dirinya yang menolak untuk jujur. Sentuhan tangan Jungkook, ritme jarinya yang sabar namun menuntut, berhasil membangkitkan kembali gairah yang selama ini mati di dalam tubuh Jihyo. Sensasi kebas yang dulu dikeluhkannya pada Miyeon seolah menguap, digantikan oleh kepekaan luar biasa yang membuat kulitnya merinding setiap kali ia mengingat tatapan tajam pria tersebut.
***
Keesokan paginya, kesibukan di galeri seni kembali berjalan normal. Jihyo mencoba mengalihkan seluruh pikirannya pada katalog pameran baru dan penataan ulang galeri untuk pekan depan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Menjelang jam istirahat siang, sebuah amplop cokelat tebal tanpa pengirim mendarat di meja resepsionis galeri. Petugas resepsionis, seorang gadis paruh waktu bernama Mina, membawanya langsung ke ruang kerja Jihyo.
"Kurator Park, ada kiriman untukmu dari seseorang di luar. Kurirnya meletakkannya begitu saja lalu pergi," kata Mina sambil meletakkan amplop tersebut di atas meja kerja Jihyo.
Jihyo mengerutkan keningnya heran. Ia membuka amplop cokelat itu perlahan. Di dalamnya, tidak ada surat atau dokumen galeri, melainkan sebuah kotak kecil berbalut pita hitam elegan. Jantung Jihyo seketika berdegup kencang. Firasat buruk langsung menghantam benaknya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Jihyo membuka kotak hitam tersebut.
Di dalamnya, terlipat rapi pakaian dalam miliknya yang diambil oleh Jungkook di bawah meja restoran malam tadi. Di atas kain tersebut, terdapat sebuah kartu nama rumah sakit dengan tulisan tangan menggunakan tinta hitam yang tegas dan tajam:
Kau meninggalkan barang pentingmu, Nona Park. Datanglah ke ruanganku pukul lima sore ini jika kau ingin mengambilnya kembali, kalau kau tidak mau aku menyerahkannya pada bagian administrasi umum rumah sakit sebagai temuan barang hilang. Pilihan di tanganmu.— Dr. J.J.
Wajah Jihyo memerah padam dalam sekejap. Antara rasa malu yang luar biasa, amarah yang meluap-luap, dan debar jantung yang tak beraturan bercampur menjadi satu di dadanya.
"Jeon Jungkook... kau benar-benar sudah keterlaluan!" teriak Jihyo tertahan di dalam ruang kerjanya yang sepi.
***
Pukul empat lewat empat puluh lima menit sore. Langit di luar jendela Rumah Sakit Hanguk mulai menggelap, menyisakan bias jingga senja yang memantul di kaca-kaca gedung bertingkat kota Seoul.
Park Jihyo berdiri di depan pintu ruang pemeriksaan nomor 402. Tangannya terangkat, siap melayangkan ketukan, namun ragu-ragu di udara. Napasnya memburu tidak teratur. Jas blazer putih gading yang ia kenakan terasa tiba-tiba sangat menyesakkan, seolah oksigen di koridor rumah sakit ini mendadak menipis.
Sialan, pria itu benar-benar sengaja mempermainkanku, batin Jihyo menggerutu penuh amarah.
Ancaman Jungkook dalam kartu nama itu bukan main-main. Jika Jihyo tidak datang mengambilnya, bayangan pakaian dalamnya diserahkan ke bagian administrasi umum rumah sakit atau lebih buruk lagi, ditemukan oleh perawat lain cukup untuk membuat Jihyo ingin melompat dari lantai paling atas gedung ini.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, dengan sisa keberanian dan harga diri yang diinjak-injak, Jihyo mengetuk pintu tiga kali dengan tegas, lalu langsung memutar gagang pintu tanpa menunggu jawaban dari dalam.
Suasana di dalam ruangan tampak temaram. Lampu utama sebagian dipadamkan, hanya menyisakan lampu meja kerja yang memancarkan cahaya kuning hangat.
Jeon Jungkook duduk di balik meja kerjanya. Jas putih dokternya sudah dilepas, menyiratkan bahwa jam praktiknya telah usai. Ia mengenakan kemeja hitam berkerah terbuka dengan lengan kemeja yang digulung sebatas siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan pembuluh darah yang tercetak jelas. Pria itu menatap lurus ke arah pintu, seolah ia sudah tahu pasti bahwa Jihyo akan datang tepat waktu.
"Kau tepat waktu, Nona Park," suara bariton itu mengalun rendah, memecah kesunyian ruangan dengan nada sinis yang elegan. "Aku hampir berasumsi kau lebih memilih membiarkan barang pribadimu menjadi koleksi di meja inventaris rumah sakit."
Jihyo melangkah masuk dengan dagu terangkat, meski tatapan matanya menyiratkan kobaran amarah yang sulit disembunyikan. Ia menutup pintu rapat-rapat di belakangnya, menguncinya dari dalam untuk memastikan tidak ada seorang pun yang akan mengganggu percakapan mereka sore ini.
"Kau benar-benar tidak punya hati, Dokter Jeon," desis Jihyo tajam, melangkah mendekati meja kerja Jungkook dengan langkah hentakan kecil yang menunjukkan sifat manjanya yang sedang merajuk kesal. "Apa gunanya kau mengambil benda itu? Apa hobi barumu sekarang adalah menjadi kolektor barang pribadi pasien?!"
Jungkook tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Jihyo dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penilaian yang lambat dan menusuk.
"Barang pribadi?" Jungkook mengulang kata itu dengan nada mengejek. "Kau menyebut benda yang tertinggal akibat ketidakmampuanmu mengontrol diri di bawah meja makan sebagai 'barang pribadi', Jihyo?"
Panggilan dengan nama depan tanpa embel-embel formal itu membuat jantung Jihyo berdesir aneh. Pipi wanita itu langsung merona merah, bukan lagi karena malu, melainkan amarah yang mencapai ubun-ubun.
"Kembalikan pakaian dalamku sekarang juga!" tuntut Jihyo, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kerja Jungkook dan mencondongkan tubuhnya ke depan, memprotes dengan bibir mengerucut kesal. "Kau sudah mendapatkan kepuasan dari mempermainkanku malam itu, jadi berhenti bersikap seperti penjahat!"
Jungkook terdiam sejenak. Alisnya terangkat sebelah. Alih-alih merasa terintimidasi oleh kemarahan Jihyo, Jungkook justru merasa wanita di hadapannya ini tampak jauh lebih menarik ketika sedang kehilangan kendali. Namun, wajah pria itu tetap dipertahankan sekaku es.
"Penjahat?" Jungkook mendengus pelan, lalu membuka laci meja bagian atas dan mengeluarkan kotak hitam kecil tempat penyimpanan benda milik Jihyo. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan wanita itu, namun menahan kotak tersebut dengan telapak tangannya. "Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya tidak tertinggal. Tapi, sebelum kau mengambilnya kembali... ada satu syarat kecil yang harus kau penuhi."
Jihyo membelalakkan matanya. "Syarat? Kau gila! Kenapa aku harus menuruti syaratmu?!"
"Karena benda ini ada di tanganku," jawab Jungkook dingin, tanpa kompromi. "Atau kau bisa pulang dengan tangan kosong dan membiarkan seluruh perawat di lantai ini tahu apa yang tertinggal di restoran mewah malam itu. Pilihan di tanganmu, Park Jihyo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Junghyo✔
FanfictionBeda judul beda alur (Jungkook Jihyo doank isinya) #oneshoot iya, ficlet iya, short story iya juga# note : setiap cover berganti, artinya akan segera publish cerita baru 17+ juga ada
