.
.
.
Tiga minggu berlalu sejak malam penuh penghinaan dan gejolak di ruang praktik Rumah Sakit Hanguk. Park Jihyo benar-benar menepati sumpahnya. Ia mengubah rute perjalanannya setiap kali harus pergi ke galeri seni, menghindari area sekitar rumah sakit, dan tidak pernah lagi menjawab panggilan nomor asing yang masuk ke ponselnya.
Bagi Jihyo, hidupnya harus kembali normal. Ia fokus sepenuhnya pada persiapan pameran seni lukis cat air bertajuk The Silent Canvas yang akan diselenggarakan bulan depan. Jadwalnya yang padat sebagai kurator kepala berhasil mengalihkan pikirannya dari bayangan wajah tajam, suara bariton dingin, dan sentuhan berbahaya milik Jeon Jungkook.
Pagi itu, udara kota Seoul terasa sejuk dengan embusan angin musim gugur yang mulai merontokkan daun-daun kekuningan di sepanjang trotoar. Untuk mencari sedikit ketenangan sebelum rapat besar bersama para seniman, Jihyo memutuskan mampir ke sebuah kedai kopi kecil bernuansa vintage di sudut jalan tenang dekat galeri. Kedai itu bernama Melody Bean, tempat favoritnya karena suasananya yang sepi dan aromanya yang menenangkan.
"Satu caffé latte hangat dengan sedikit sirup vanila, tolong," ucap Jihyo kepada barista di balik meja bar, sambil merapikan mantel wol hitam yang membalut tubuh rampingnya.
"Baik, Nona. Silakan tunggu sebentar di meja nomor tujuh," balas sang barista ramah.
Jihyo mengangguk, lalu membawa tas jinjingnya menuju meja nomor tujuh yang terletak di dekat jendela besar menghadap ke arah jalanan luar. Ia mengeluarkan buku catatan kecil bersampul kulit dari tasnya, membuka halaman demi halaman yang penuh dengan sketsa tata letak galeri.
Suasana kedai begitu damai, diiringi alunan musik akustik instrumental yang lembut. Jihyo menikmati tegukan pertama kopinya dengan mata terpejam sesaat, merasakan kehangatan cairan manis itu mengalir di tenggorokannya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Pintu kaca kedai berderit terbuka, memicu lonceng kecil di atasnya berbunyi nyaring. Seorang pria berpostur tinggi dengan mantel panjang berwarna hitam pekat melangkah masuk. Kehadiran pria itu seketika mendominasi ruangan yang kecil. Pria itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata tajam yang langsung menyapu seluruh sudut ruangan dengan pandangan mengintimidasi.
Jantung Jihyo seketika berhenti berdetak. Buku catatan di tangannya hampir meluncur jatuh ke atas meja.
Jeon Jungkook.
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa pria itu ada di tempat tersembunyi seperti ini? Jihyo tahu betul bahwa rumah sakit tempat Jungkook bekerja berada di distrik yang berbeda, dan tidak mungkin seorang dokter spesialis jantung senior sengaja datang ke kedai kopi kecil di sudut distrik seni ini secara kebetulan.
Jihyo dengan panik menundukkan kepalanya, berharap rambut panjangnya yang digerai cukup untuk menutupi wajahnya. Ia segera menutup buku catatan, berniat menghabiskan sisa kopinya dalam sekali teguk lalu kabur lewat pintu belakang.
Tetapi, hukum kemalangan Jihyo tidak pernah meleset.
Langkah kaki pantofel yang tenang dan teratur itu berhenti tepat di sebelah meja nomor tujuh. Aroma parfum mahoni dan maskulin yang sangat dihafal Jihyo langsung menguar, memenuhi indra penciumannya.
"Tempat yang cukup tenang untuk bersembunyi, Nona Park," suara bariton rendah itu mengalun di atas kepalanya, sarat dengan nada sindiran yang elegan dan berbahaya.
Jihyo perlahan mendongakkan kepalanya, menampilkan senyum terpaksanya yang paling kaku. "Ah... selamat pagi, Dokter Jeon. Dunia ini ternyata sempit sekali, ya?" gerutunya sinis, mencoba menutupi kegugupan luar biasa yang mendadak melumpuhkan sekujur tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Junghyo✔
FanfictionBeda judul beda alur (Jungkook Jihyo doank isinya) #oneshoot iya, ficlet iya, short story iya juga# note : setiap cover berganti, artinya akan segera publish cerita baru 17+ juga ada
