In Room 402 (2)

111 16 1
                                        

.
.
.
Dua minggu berlalu sejak insiden memalukan di ruang pemeriksaan Rumah Sakit Hanguk. Bagi Park Jihyo, waktu tersebut terasa seperti masa pemulihan mental yang melelahkan. Ia sengaja menghindari rute jalan di sekitar rumah sakit tersebut dan bersumpah dalam hati untuk tidak pernah lagi mendengarkan saran sembarangan dari sahabatnya, Miyeon.

Sore itu, Galeri Seni Modern, tempat di mana Jihyo bekerja sebagai kurator muda, tengah bersiap menyambut pameran seni kontemporer bertajuk The Rhythm of Pulse. Pameran tersebut mengangkat tema denyut kehidupan dan anatomi emosi manusia melalui instalasi visual yang unik.

Sebagai kurator kepala untuk acara pembukaan malam ini, Jihyo tampak sibuk berlari kecil ke sana ke mari, memastikan setiap tata letak lampu sorot dan bingkai lukisan tersusun sempurna.

"Jihyo, galeri akan dibuka untuk tamu VIP dalam waktu kurang dari satu jam. Apa semua katalog sudah diletakkan di meja resepsionis?" tanya Hyungsik, manajer galeri sekaligus senior yang selalu diandalkan Jihyo, sambil membawa sebuah klip papan jalan.

"Sudah! Aku bahkan mengeceknya dua kali agar tidak ada yang terlewat," jawab Jihyo seraya merapikan ujung jas blazer putih gading yang membalut tubuh rampingnya. "Kau tahu sendiri, kolektor malam ini bukan orang sembarangan. Ada beberapa donatur besar dari yayasan medis rumah sakit yang ikut menyumbang dana pameran ini."

"Baguslah kalau begitu. Oh ya, dengar-dengar, salah satu tamu kehormatan kita malam ini adalah dokter muda brilian dari Rumah Sakit Hanguk yang menjadi salah satu sponsor utama galeri kita. Kudengar dia sangat kaku dan perfeksionis," tambah Hyungsik sambil tersenyum penuh arti.

Jihyo langsung membeku di tempatnya. Senyum di wajahnya lenyap seketika.

Dokter muda dari Rumah Sakit Hanguk?

Darah Jihyo mendadak berdesir tidak karuan. Otaknya langsung berputar cepat, memunculkan bayangan wajah tampan berahang tegas, tatapan mata yang tajam menghujam, serta jas putih milik Jeon Jungkook.

"T-tidak mungkin..." gumam Jihyo panik, menggelengkan kepalanya pelan. "Pria seperti dia tidak punya waktu untuk galeri seni murahan seperti ini. Hidupnya kan hanya berputar di antara ruang operasi, darah, dan stetoskop!"

"Siapa yang kau maksud?" tanya Hyungsik bingung melihat perubahan ekspresi Jihyo yang drastis.

"Ah, bukan apa-apa! Aku hanya... merasa lelah," elak Jihyo cepat, mencoba menetralkan degupan jantungnya yang mendadak tidak beraturan.

Pukul tujuh malam lewat sepuluh menit. Pintu kaca besar Galeri Seni terbuka lebar, menyambut gelombang tamu undangan berbusana adi busana yang mulai memasuki aula utama. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan, berpadu dengan alunan musik klasik instrumental yang mengalir menenangkan.

Jihyo berdiri di dekat sudut pilar marmer abu-abu, memegang sebuah gelas kecil berisi air mineral untuk meredakan tenggorokannya yang mendadak kering.

Matanya mengawasi para tamu yang lalu-lalang, hingga langkah kakinya terhenti secara mutlak ketika pintu masuk kembali terbuka.

Di sana, ia berdiri. Jeon Jungkook.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam tailored-fit rancangan desainer terkenal yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Kemeja putih di dalamnya dikancingkan rapi, tanpa dasi, memperlihatkan sedikit leher jenjangnya yang kokoh. Wajah tampannya tampak begitu mencolok di bawah temaram lampu galeri, memancarkan aura dominasi, dingin, dan aristokrat yang membuat beberapa wanita di sekitar pintu masuk menoleh kagum.

Jungkook tidak sendiri. Ia datang bersama seorang wanita paruh baya berbusana elegan yang mengenakan perhiasan berlian melingkar di lehernya tampak jelas sebagai salah satu donatur utama yayasan rumah sakit.

Just Junghyo✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang