chapter 20

480 12 0
                                        

"Jangan pernah membenci kenangan yang pernah kita lalui, sayang. Entah itu kenangan manis, pahit sekali pun. Toh, kita membutuhkan kenangan itu. Tuhan, menganugerahkan segala sesuatu kepada manusia karena ada sebab dan akibatnya. Memikiki manfaat dan mudarat."

Kalimat yang terucap dari bibir bunda barusan, membuatku tersadar dari alam kenangan. Lagi, lagi dan lagi. Bunda benar lagi.

Ragaku telah kembali. Kenangan itu memang tidak akan pernah bisa lenyap seutuhnya dari benakku. Sebab, ada kalanya kita sangat membutuhkan kenangan itu.

"Jelita, mengagumi seseorang memang boleh. Namun, rasa kagum dan sayang itu haruslah memiliki batasan." Tutur bunda peri.

"Batasan?" Aku seolah bertanya kepada diriku sendiri.

"Iya batasan. Manusia memiki batas dalam segala hal. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Akan tetapi, banyak hal pula yang tidak bisa dilakukan oleh manusia itu sendiri. Sebab, manusia memiliki keterbatasan, yang telah digoreskan dalam lauhul mahfudz." Bunda peri berhenti sejenak.

Memberikan waktu kepadaku, untuk mencerna penjelasannya. Sulit, kalimat yang dijelaskan bunda barusan sangat sulit tuk dicerna. Apalagi untuk manusia sepertiku.

"Jelita masih bingung bunda peri," kataku meminta penjelasan ulang dari bunda peri.

"Begini sayang, contoh konkritnya. Manusia dan jin diciptakan di dua alam yang berbeda. Jin, bisa melihat aktifitas manusia dari alamnya. Sedangkan manusia, tidak bisa melihat wujud Jin itu sendiri dari alam manusia. Nah, seperti itulah batasan yang paling jelas pada diri manusia." Jelas bunda menerangkan panjang lebar.

"Lalu, bagaimana dengan kebahagiaan sejati itu sendiri bunda?" Aku mulai bosan mendengarkan penjelasan yang membuat otakku pusing tujuh keliling.

"Kebahagiaan sejati berada di level paling atas sayang. Kebahagiaan inilah yang menduduki level tertinggi. Dari puluhan bahkan ratusan hingga ribuan macam kebahagiaan itu sendiri."

"Kebahagiaan yang seperti apakah itu bunda?" Aku mendesak.

Bunda sempat mengulur waktu. Membuat rasa penasaranku semakin menyeruak. Membumbung tinggi. Menuju ruang angkasa.

"Kebahagiaan yang ini jarang sekali diperoleh dan dirasakan oleh manusia sayang. Sulit. Butuh perjuangan super ekstra untuk merasakan yang namanya kebahagiaan sejati ini, sayang."

"Hemm, Jelita hanya ingin tau saja bunda."

"Baiklah, akan bunda jelaskan."

Bunda menghela napas panjang. Pikirannya terbang. Mencari kalimat bijak yang mulai berserakan di udara.

"Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang hanya dirasakan oleh segelintir manusia saja. Sebab, kebahagiaan yang seperti ini bukanlah menyangkut fisik, kehidupan dan kemewahan dunia."

"Kebahagiaan sejati, jauh terlepas dari pernak pernik menyesatkan yang ada di dunia ini." Kalimat bunda terhenti.

Aku masih menunggu kkelanjutannya. Satu. Dua. Tiga menit berlalu. Tak ada tanda-tanda bunda akan melanjutkan penjelasannya.

"Lalu bunda?"

"Kebahagiaan sejati ada dalam hati dan jiwa kita. Bahkan sebenarnya kebahagiaan inilah yang paling dekat sekali dengan manusia. Namun sayang, seringkali manusia melalaikannya. Melalaikan sumber kebahagiaan sejati itu sendiri."

"Manusia diabad yang ke dua puluh satu ini. Seluruh umat manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik di muka bumi. Mereka tak kenal lagi, sumber kebahagiaan sejati itu."

"Jika mereka mengenal sumber kebahagiaan sejati itu sendiri, dunia tidak akan pernah mengalami perang. Tidak akan ada lagi penistaan agama, ras, dan lain sebagainya itu. Dunia akan damai, sangat damai sekali." Sambung bunda peri.

Ternyata, kebahagiaan sejati ada di dalam diri kita sendiri. Bahkan bersemayam dalam tubuh ini. Tuhan, kenapa aku baru menyadarinya. Terima kasih, Tuhan. Engkau memberiku hidayah untuk bertaubat kepadaMu. Aku akan selalu ingat kepadaMu, wahai Rabb-ku.

Cinta dalam DoaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang