Let me Love you-Justin Bieber
Sesuai kata Fahri kemarin malam, akupun berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Sedikit aneh memang, untuk apa Bu Suci ingin bertemu denganku padahal dia saja belum pernah mengenalku.
Pukul 06.00 aku sampai disekolah, sungguh sebelumnya aku tidak pernah berangkat sepagi ini.
Kaki ku kini menyusuri ruangan-ruangan yang ada disekolahku, ternyata ada satu atau dua orang yang juga sudah datang sepagi ini.
Dan sekarang, aku tepat didepan pintu perpustakaan, kulangkahkan kakiku masuk dan kutolehkan kepalaku ke kanan dan kekiri untuk mencari keberadaan Bu Suci.
Tak lama, terdengar suara buku jatuh di ujung ruangan ini, kufikir itu Bu Suci...
"Elo!!" kakiku berhenti, rasa penasaran kini mulai tak terbendung. Kupicingkan mataku saat melihat sosok yang ada dihadapanku.
"iya ini gue, kenapa?jelek?" dia pun menjawab dengan begitu santainya hingga kukerutkan mulutku kedepan. Dan dia duduk kembali
"ngapain lo disini?" tanyaku
"nungguin seseorang, lah lo ngapain disini?" tanyanya balik
"bukan urusan lo" jawabku tegas, akupun mengambil satu buku di rak sebelahku dengan asal lalu aku duduk diseberang tempat duduknya.
Atmosfer keheningan terjadi, tak ada sepatah katapun yang terucap dari aku maupun dia. Bahkan kami saling fokus pada buku kami masing-masing. Hingga....
"percuma lo nungguin Bu Suci karena dia gabakalan dateng" ucapnya padaku sambil masih membaca buku
"kok lo tau kalo gue nungguin Bu Suci? Jangan jangan ini kejaan lo. Gak lucu sumpah!!" rasanya aku ingin membanting tubuhnya, tapi sayangnya dia lebih kuat dariku. Arghhh
"iya emang gue, Kenapa?" tanyanya santai seakan akan aku tidak pernah marah atas apa yang dia perbuat padaku.
"ngapain sih lo nglakuin ini, apa untungnya coba? Berarti Fahri kemarin malam itu lo suruh?" geramku seraya kubanting bukuku di meja dengan keras
"Emang, lo pengen tau apa untungnya?" dia menutup bukunya dan berjalan kearahku, lalu duduk disampingku. Akupun hanya bisa memalingkan kepalaku karena aku tidak bisa melarikan diri, tubuhku diapit oleh tembok dan dirinya.
Dia melipat tangannya diatas meja lalu mulai membunyikan nadanya
"untungnya gue bisa ngelihat lo, bicara sama lo, meskipun lo bakalan marahin gue"
Entah apa yang membuat kepalaku berbalik arah, aku mulai menatapnya yang kini sedang menatap lurus kedepan.
"dir, bilang cinta ke seseorang itu sulit ya?" pertanyaannya membuat alisku naik ke atas
"hemm" aku hanya berdeham
"buktinya gue gak bisa bilang cinta ke lo" mataku kembali terbelalak setelah kata-kata itu muncul dari bibirnya dengan mudah. Tuhan, makhluk macam apa ini?
"apaan sih lo" jawaban singkatku
"lo suka apa? mate-matika? Ipa? Pkn? Apa sejarah?" tanyanya melenceng topik sebelumnya, dan dia sekarang juga menatapku.
"hemm kalo gue suka sejarah emang kenapa?" jawabku jujur
"beruntung ya jadi Ir.Soekarno"
"kenapa?"
"dia kan sejarah, hal yang lo sukai. Gue pengen jadi sejarah"
Aku tersenyum kecil mendengarnya, entahlah aku mulai menyimak kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.
"kenapa lo suka sejarah?"
"suka aja" kataku singkat
"lo plin plan" ucapnya membuatku mengerutkan alisku
"kenapa?"
"tadi lo suka sejarah, sekarang suka aja. Gue harus jadi yang mana biar lo sukai?"
Senyum lebar benar-benar menghiasi bibirku, konyol memang..
"lo tuh aneh"
"lo bakalan suka yang aneh aneh"
Mulutku terbungkam, tak ada kata lagi yang bisa terucap, dia membuatku seperti sekarang ini, berada dalam keadaan yang buruk dan kondisi yang tragis namun dapat tersenyum. Arghhh
"dir, lo penasaran gak sama gue?" dia kembali bertanya dan menghadap lurus kedepan seolah aku sedang ada dihadapannya
"apa yang harus gue penasaranin, lo kan manusia sama kayak gue"
Dia tersenyum mendengar ucapanku.
"gue gak pengen jadi dokter" kata-katanya benar-benar melenceng dari dugaanku
"kenapa?"
"karena kalo suatu saat nanti lo dateng ke gue, gue gak bakalan sanggup liat lo sakit" balasnya
"gombal mulu lo" seraya tersenyum
"lo ga suka gombal? Aduh.. berarti gombal kurang beruntung" ucapnya seraya menepukan tangannya di jidat.
"gue pergi dulu ya dir, tolong balikin buku ini ke raknya, jangan mikir yang aneh-aneh tapi sukai yang aneh-aneh" ujarnya seraya berdiri dan meninggalkan bukunya di hadapanku.
Aku masih mematung sambil menatap punggungnya yang makin menjauh, aku meluruskan pandanganku ,kulihat sebuah buku terletak dihadapanku, tanganku bergerak menggapainya.
Hanyalah sebuah buku yang berjudul "Cara Bercocok Tanam Kedelai". Aku tersenyum sekali lagi, aneh...
Kubalik bukunya, tertempel surat disana.
"DIRA
4 kata yang terucap
2 suku kata yang terdapat
1 nama yang indah
-pelayan kantin paling ganteng-
Ps:karena yang laen udah pada tua hehehe "
Kumasukkan kertas itu ke kantong bajuku, tak pernah terselip kata "buang" didalamnya. Aneh
KAMU SEDANG MEMBACA
LITTLE THINGS [selesai]
Teen Fiction#241 [170317] Ini novel pertamaku jadi aku masih belum paham soal kepenulisan novel mohon maklum kalau banyak typo, salah EYD, semuanya. apalagi kalau ceritanya absurd banget. Makasih yang udah baca.
![LITTLE THINGS [selesai]](https://img.wattpad.com/cover/97893979-64-k575457.jpg)