Bad Things-Machine Gun Kelly feat Camila Cabello
Hari minggu kembali, saatnya berfantasi dengan hidup, berimajinasi dengan fikiran, dan bersantai dengan kesenangan. Aku memutuskan untuk pergi ke taman dekat rumah dan membuat beberapa bait tulisan dengan alat berbentuk kotak ini alias laptop.
"pulangnya jangan siang-siang" teriak ibuku saat aku mulai membuka pintu untuk keluar.
"siap" teriakku kembali.
Sampainya di taman, aku hanya duduk disebuah kursi panjang yang seharusnya untuk 5 orang itu. Kunyalakan alat berbentuk kokat itu dan mulai ku ciptakan beberapa bait tulisan disana.
"Apa Aku menjadi Dira yang berbeda sekarang ini?
Apa menjadi Dira yang berubah?
Apa aku tetap Dira yang sama?"
Sebait tulisan itulah yang sudah aku buat di alat kotak itu, betapa kesepiannya aku saat ini. Kuharap pertanyaan itu akan terjawab hari ini juga.
"Dir" panggil seseorang dari belakang sambil menepuk pundakku. Aku sedikit terkejut, kutolehkan kepalaku, aku melihat sosok yang sama dalam dua minggu terakhir, mungkin dia tau jawabannya.
"lo lagi lo lagi" aku kembali mengadap ke laptopku yang masih menyala
Dia duduk disampingku dan menatapku lekat, untuk pertama kalinya dia menatap selekat ini.
"kenapa menatapku seperti itu?" tanyaku pada sikapnya yang aneh itu.
"lo cantik" ucapnya singkat, aku hanya diam
"boleh pinjem laptopnya gak?"pintanya padaku
"buat apa?"
"kan itu laptop lo, jadi lo bakalan tau" kata Devano padaku
"baiklah" setujuku
Kuberikan alat kotak itu padanya, namun sebelumnya telah ku simpan semua pertanyaan itu di dalamnya, dan aku harap Devano tidak membukanya.
Untuk sesaat aku berfikir untuk menjauh dari mata Devano, namun untuk sesaat pula aku mencarinya dalam ketidak tahuan, hari ini bukan hanya dia yang menatapku selekat ini, tapi aku juga melakukannya. Sesosok makhluk aneh yang pertama kali aku kenal. Sesosok laki-laki menyebalkan yang tak pernah ingin aku kenal lebih dalam,sebenarnya dia memang tidak tampan, tapi dia manis. Sesosok laki-laki bermata hitam-putih, berbaju hitam dan bercelana putih, berambut hitam dan tak berkaca mata.
Selang beberapa menit.. Devano mengembalikan laptopku.
"lama sekali" keluhku setelah menunggunya lama
"gue gak bikin novel sehingga selama ekspresimu itu. Gue punya sesuatu buat lo" ucapnya
"apa? Jangan bilang kalo lo mau beri gue kembang kamboja lagi, lo kira gue hantu" aku mengerucutkan bibirku, tapi dia malah tertawa.
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dengan sangat pelan. Aku hanya menatapnya penasaran.
"uang?" aku tidak menduga dia akan memberiku uang 100 ribu
"iya, emang kenapa?" tanyanya polos
"lo kira gue pengemis" nadaku meninggi
"lo bilang, lo suka sejarah. Yaudah gue kasih aja uang, bentar lagi uang itu akan jadi sejarah, uang baru udah beredar. Lagian itu juga ada fotonya Bung Karno dan Bung Hatta, mereka kan juga sejarah" tuturnya
Aku tersenyum, kemarahanku mereda, dan yang paling gak aku mengerti, sekarang uang itu beralih ke kantong bajuku.
"sorry ya gue gak bisa beri AJA ke lo" katanya lagi.
Kali ini kita berdua tertawa bersama, bahkan kerutan nampak di sudut mataku, dan putihnya bola mata tak nampak di mata Devano.
"gue pergi ya.." pamit Devano seraya berdiri
Aku hanya mengangguk dan masih menyinggungkan senyumku.
Dia berlalu semakin jauh, lalu kutatap uang 100 ribu yang sedang kupegang, kurasa aku masih punya cukup uang untuk tidak menggunakannya.
Aku beranjak dari tempatku.
KAMU SEDANG MEMBACA
LITTLE THINGS [selesai]
Dla nastolatków#241 [170317] Ini novel pertamaku jadi aku masih belum paham soal kepenulisan novel mohon maklum kalau banyak typo, salah EYD, semuanya. apalagi kalau ceritanya absurd banget. Makasih yang udah baca.
![LITTLE THINGS [selesai]](https://img.wattpad.com/cover/97893979-64-k575457.jpg)