Dengan langkah gontai aku berjalan menelusuri bebarapa kelas untuk sampai dikelasku, mataku hanya mampu membuka sebagian, kepalaku juga sangat pusing, namun aku terus memaksakan diri untuk masuk sekolah hari ini padahal suhu tubuhku sangatlah tinggi.
Kuusap wajahku kasar, begitupun caraku menghembuskan nafasku, sama kasarnya. Kulangkahkan kakiku dengan lemas masuk ke ruang kelasku.
"Dira.." teriak Aleya setelah kakiku mendekat padanya, suara kaleng rombeng dipagi hari sungguh membuat kepalaku semakin pening.
"bisa diem gak sih, gue pusing kalo lo tereak tereak gitu" kesalku pada Aleya, kuletakkan tas dan jaketku di kursi tempat dudukku , kusembunyikan wajahku dalam lipatan tangan yang aku buat diatas meja.
"ih.. gitu aja marah, lo kenapa pagi-pagi udah pucet banget? Lo sakit?" tanya Aleya, entahlah bagaimana ekspresinya saat itu karena aku sedang mencoba memejamkan mataku agar pening dikepalaku menghilang.
"badan lo panas banget" ujar aleya sehabis menempelkan tangannya di kening dan tanganku.
"gue gak kenapa-kenapa kok"jawabku lemas dan sangat lirih.
"lo kenapa-napa, mending lo ke UKS aja" sarannya dengan nada cemas.
"ish, gue gak kenapa-napa beneran. Lagian gue tadi juga udah minum obat kok"sangkalku seraya kembali ke posisi tegak.
"Dir, dicari Devano diluar"Kata Sandi memberitahuku.
"suruh aja dia masuk, gue males jalan" jawabku sambil kembali menyembunyikan wajahku di lipatan tanganku.
Tak butuh waktu lama untuk Devano tiba diposisinya sekarang, yaitu duduk dikursinya Aleya yang bersebelahan denganku.
"kenapa?" tanyanya halus sambil mengelus rambut ku dengan pelan.
Sedangkan aku yang masih menundukkan kepalaku hanya diam tanpa membalas perkataannya.
"ke UKS yuk" ajaknya dengan masih terus mengelus rambutku, sambil sesekali menyingkirkan rambutku yang menutupi telingaku, mungkin dia tau keadaanku dari Aleya.
"huft... pusing banget" keluhku pada Devano sambil bangun dari posisiku yang semula.
"ke UKS ya sayang..." katanya lirih dengan memanggilku sayang.
"tapi dev.." belum selesai aku melafalkan kalimatku, Devano dengan cepat mengajakku berdiri dengan paksa, memundurkan kursiku dan menggendongku ala bridal style.
"dev.. ish.. turunin gue"ujarku sambil terus memukul mukul dada bidang milik Devano.
Semua mata tertuju pada kami berdua saat kami mulai keluar kelas, para guru yang lewat pun hanya melongo melihat aksi Devano yang sedang menggendongku, bukannya berjalan dengan cepat, Devano malah berjalan dengan santainya seakan tidak ada makhluk lain selain kami berdua, bahkan semut pun mungkin dia anggap enyah dari muka bumi.
Setelah beberapa langkah, Devano melemaskan tangannya, hingga aku hampir jatuh.
"kok dilepas sih!! Kalo gue jatuh gimana?" teriakku spontan.
"tadi katanya suruh turunin" jawabnya.
Aku memutar bola mataku, tanganku yang tadi terus memukul-mukul dada bidang milik Devano kini beralih meligkar di leher Devano, kusembunyikan wajahku di dada bidang milik Devano, menyadari akan apa yang aku lakukan, Devano meneruskan langkahnya dengan senyum sumringah tanda kemenangan. Dasar pacar gesrek!!
***
@UKS
Sampainya di UKS dia membaringkan tubuhku di ranjang kecil yang ada disana, dia menarik kursi yang ada dibelakangnya dan dibawanya ke samping ranjangku.
KAMU SEDANG MEMBACA
LITTLE THINGS [selesai]
Teen Fiction#241 [170317] Ini novel pertamaku jadi aku masih belum paham soal kepenulisan novel mohon maklum kalau banyak typo, salah EYD, semuanya. apalagi kalau ceritanya absurd banget. Makasih yang udah baca.
![LITTLE THINGS [selesai]](https://img.wattpad.com/cover/97893979-64-k575457.jpg)