Sudah 5 tahun semenjak kepergian Atlas, rumput-rumput pun sudah menjadi liar, pohon tua pun sudah tumbang. musim berganti musim sudah Cana lalui dengan diam, tidak ada perubahan, bahkan sampai sekarang ia menginjak umur ke- 21 tahun.
sudah saat nya ia memasuki dunia perkuliahan. tapi hati nya masih setia menunggu Atlas hingga mengabaikan lelaki lain yang mendekati nya. masih dengan rambut pendek dan warna nya yang enggan untuk diganti.
menulis surat yang akan ia simpan sampai Atlas kembali padanya.
'Atlas, percayalah, aku terus menunggu mu hingga kembali, hati ku masih ter-tinggal di dirimu yang sekarang entah kemana pergi nya sosok mu. aku sebagai wanita yang ditinggal hanya mempunyai satu harapan yaitu kembali nya dirimu.
rindu ku tertanam bagai pohon yang sebentar lagi akan tumbuh besar, bahkan aku bisa saja menjadi debu, kalau saat itu kamu tidak mengirim ku surat dan bunga, masih ada harapan untuk ku bukan ?.
aku bagai pulpen tanpa tinta, tak ada manfaat nya sama sekali tanpa diri mu. kenapa disaat ingatan ku kembali kamu malah pergi ? jangan memandang wanita lain seperti kamu memandang ku biasanya.
rasa ku bagai pisau yang terus melukai hati, disaat aku mengingat mu. kembali, dan obati sakit ini.
bahkan, aku tidak mengenal siapa diri ku lagi sekarang.
-Cana Alysa '
ditaruh nya kembali pulpen yang baru saja ia pakai ke dalam laci dan juga lembar kertas yang baru saja ia isi. Cana menyenderkan kepala di atas meja sembari membiarkan diri nya terlelap disitu.
"anak mama, tidur nya di kasur ya sayang, " ucap Eva lalu mengecup kepala Cana dan keluar kamar. air mata yang seketika keluar sedikit demi sedikit membuat Cana membuka mata dan mengelap nya.
"At- las ? " gumam nya dengan tatapan kosong.
air mata nya semakin deras turun ke pipi, membuat Cana susah bernafas akibat hidung nya yang mampet.
***
"Tante " panggil Gilang di ruang tamu dan meneguk minuman yang disediakan "iya ? " jawab Eva. "Tante tau ? Atlas pulang nya kapan ?" tanya Giang, Eva menganggukan kepala nya dan tersenyum.
"2 tahun lagi, jangan sampai Cana tau soal ini ya, Atlas sering menghubungi tante, untuk nanya kabar tentang Cana, makan nya tante masih membiarkan Cana dan Atlas berhubungan, walau keadaan Cana seperti sekarang, mau kayak gimana dia nanti nya kalau tante suruh untuk mengakhiri hubungan nya dengan Atlas " Gilang mengangguk dan tersenyum.
"iya tante, Atlas juga bilang ke saya, buat jaga Cana " di ambil nya sejumlah uang yang ada didalam dompet Eva dan memberikan nya ke pada Gilang "ini nak, ambil, tanda terimakasih tante, karna udah jaga Cana "
Gilang menolak pemberian uang tersebut dan tersenyum "gak usah tante, maksud saya buat jaga Cana kan gak mengharapkan imbalan, jadi gapapa kok," ditaruh nya kembali uang itu ke dalam saku.
"kamu memang teman yang baik ya Gilang, yaudah tante panggil Cana dulu ya, " Gilang hanya mengangguk dan menunggu Cana di bawah sembari memperhatikan hp digenggaman nya.
"Gilang " panggil Cana pelan, "kenapa ? " jawab nya dan langsung berdiri "yaudah tante, saya anter Cana dulu ya " pamit Gilang
"Hati-hati ya nak, " Setelah bersalaman, Gilang segera menyusul Cana yang sudah berada diluar rumah, sembari memperhatikan gerbang nya.
Melamun kan sosok Atlas yang sudan lama menghilang, dengan tatapan sedu dan terus menerus menggigit bibir bawah nya hingga terluka.
"Can, ayuk " panggil Gilang dengan helm ditangan nya. Cana hanya mengangguk dan naik ke atas motor.
Hanya suara gas motor yang terdengar di kuping Cana sekarang, tatapan mata kosong nya mengarah ke kaca spion yang pas sedang dilihat oleh Gilang.
"Lang, gue mau turun disitu aja " ucap Cana sembari menunjuk trotoar yang berada di samping kiri nya.
Gilang masih melanjutkan jalan nya dan mengerutkan dahi "mau ngalapain Can, lo turun disitu ? " tanya Gilang.
Cana hanya diam dan melihat Gilang dengan tatapan tajam nya "yaudah " lanjut Gilang.
"Gue ikutin lo ya " Gilang memparkirkan motor nya di pinggir dan mengikuti jalan Cana.
"Atlas dimana ? Kenapa dia ninggalin gue ? " tanya Cana yang sontak membuat Gilang kaget dan menaikkan satu alis nya.
"Gue gak tau Can, " Cana menghentikkan jalan nya dan berdiri di depan Gilang "gak usah boong deh lo, lo pikir gue gak denger lo ngomong apa tadi sama mama gue ?! " sahut Cana.
"G-gue beneran gak tau apa-apa Can ".
"hah " Cana mendecakkan lidah nya dan melipat kedua tangan di depan perut nya "lo pikir gue bego ? Iya ?!, gue denger semua nya Gilang. Tentang lo masih kabar-kabar an sama Atlas. Iyakan ?! " lanjut Cana.
Gilang menundukkan kepala nya sebentar dan mengalihkan pandangan nya ke arah Cana "itu udah sebulan yang lalu, dia ngabarin gue juga cuma buat nanya kabar lo, " Gilang terpaksa berbohong dan menoba meyakinkan Cana.
"Dia kabar-kabar sama lo, tapi sama gue enggak ? Pacar nya tuh gue, atau elo sih ? " Mata Gilang membulat sempurna dan mulut nya terbuka lebar mendengar pembicaraan Cana.
"Enak aja lo, gue udah punya pacar, lagian juga kalo gue homo, gak mau sama yang udah bekasan, hih "
Cana menatap bingung ke arah Gilang yang berjalan sembari menarik tangan nya ke arah motor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Love
Teen Fiction[COMPLETED] [POSSESSIVE × COOL ] Lelaki itu datang, menghampiri ku, mendekati ku secara perlahan. Hingga akhirnya sifat dimana aku selalu dingin kepadanya itu hanyalah masa lalu semata. Aku menghargai perasaan nya, namun lambat laun itu berubah men...
