Karena orang yang memiliki tatapan paling menenangkan terkadang adalah orang yang paling banyak menyimpan kesedihan.”
***
"
Ca ... " panggil Ayu sekali.
Si pemilik nama sama sekali tak menggubris. Sejak setengah jam yang lalu, Caca terus saja mengetuk-etukkan pulpen pelan ke ujung bibir dengan mata kosong. Pikirannya sedang tertuju ke hal lain.
"Oi, Ca!" panggil Ayu lagi. Kali ini agak keras.
Sontak Caca kaget. "Apa? Apa? Kenapa?"
"Lo kenapa sih, Ca? Hari ini kok tumben banyak diemnya. Kesambet lo, ya? Aneh banget."
Ayu menggeser tubuh semakin dekat, berbisik agar suaranya tidak kedengaran oleh Pak Ali. Bisa di strap di luar kelas kalau sampai ketahuan mereka bicara di pelajaran guru killer yang satu ini.
Tapi mau bagaimana lagi? Ayu juga penasaran mendapati sejak awal masuk kelas, sahabatnya itu terlihat melamun sepanjang waktu, tidak fokus dan jadi super duper budek pula. Terang saja itu mengusik rasa ingin tahu Ayu. Karena apa yang Ayu tahu, seorang Caca tidak akan pernah melamun di sela-sela waktu luangnya yang berharga.
Caca itu study-holic! Orang yang paling kesetanan kalau udah berhadapan dengan nilai rapor.
"Nggak apa-apa. Cuman kurang tidur doang," jawab Caca.
"Yakin? Tapi kenapa gue ngerasa kalo lo lagi ngelamunin seseorang yah?" selidik Ayu, matanya memincing curiga.
Caca menggeser kepala Ayu menjauh kemudian mengalihkan matanya pada papan tulis di depan. Mencatat poin-poin penting yang harus ia ingat untuk ulangan lusa daripada menjawab rasa penasaran Ayu yang tidak akan pernah habis.
Cewek itu terlalu pandai membaca perasaan orang lain. Dan jelas, itu membuat bulu kuduk Caca meremang.
Meskipun Caca mulai mendengarkan Pak Ali yang sedang menjelaskan materi di depan lengkap dengan penggaris panjang dan cahaya matahari yang terpantul dari kepala sulahnya, pikiran cewek itu tetap saja tidak tenang.
Jari-jarinya berhenti bergerak. Matanya memandang sesuatu yang lebih jauh dari sekedar jendela kelas di samping. Teringat kejadian tadi malam. Lagi, terhanyut dalam bayangan yang membuatnya gusar sepanjang waktu.
Aga seakan lepas kendali. Cowok itu berkelahi seakan ingin membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Caca sendiri bahkan tidak yakin, apakah preman-preman itu masih hidup atau sudah mati ketika Aga membawanya pergi dari sana.
Aga ingin mendekat, menanyakan keadaan Caca yang terlihat pucat. Namun, sedetik kemudian cowok itu menahan langkahnya. Ia mundur dan menelan ludah. Tak berani untuk menyentuh Caca.
Aga menarik kembali tangannya yang penuh bercak darah itu. Sorot ketakutan di mata Caca seakan mencambuk kulitnya hingga daging-dagingnya ikut terlepas. Kemudian cowok itu mengalihkan matanya pada hal lain.
Dalam sedetik, ia menyingkirkan perasaan terluka itu ke sudut terdalam hatinya.
Caca tidak bicara sepatah kata pun selama perjalanan Aga mengantarnya pulang. Bahkan tetap diam ketika Aga menarik gas motornya hingga ke batas maksimal.
Caca berpegangan erat pada jaket Aga dan menutup matanya sampai ia yakin bahwa dirinya tiba di rumah, bukan di kamar mayat.
Sebenarnya ia ingin berteriak, “Udah gila kali ya, lo?! Lo mikir gak lo lagi ngeboncengin anak orang?! Kalo kecelakaan, terus gue sampe mokad gimana?!”
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT JINGGA (TAMAT)
Teen Fiction"Semua keinginan gue, gak pernah jadi kenyataan. Itu cara kehidupan menghukum gue." *** Aga, atau lebih lengkapnya Airlangga Putra Senja. Pangeran bermata kelabu paling sempurna abad ini dengan tatapan menghangatkan namun sorot mata yang terlihat b...
