Chapter # 32 Threat

4.2K 318 5
                                        

“Lo nggak sungguh-sungguh pacaran dengan Caca kan, Ga? Lo pernah bilang ke gue, kalo lo nggak pernah tertarik dengan hubungan apapun. Lo cuman main-main, kan? Iya, kan?”

 Kedua alis Kirana bertaut saat menunggu jawaban dari Aga. Laki-laki itu menunduk sebentar lalu tersenyum sinis. Apa yang diketahui cewek ini tentang hidupnya?

“Ga! Gue bilang kayak gini, karena gue peduli sama lo. Gue nggak mau lo terlibat sama cewek egois kayak gitu. Dia bukan cewek yang tepat buat lo, Ga. Dia nggak ngerti apa-apa tentang lo. Dia nggak ngerti kehidupan seperti apa yang lo jalanin.  Gue yang ngerti. Gue ngerti apa yang lo rasain selama ini. Gue ada di samping lo sejak kita kecil, Ga. Cuman gue yang tahu karena kita sama-sama orang yang kesepian.”

“Kirana,” potong Aga. “Maaf. Gue nggak tahu seberapa paham lo tentang perasaan gue, tapi lo harus berhenti sekarang.”

“Lo nggak boleh ninggalin gue sendiri, Ga ....” 

Kirana memeluk Aga tanpa mempedulikan harga dirinya. “Kalo lo juga pergi ... lantas gue harus gimana?”

Satu-persatu pergi. Lo jangan ninggalin gue juga ....

Kalimat itu terngiang kembali di kepala Aga. Perasaan Kirana saat ini ... bergelayut di dadanya. Ia bisa merasakannya. Bagaimana perihnya ditinggalkan oleh satu-persatu oleh orang yang datang dalam hidupnya .... ia mengerti dengan sangat bagaimana sakitnya perasaan itu. Aga mengangkat satu tangannya. Ditepuknya ringan bahu Kirana yang telah pernah menjadi tetangganya sebelum ia pergi dari rumah dulu.

“Maaf,” ucap Aga pada cewek itu. “Gue bener-bener minta maaf.” Aga melepaskan tanan Kirana yang memeluknya kemudian melangkah menjauh meninggalkan cewek itu jauh di belakangnya.

♦♦♦

“Gimana? lo dapet foto pas gue meluk Aga tadi?” tanya Kirana pada Selvi yang muncul setelah Aga pergi.

“Dapet, dapet. Nih!”

Kirana terlihat puas melihat foto itu. Terlebih ketika Aga menepuk pelan bahunya tadi. Terlihat seperti Aga sedang membalas pelukan Kirana. 

“Upss!!!”

Handphone yang dipegang Kirana berpindah ke tangan Dimas yang muncul tiba-tiba. Melihat Dimas, Selvi yang membantu Kirana buru-buru pergi. Ia tidak ingin terlibat dengan Dimas. Apalagi ketika menyadari betapa menyeramkannya tatapan cowok itu saat ini.

“Lo?!” Kirana tidak percaya melihat Dimas sudah mengambil alih ponselnya. 

Cowok itu duduk bersandar di koridor pagar sambil menonton hasil video dan foto yang diambil Selvi tadi. Pantas saja Aga memberi kode pada Dimas untuk mengikuti secara diam-diam. Aga ternyata lebih mengetahui kelicikan Kirana dibanding dirinya. Ah, benar. Ia lupa kenyataan bahwa Aga adalah si jenius Airlangga. Tidak ada yang tidak ia ketahui jika cowok itu menginginkan jawaban. Terlebih insiden besi yang membuat retak bahunya kemarin. Cowok itu mungkin hanya tidak ingin menyakiti perasaan Kirana dengan sangat keterlaluan. Ia tahu bagaimana rasanya disakiti, karena itu ia tidak ingin menyakiti siapapun. 

“Bagus juga,” gumam Dimas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan memuji.

“Kalo ini sampai lo sebarin ke sekolah  pasti langsung heboh nih. Apalagi Caca, pasti bakal langsung ngancurin hatinya.”

“Dimas balikin!!!”

“Tapi sayangnya, gue nggak pengen ngeliat Caca sedih karena ini.”

“Dimas! Lo seharusnya dukung gue! Lo suka, kan sama Caca? Jadi seharusnya lo bantu gue misahin mereka.”

Dimas tertawa. “Kirana, Kirana,” decaknya pelan lalu mengeluarkan sd card dari ponsel itu dan menghancurkannya.

Tidak hanya itu, dengan penuh emosi Dimas melempar handphone keluaran terbaru itu ke dinding hingga hancur. Kirana menganga kaget.

“Dimas!!! Lo gila ya?! Itu handphone mahal bego!”

Laki-laki itu hanya tertawa kemudian mengeluarkan ponselnya sendiri dari saku. Ponsel keluaran terbaru yang harganya jauh melebihi punya Kirana. Dimasukkannya ponsel itu ke dalam saku baju Kirana begitu saja. “Gue ganti pake punya gue,” ucap Dimas ramah.

Namun sedetik kemudian, ia mendorong cewek itu ke dinding. Sekali lagi, ia mengabaikan erangan Kirana. Mengunci cewek itu dalam kurungan tangannya.

“Lo masih inget peringatan gue, kan? Kalau gitu coba aja lo sakiti dia. Fisiknya atau hatinya. Terserah lo. Tapi begitu lo ngelakuinnya, gue juga akan ngancurin lo lebih dari yang bisa lo bayangin.”

“Lo ngancam gue?” tantang Kirana.

“Menurut lo?”

Dimas tersenyum licik kemudian melepaskan cewek itu. Ia melangkah pergi. Namun sebelum benar-benar menghilang, ia memutar tubuhnya sebentar untuk menoleh pada Kirana. 

“Oh, gue lupa nyampaiin satu hal. Aga bilang makasih atas oleh-oleh cidera bahunya kemarin,” ucap Dimas.

Mata Kirana langsung terbuka lebar. Aga tahu ....

Melihat ketakutan di wajah cewek itu, Dimas tersenyum menang.

LANGIT JINGGA (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang