Pecahan beling itu terlepas dari genggaman Aga. Jatuh dan berhamburan di lantai, memantulkan cahaya lampu dengan suara yang tajam. Dari balik kabut di matanya, punggung Aga perlahan menjauh, lalu menghilang di balik pintu.
Tante Laras refleks memegangi dadanya.
Wajahnya tertunduk, napasnya tersendat. Butiran bening menggenang di pelupuk mata sebelum akhirnya tumpah tanpa bisa lagi ditahan. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, menekan isakan yang memaksa keluar. Kedua tangannya membekap mulut, seolah suara apa pun yang lolos akan merobek dirinya sendiri.
Bi Surti tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa memegangi kedua lengan Tante Laras, menopang tubuh wanita itu agar tidak runtuh saat tangisnya pecah dalam diam.
Wanita yang menyimpan luka yang sama.
Wanita yang jauh lebih terluka setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu pada Aga.
Luka itu menyesakkan dadanya, membuat Laras nyaris tak bisa bernapas.
Ia mendekap dadanya lebih erat, seolah dengan begitu hatinya tidak akan benar-benar hancur.
Maafkan aku…
Tolong maafkan aku…
♦♦♦
Caca terbangun di tengah tidurnya.
Ia melirik jam dinding. Hampir pukul dua pagi.
Entah apa yang membuat dadanya terasa tidak tenang. Gelisah itu datang tanpa sebab yang jelas, memaksanya bangun. Ia bangkit dari ranjang dan melangkah keluar kamar menuju dapur untuk minum.
Namun langkahnya terhenti.
Jendela kamarnya menarik perhatiannya malam ini. Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, seakan ia tahu apa yang akan ia temukan di luar sana. Atau justru berharap tebakannya salah.
Suara deru motor itu kembali terdengar. Familiar. Terlalu familiar.
Caca mendekat dan menyingkap tirai.
Matanya melebar.
Aga berdiri di sana, bersandar pada motornya. Kepalanya tertunduk, bahunya jatuh, seolah seluruh beban dunia sedang ditumpukan di lehernya. Ia tidak melakukan apa pun. Tidak bergerak. Hanya diam di dalam gelap malam.
Dugaannya benar.
Itu suara motor Aga.
Beberapa saat kemudian, Aga mengangkat kepala—dan mendapati Caca sudah berdiri di hadapannya.
Sejujurnya, Aga sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di rumah gadis itu. Yang ia tahu, ia hanya ingin pergi. Pergi dari rumahnya. Pergi dari tempat yang membuat dadanya terasa terlalu sempit untuk bernapas. Ke mana pun, tidak masalah.
“Kenapa tengah malam ke sini?” suara Caca terdengar cemas. “Sejak kapan? Kenapa nggak ngasih tahu?”
Aga diam.
Ia tidak punya jawaban. Ia bahkan tidak tahu pertanyaan mana yang harus ia jawab. Semua kata terasa salah. Semua penjelasan terasa tidak pantas untuk diucapkan.
“Aga…”
Nama itu dipanggil pelan, mencoba menariknya kembali.
Namun sebelum Caca bisa mengatakan apa pun lagi, Aga tiba-tiba menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Lalu mencium kening Caca dalam-dalam.
Dengan setiap tarikan napasnya.
Dengan setiap detak jantungnya.
Dengan sisa perasaan yang belum sepenuhnya hancur.
Air mata menetes dari sudut matanya yang terpejam. Dadanya terasa perih, terlalu sesak untuk ditahan. Setiap napas terasa seperti hukuman, seolah hidup sendiri adalah kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki.
Ia ingin mengatakan sesuatu. Apa pun.
Namun ia tidak sanggup.
Ia seharusnya tidak ke sini.
Ia seharusnya tidak melibatkan gadis ini.
Caca tidak pantas menanggung luka yang bukan miliknya.
“Masuk sana,” ucap Aga lembut, dengan senyum tipis yang dipaksakan. Senyum yang terlalu rapuh untuk benar-benar menghangatkan apa pun.
Sesaat kemudian, Aga berbalik. Deru motornya memecah malam saat ia pergi, menjauh sedikit demi sedikit.
Meninggalkan Caca yang masih terpaku di tempatnya.
Caca menyentuh pipinya. Jejak air mata Aga masih terasa di kulitnya.
Ada apa sebenarnya?
Apa yang terjadi pada Aga?
Ia ingin bertanya. Ia ingin menemukan Aga dan memaksanya bicara. Namun keesokan harinya, Aga tidak datang menjemputnya.
Cowok itu tidak muncul.
Di sekolah.
Di kelas.
Di mana pun.
Caca berlari menyusuri koridor, naik ke rooftop, turun ke gudang bawah. Namun Aga tidak ada. Bangkunya kosong, menjadi tumpuan tatap mata teman-teman sekelas dan sumber bisik-bisik yang tidak pernah menemukan jawaban.
Hari-hari berlalu.
Dan Aga tetap menghilang.
Seolah malam itu adalah satu-satunya kesempatan untuk melihatnya sebelum ia benar-benar pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT JINGGA (TAMAT)
Jugendliteratur"Semua keinginan gue, gak pernah jadi kenyataan. Itu cara kehidupan menghukum gue." *** Aga, atau lebih lengkapnya Airlangga Putra Senja. Pangeran bermata kelabu paling sempurna abad ini dengan tatapan menghangatkan namun sorot mata yang terlihat b...
