"Semua keinginan gue, gak pernah jadi kenyataan. Itu cara kehidupan menghukum gue."
***
Aga, atau lebih lengkapnya Airlangga Putra Senja. Pangeran bermata kelabu paling sempurna abad ini dengan tatapan menghangatkan namun sorot mata yang terlihat b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bip… Bip… Bip...
Detak monitor menggema di ruang sunyi. Irama yang monoton itu tak ubahnya pisau halus yang terus menghunjam jantungnya.
Suara-suara samar datang dan pergi. Terkadang terdengar jelas, lalu lenyap begitu saja. Tapi tubuhnya tak bisa merespons. Bahkan sekadar membuka mata pun, rasanya seperti melawan kehampaan.
Masker oksigen menempel di wajahnya, tapi napas tetap sesak. Seolah paru-parunya bukan lagi miliknya. Rasa sakit tak hanya bersarang di tubuh—tapi menjalar jauh lebih dalam, menghancurkan bagian dari dirinya yang tak bisa dijelaskan.
Ia ingin berhenti.
Tolong… hentikan....
Namun tak ada yang bisa mendengar permintaannya. Tak ada yang mengerti bahwa ia telah terlalu lelah. Dunia memintanya bertahan, tapi tubuhnya sudah menyerah.
"Kamu juga janji...."
Suara itu. Suara dari masa yang hampir ia lupakan.
Bayangan dua anak kecil muncul—berhadapan, saling menautkan kelingking.
Janji.
Janji... apa?
Ia mencoba menggapai memori itu.
Namun yang ia temukan hanya kegelapan.
Sekali, dua kali, berkali-kali—namun semuanya berakhir sama: sendirian.
Lagi....
Kegelapan mencoba menelannya. Menawarkan keheningan yang ia inginkan selama ini—tempat tanpa rasa sakit, tanpa air mata, tanpa perlu berpura-pura tersenyum sambil menahan pecahan luka di dada. Mencoba menggapai bayangan punggung wanita itu....
Dan lalu… suara-suara itu datang merobek gendang telinga bersamaan kilatan cahaya yang membakar mata:
"Dua tulang rusuk patah!" "Terjadi pendarahan hebat di kepala pasien!" "Jika dibedah sekarang, dia tidak akan selamat!" "Detak jantung tidak stabil!"