[26]

1.1K 127 11
                                        

*Kejadian 2 Hari Wayo Pergi tanpa Kabar*

Setelah berpisah dengan Boom, beberapa jam yang ia lalui di jalan akhirnya ia sampai didepan rumah ibunya.

[Wayo]
*Tok Tok Tok*

Aku mengetuk pintu rumah ibuku, dan langsung saja aku diketemukan oleh malaikatku yang tanpa sayap.

"Ow, Yo?" Ucap sang ibu yang terkejut melihat kedatanganku karena aku tidak mengabarinya terlebih dahulu.

"Swadii Krub, ma!!" Sapa salamku pada ibuku.

Lalu kami berdua pun berbicara diruang tamu, aku memegang ponselku untuk mengirimkan pesan pada Boom bahwa aku sudah sampai. Tapi saat itu aku ragu untuk mengetiknya hingga ibuku pun datang membawaku minuman dan beberapa cemilan kesukaanku yaitu marshmellow.

"Apa yang sedang kau lakukan, nak?" Tanya ibuku.

"Tidak ada, ma. Aku hanya ingin memberitahu Boom kalau aku sudah sampai, tapi aku ragu." Jawabku yang benar-benar resah.

Ibuku lantas duduk disebelahku meletakan apa yang dibawanya diatas meja.

Ibuku bertanya "Kenapa seperti itu?"

Langsung saja daya ponselku mati karena sedari tadi daya ponselku hanya tinggal 10%.

"Yah, ponsel Yo habis batre." Ucapku.

"Yasudah, nanti kau isi daya batremu ya?" Ujar ibuku.

"Iya, ma." Jawabku.

"Lalu, apa yang membuatmu kemari?" Tanya Ibuku.

"Uh ..." Aku pun mulai berdengung bingung.
"Ma ..." Ucapku.

"Iya?" Jawab ibuku.

"Yo ingin hidup lebih lama lagi, ma." Ujarku dengan sedikit memohon.

"Yo akan melakukan terapi apapun, ma. Yo ingin merasakan hidup yang lebih lama lagi karena ..." Ujarku sejenak berhenti.

"Yo sudah tahu, tujuan Yo hidup selama ini." Sambungku.

"Ma, Yo tahu apa yang mama pikirkan. Yo mungkin sudah gila, tapi sekarang Yo sadar ma bahwa ..... Yo benar-benar ingin hidup." Lanjutku yang masih belum berhenti.

"Apa yang membuatmu berubah pikiran, Yo?" Tanyanya yang spechless melihatku.

"Uh ... karena ... karena dia ma. Dialah yang membuat Yo berubah pikiran. Dialah yang membuatku merasa bahwa Yo tidak ingin meninggalkannya." Jawabku sambil memikirkan P'Pha saat itu.

"Ma." Ucapku memanggilnya lagi.
"Bisakah Yo mendapatkan kesempatan kedua?" Tanyaku yang menggenggam kedua tangan ibuku.

"Jika Yo bisa mendapatkannya, Yo berjanji akan selalu melakukannya." Sambungku.

Kedua mata ibuku mula berkaca-kaca dan garis bibirnya mulai mengerut sedih. Hatiku lantas tak tega melihatnya, aku juga ingin menangis saat itu tapi aku harus menahan air mataku.

Saat itulah ibu mengizinkanku untuk mengambil kesempatan kedua itu, kesempatan kedua dimana aku tidak akan bisa mendapatkan untuk yang ketiga kalinya.

Dan pergilah kami kesebuah rumah sakit, aku menunggu disebuah ruang rawat yang tempatku bersebelahan dengan sebuah tempat tidur besi yang entah siapa pemiliknya dan disekat oleh tirai tiang besi.

Aku duduk menanti kedatangan ibuku bersama dokter dan beberapa perawat yang lainnya.

Aku duduk menanti kedatangan ibuku bersama dokter dan beberapa perawat yang lainnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sad Story - Happy Ending [Book 2] & [Book 3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang