[53]

735 108 15
                                        

Dengan bormodalkan tas ransel di punggung masing-masing, kini mereka mengenakan mobil Ming sebagai tumbal mereka padahal Phana yang mengajak pergi.

Kejadian gila terjadi didalam mobil yaitu, bermain, berjoget, saling menjahili, dan juga bernyanyi meskipun suara mereka sejelek apapun.

Hingga setengah jam kemudian semuanya kelelahan dan tidur. Yo yang saat itu duduk diantara Beam dan Phana lebih memilih tidur di bahu Beam dan sambil menggenggam tangan Phana yang sedang tertidur pula.

Satu jam kemudian mereka berdua sampai ditempat tujuan dan langsung menuju kamar masing-masing.

[Wayo]
Aku sampai dikamarku dan P'Pha aku tak pernah berpikir akan berbagi tempat tidur dengannya.

Kami masuk dan sejenak ku letakan koperku sedangkan P'Pha langsung membanting tubuhnya di atas kasur.

"Hooiihh .." P'Pha bernafas legah.
"Hei, Yo. Sini, kasurnya sangat nyaman." Ujar P'Pha.

"Nanti saja. Aku harus pergi keluar sebentar." Ujarku.

Ketika aku hendak melangkah pergi P'Pha menarikku sambil berkata "Tunggu!!"

Akhirnya aku terbaring pula diatas kasur dan ia memelukku seperti guling.

"Nyaman, bukan?" Tanyanya.

"Heh, itu kau yang nyaman bukan aku. Cepat lepaskan aku!" Ucapku.

"Sebentar saja!!"

"Um. Baiklah. Cuma sebentar ya?"

"Kruubbbb!!" Jawab manjanya.

[Author]
Forth tengah berenung di balcon sembari menikmati angin yang sepoi-sepoi. Wajahnya begitu terlihat penuh beban, tapi beban apakah yang ia miliki? Apakah beban karena ia meninggalkan Ploy sendirian dirumah?

Entahlah.

Beam masuk kekamar karena ia baru saja membantu Kit dan Ming berbenah di kamar mereka. Beam langsung menghampiri Forth saat melihatnya, lalu Beam berdiri disampingnya juga ikut mencari angin.

"Ow, kau sudah selesai membantu Kit?" Ucap P'Forth bertanya.

"Sudah." Jawabku.
"Kau tidak pergi jalan-jalan keluar?" Tanyaku.

"Aku sedang ingin disini."

[Beam]
Dari jawabannya terlihat ia memiliki beban yang cukup berat di pikirkannya.

"Ada apa?" Tanyaku.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Sambungku bertanya.

"Tidak ada." Jawabnya.

"Ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantumu."

"Uhmmm .... tidak ada Beam. Aku .. aku hanya sedang memikirkan Ploy disana."

"Oh." Jawabku.
"Ploy sudah dewasa, Phi. Dia sudah tahu, mana yang baik dan mana yang buruk. Dia bisa menjaga dirinya sendiri." Ujarku.

"Iya. Kau benar. Dia lebih kuat daripada aku."

Setelah itu kita sama-sama merenung merasakan angin yang sejuk dan sepoi-sepoi. Lalu aku menemukan ide untuk pergi mengajaknya keluar.

"Ah, ayo kita pergi." Seruku.

"Kemana?" Tanyanya.

"Kita beli makanan."

"Um. Baiklah." Jawabnya.

Aku langsung menggenggam tangannya dan menariknya untuk pergi menemaniku berkeliling.

Kami keluar dari Khao Yai, pergi ke Khao San Road untuk membeli beberapa makanan kecil sebagai Pendamping makan malam nanti kita berenam.

Aku tidak merasa malu jika harus mengandeng tanannya tidap detik di tempat umum atau bahkan aku tidak akan pernah melepaskannya meski semua orang memerhatikan kami.

Sad Story - Happy Ending [Book 2] & [Book 3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang