[64]

533 97 14
                                        

[Author]
Sepertinya Yo mulai dekat dengan Leaw, terlihat kekraban yang mereka berdua jalani setelah dari restoran tersebut.

Mereka berdua turun dan membawa dua kantung plastik masing-masing yang berisi bungkusan makanan untuk rapat Leaw nanti, tak hanya itu mereka berdua saling tertawa bersama. Begitu ia sampai di ruang rapat, mereka meletakan bawaan mereka diatas meja dan saat itulah Leaw meminta buku Yo untuk di tanda tangani.

"Eh, siapa namamu?" Tanya Leaw.

"Wayo, phi." Jawab Yo.

"Ah iya. Wayo. Berikan buku sama pulpenmu." Pinta Leaw.

"Oh, iya." Jawab Yo.

Langsing saja Yo meluarkan buku yang ia masukan kedalam kantung celananya bersama pulpennya, lalu ia memberikan pulpennya pada Leaw.

"Ini, phi." Ucap Yo.

Dengan mudahnya Leaw mengambilnya dan menanda tangani buku Yo di halaman yang sudah tersedia. Setelah itu Leaw kembalikan bukunya pada Yo.

"Terima kasih, phi." Ucap Yo.

"Um. Sama-sama." Jawab Leaw.
"Aku juga ingin berterima kasih padamu." Imbuhnya.

"Sama-sama, phi." Jawab Yo.

"Oh, ya. Atas nama teman-temanku kemarin, aku ingin minta maaf padamu karena sudah ...."

"Hoi, tidak apa-apa phi. Aku baik-baik saja. Ya ... itu sudah ku anggap sebagai pelatihan yang sudah ku lewatkan."

"Um. Baiklah."

"Yasudah, kalau begitu aku harus kembali kekelasku phi."

"Oh, ok. Sampai jumpa." Jawab Leaw.

Langsung saja Yo pergi dari ruangan tersebut untuk kembali kekelasnya.

Begitu Yo hendak hampir sampai di kelasnya ponselnya pun berdering, dilihatnya ternyata Phana sedang menelfonnya dan dijawab saja oleh Yo.

"Hallo, P'Pha." Jawab Yo.

"Hallo, sayang." Jawab Phana pula yang sedang menyetir mobil. "Jam berapa aku harus menjemputmu?" Tanyanya.

"Tiga sore." Jawab Yo menebak-nebak. "Tapi aku akan menghubungimu nanti." Imbuh Yo.

"Oh, baiklah."

"Kau sudah makan?"

"Belum."

"Hoi, mengapa kau belum makan?"

"Aku sedang tidak ada waktu memikirkan itu, karna waktuku ku habiskan untuk memikirkanmu saja." Gombalnya Phana.

Dan seketika Yo tersipu malu sambil besandar ditembok dan menggaruknya pula.

"Astaga, apa kau tidak bisa berhenti merayu??" Tanya Yo.

"Tidak bisa. Karena setiap saat aku merindukanmu, aku selalu ingin menggodaimu sayangku Yo!!"

"P'Pha. Hentikan!! Kau sedang mengikat jantungku."

"Hahaha .." Phana tertawa.

"Yasudah. Kembalilah ke pelajaranmu, akan ku tunggu telfon darimu." Ujar Phana.

"Baiklah."

"Sampai jumpa."

"Sampai jumpa sayang." Jawab Yo.

"Eh, tunggu. Apa baru aja aku mendengar kata "sayang" dari mulutmu?" Tanya Phana yang tidak jadi mengakhiri obrolannya.

"Errr ... sudahlah. Kau sudah cukup puas membuatku malu." Ujar Yo yang mati gaya.

Sad Story - Happy Ending [Book 2] & [Book 3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang