[43]

682 127 20
                                        

[Author]
Pagi hari pun tiba. Boom tertidur diatas sofa, sedangkan Phana tertidur dengan kepalanya diatas tangan Yo.

Mata Yo mulai berkedip-kedip, setelah itu urat ditangannya menampakan dengan jelaskarena tangan Yo bergerak.

Phana dibuat terbangun karena hal itu, sejenak ia merenggangkan otot-otot tulangnya dan kemudian ia agak terkejut karena begitu senang melihat Yo yang telah sadar.

"Yo."

Wayo membuka matanya setelah itu, lalu Boom juga terbangun karena sudah cukup nyenyak dalam tidurnya.

Sedangkan Kit ternyata sejak semalam tertidur bersandar di meja sambil mengerami kotak cincin yang ditemukannya di atas meja semalam.

Bibir dan wajahnya terlihat pucat sekali, Rambutnya pun membeku.

Ia membuka matanya karena sinar senja menusuk tajam ke arah matanya.

Begitu ia membuka matanya, terlihat jelas bawa matanya sedang memerah perih karena tak cukup tidur.

Langsung saja ia baru teringat akan kejadian semalam. Kejadian yang meyedihkan telah ia lewati semalam, membuatnya lantas berdiri tegak.

"Ming." Ucapnya teringat dengan Ming.

Namun ketika Kit hendak melewati pintu, terlebih dahulu Kit melewati pintu untuk menemuinya.

"Ow, Peak?" Ucap Kit yang sedikit terkejut.

"P'Kit." Ucap Peak yang terkejut melihat kepucatan wajah Kit.
"Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?" Tanyanya Peak.

Sejenak Peak memeriksa suhu tubuh Kit yang ternyata Kit sedang demam tinggi.

"Astaga, kau demam." Ujar Peak namun Peak bisa memikirkan apa yang dipikirkan oleh Kit.
"Aku kemari karena P'Ming memintaku untuk melihatmu ada disini atau tidak." Sambung Peak menjelaskan semuanya.

"Ming?" Ucap Kit.
"Dimana dia sekarang?" Sambung Kit bertanya.

"Dia ada dirumah." Jawab Peak.

Langsung saja Kit berlari  pergi untuk menemui Ming, dan Peak menyusulnya.

[Wayo]
Berada dalam satu ruangan berdua sangatlah membingungkan, apa lagi P'Pha sedang berusaha mengabaikanku meski ia sedang menyuapiku semangkuk bubur hangat dari rumah sakit ini.

"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku yang agak canggung.

"Kita sudah bertemu kemarin siang. Kenapa kau menanyakan kabarku?" Jawabnya yang absurd.

"Jika aku tidak bertanya padamu, mungkin kau akan diam terus."

"Itu karena aku sedang memberikanmu hukuman karena kau sudah berbohong padaku." Jawabnya.

Aku sedikit bingun dengan ucapannya, sempat aku berpikir apakah P'Pha sudah mengetahui semuanya?

"P'Pha. Yo minta maaf." Ucap permintaan maafku.

"Tidak akan ku maafkan." Jawabnya.

"Kenapa?"

"Karena kau begitu ceroboh." Sahutnya yang sedikit mengeraskan suaranya.

Aku terkejut melihat P'Pha bisa semarah itu, tapi apa yang bisa ku lakukan? Semuanya sudah di ketahui olehnya, dan mungkin Boom yang telah mengatakannya.

"Kau sudah dewasa."
"Dan bagaimana bisa kau tergelincir dari tangga? Anak kecil berumur 3 tahun saja sudah bisa hati-hati, sedangkan kau yang berumur 18 tahun tidak bisa hati-hati." Sambung.

Apa? Jadi P'Pha belum mengetahui semuanya?

Lalu apa yang dikatakan Boom padanya karena ternyata ia bisa semarah ini jika bukan karena sakitku?

Sad Story - Happy Ending [Book 2] & [Book 3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang