[67]

492 91 4
                                        

"Dan ku mohon. Jangan menggangguku lagi, kita masih bisa berteman. Jangan memberiku harapan lagi." Ucap Beam.

Beam pun lantas berpaling dan Forth dan setelah itu melangkahkan kakinya untuk pergi, dengan hati yang hancur berkeping-keping meninggalkan goresan kerutan dibibirnya itu.

Forth tidak bisa mengejarnya karena harapannya sudah luntur dan sirna begitu saja.

*Bruuuk*
Dan tiba-tiba saja Forth ambruk begitu saja, sejenak Beam berhenti untuk menyapu air matanya.

Dan ketika ia hendak berbalik untuk mengatakan satu hal lagi pada Forth, ia begitu terkesiap saat melihat Forth tergeletak tak sadarkan diri.

"P'Forth!" Beam terkesiap.

Beam lantas menghampiri Forth dan memangku kepalanya dan coba untuk dibangunkannya.

"P'Forth. Phi. Bangun Phi!! Tolong!! Seseorang tolong saya!! Phi ... bangunlah ... ku mohon!! Jangan tinggalkan aku!! Bangun!! Aku menyayangimu!!" Ucap resahnya Beam.

Dan saat itulah Beam membawa Forth kerumah sakit dengan di kawan-kawannya di restoran tadi.

Dan di pagi harinya ....

*Beeeeeppp ... Beeeeeepp ...*
Yo terbangun di pagi hari karena ponselnya diatas laci berdering cukup keras sehingga mengganggu tidurnya.

Dari dalam selimut Yo mengulurkan tangannya dan mengambil ponsel tersebut.

"Swadii Krub, Phi." Jawab Yo yang masih lemas mengantuk.

Dan tak lama kemudian Yo bangkit seperti zombie karena terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Beam.

"Ha? Kau akan pergi?" Ucap kagetnya.
"Baiklah .. baiklah. Aku akan kesana. Tunggulah sebentar." Ucap Yo.

Yo pun lanta melompat dari tempat tidurnya dan segera pergi untuk mandi.

Sementara itu Ming juga baru saja bangun tidur dan langsung menghampiri Kit yang tengah memasak sarapan itu.

"Selamat pagi Kit." Ujar Ming.

"Pagi Ming." Jawab Kit.

Ming yang manja lantas menunjukan sikapnya itu pada Kit. Ia peluk pacarnya dengan sedikit geraman ngantuknya.

"Heh, berhentilah bersikap manja seperti ini." Ujar Kit.

"Kebiasaan lama susah dihilangkan, sayang!!" Jawab Ming.

"Oh ya, tentang temanmu itu .."

"Siapa?"

"P'Forth. Apa dia putus dengan Beam?" Sambung Kit bertanya.

"Tentu saja tidak, bukankah kita melihatnya masih tetap mesra saja?" Ucap Ming.

"Tentu saja. Tapi semalam mereka berdua terlihat aneh. Mereka tidak seperti biasanya. Yang ku rasakan kalau mereka berdua saling menjauh."

"Tapi yang ku rasakan tidak." Sahutnya Ming.

"Kenapa?"

"Yang kurasakan justru nikmat." Ucap Ming yang mulai tak karuan.

Kit lantas memukulnya dengan nampan setelah ia memasukan bumbu-bumbunya kedalam penggorengan sambil mengatakan "Sialan."

Ming justru tertawa maklum dia tidak punya rasa malu. hehehe.

*Tring Trong.*

"Bukakan, pintunya." Pinta Kit pada Ming.

"Ouch. Kau saja, aku masih ingin tidur sebentar." Ucap malasnya Ming.

Sad Story - Happy Ending [Book 2] & [Book 3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang