[58]

642 105 15
                                        

[Wayo]
Hari pertama aku mulai mengikuti pelajaran di kampus. Sudah terlambat 4 hari setelah masa pelatihan Mahasiswa Baru berlansung.

Suasana cukup canggung bagiku karena aku bertemu dengan mahasiswa tahun ajaran sepertiku.

Boom, seandainya ada kau bersamaku saat ini mungkin hidupku tidak secanggung ini karena kekonyolanmu.

Tapi ya sudahlah, aku harus bisa hidup sendiri tanpa Boom. Aku memasuki kelas yang kebetulan aku sudah terlambat pula.

Pembimbing wanita bertubuh besar dengan wajah seramnya langsung menengok paksa kearahku.

"Siapa kau?" Tanyanya wanita paruh baya itu yang ternyata adalah dosenku.

"Swadii Krub. Nama saya Wayo Jatturaphon, mahasiswa baru tahun ini, i .. i .. ibu." Ucap takut.

"Hei." Sahutnya membentak. "Jangan panggil saya ibu. Panggil saya ma'am (madam maksudnya). Madam Lol ..." Ucapnya belum kelor tapi langsung ku sahuti

"LOL?" Ucap bingungku.

Semua langsung tertawa setelah aku mengatakan hal itu.

Tunggu, apakah ada yang salah dengan ucapanku? Mengapa mereka semua tertawa?

"DIAM!!" Bentaknya kepada semua mahasiswa dikelas itu.

"Dan kamu. Siapa namamu?" Tanyanya yang sedang lupa.

"Wayo, krub." Jawabku.

"Ah, iya itu. Saya belum selesai berbicara." Sahutnya.
"Nama saya ma'am Lolly. Paham? Lolly. L-O-L-L-Y .. LO .... LLY ..." Ucap dosen konyol itu sembari memainkan lidahnya.

'Astaga, ini adalah kesukaan Boom. 😂' Batinku.

"Ah, cepat kebangkumu sana." Pinta ma'am Lolly.

"Terima kasih." Jawabku memberi salam.

Aku pun lantas menuju bangkuku dan setelah itu duduk. Kemudian seseorang sebaya denganku yang duduk disebelahku mengajakku mengobrol.

"Hei. Kau Wayo kan?" Tebaknya.

"Krub." Jawabku mengiyakannya.

"Kau dari mana saja? Mengapa kau tidak hadir di pelatihan, kau sungguh membuatku kerepotan." Keluh kesahnya.

"Oh. Maafkan aku. Aku ada urusan penting yang membuatku tidak bisa hadir."

"Yasudah. Untung saja pelatihannya sangat mudah, aku bisa menyelesaikannya." Ujarnya.
"Oh ya, tunggu dulu." Pintanya.

Lalu ia merogoh tasnya dan setelah itu mengeluarkan sebuah buku kecil dan memberikannya padaku.

"Ini." Ucapnya sembari memberikan buku tersebut.

"Apa ini?" Tanyaku yang bingung.

"Aku sudah mengumpulkan semua tanda tangan seluruh mahasiswa disini dan itu sebagai tugas kita saat pelatihan. Aku juga sudah mengumpulkannya untukmu. Tapi milikmu masih kurang satu orang lagi, karena dia tidak mau memberikan tanda-tangannya jika bukan pemiliknya sendiri yang memintanya." Jelasnya.

"Oh. Baiklah. Terima kasih ya." Ucapku.

"Errr ... sama-sama."

"Tapi, bisakah kau membantuku untuk menemukan orang yang kau maksud?" Pintaku.

"Baiklah. Nanti aku akan membantmu." Jawabnya.

"Terima kasih ya?"

Setelah itu kami melanjutkan pelajaran kami hari itu.

Dan saat waktu istirahat telah tiba, pria ini menepati janjinya untuk membawaku bertemu ke seseorang yang belum menanda tangani bukuku.

Ah! iya. Aku tadi sudah berkenalan dengannya.

Sad Story - Happy Ending [Book 2] & [Book 3]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang