Ars hanya memberi Roy waktu sepuluh menit untuk mengemasi barang-barangnya sekaligus mengurus administrasi. Sementara menunggu, dia memanfaatkan waktunya bertanya pada pegawai front office, seorang wanita yang memasang hair clip bangs pada poninya.
"Selamat siang," Ars berdiri dari sofa yang membujur di lobi. "Saya Detektif Ars Zhen dari DPM." Ars menunjukkan lencananya.
"Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan pada Anda," kata Ars seraya menyandarkan tangannya di meja counter yang tinggi.
"Baik, detektif. Silahkan." Pegawai itu membetulkan hair clip bangsnya.
Kamu cantik, mbak, tapi ponimu justru membuatmu terlihat....tolol, batin Ars.
"Apakah Tuan Roy Wijayanto menerima kunjungan tamu selama waktu tinggalnya di sini, mbak?"
"Sebentar, detektif." Pegawai front office itu membuka sebuah buku persegi panjang yang bertuliskan BUKU TAMU. "Ini halaman pemesanan kamar untuk Tuan Roy Wijayanto. Di sini Anda dapat melihat apakah Tuan Roy menerima tamu atau tidak karena tamu-tamu yang mengunjungi tamu-tamu kami harus menulis identitas mereka di buku ini," jelas pegawai itu sistematis seraya menggeser buku tamu agar Ars dapat melihatnya dengan jelas.
Dia tidak menerima tamu sekalipun. Lalu siapa yang menukar oleh-oleh novel untuk Ralline dengan novel yang sudah diisi Black Heart, batin Ars.
"Apakah guest house menyediakan servis makan untuk tamu?" tanya Ars, mencoba mencari celah yang dapat digunakan oleh seseorang untuk menukar novel itu.
"Ya. Hanya sarapan saja, detektif. Selebihnya para tamu membeli makan sendiri."
"Bagaimana dengan Tuan Roy? Apa dia membeli makan melalui delivery order atau dia keluar guest house untuk membeli makan?"
"Saya tidak tahu, detektif. Saya tidak memperhatikan. Lagipula saya bukan satu-satunya pegawai front office di sini. Mungkin Laily dapat menjawab pertanyaan Anda."
"Baiklah, saya ingin bertemu dengan Laily sekarang."
"Dia masuk shift siang, detektif. Anda dapat menemuinya pukul satu nanti."
Ars mendengus. "Baiklah, terima kasih. Ngomong-ngomong, poninya bagus," puji Ars tidak setulus hati. Dia tidak habis pikir bagaimana seorang wanita tega melukai dirinya sendiri dengan merelakan dirinya sebagai lelucon dengan mengenakan sesuatu yang tidak sesuai untuk usianya atas nama trend. Ars memuji wanita itu untuk menyenangkan hatinya atas keterangan yang diberikannya.
Sesaat setelah Ars selesai bertanya, Roy keluar dengan membawa backpacknya.
"Saya sudah, siap, detektif."
"Baik, sebentar, Roy, saya harus menelepon dulu."
Roy mengangguk lalu melangkah ke sofa dan duduk di sana. Sementara Ars memilih untuk melakukan pembicaraan telepon di luar guest house.
"Ya, Detektif Ars."
"Dokter Helmy, saya minta tolong Anda untuk memeriksa mayat di Timor merah kemarin. Apa ada tahi lalat kecil di bagian belakang telinga, tepat di dekat daun telinga sebelah kanan?"
"Oh, baik, detektif. Tunggu sebentar."
"Saya akan telepon Anda lima menit lagi. Saya harus menelepon yang lain."
"Baik."
Kini Ars menelepon Denial. "Den, masih di kubikel?"
"Ya. Kenapa?"
"Hubungi Detektif Pravianti. Minta dia mencari data penculikan yang terjadi sepuluh tahun yang lalu di Palembang. Lebih bagus kalau dia dapat mengembangkannya ke tempat-tempat lain. Dan target penculikannya adalah salah satu dari anak kembar. Tolong juga beritahu Pratu Teguh untuk menemui Laily, pegawai front office Guest House Nirwana di Jalan Kawi. Minta dia mencari informasi tentang tamu yang bernama Roy Wijayanto. Terutama tentang waktu-waktu keberadaannya dan apakah dia sering menghabiskan waktu di luar atau di dalam guest house."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ars: CYGNUS (Seri ke-3)
Mystery / ThrillerDokter Ralline Callista Mulya, dokter forensik DPM (Divisi Polisi Malang) sekaligus sahabat Detektif Ars Zhen, harus mendekam di sel tahanan DPM saat salah seekor K-9 mengendus Black Heart di meja kerjanya. Kasus itu segera ditangani oleh Detektif A...
