Bu William membanting pintu ruang tamunya hingga kaca-kaca jendela bergetar. Lalu dengan hati yang masih meradang, dia melangkah lebar ke kamar Bella. Digerakkannya handle pintu dengan sekali hentakan keras.
"Bella, buka pintunya." Bu William mengepalkan tangannya untuk menggedor-gedor pintu yang ternyata dikunci.
"Bella, buka pintunya," gedor Bu William, lebih keras dari sebelumnya.
Di dalam kamar, Bella awalnya hendak bertahan mengunci pintu. Tapi akhirnya dia melangkah gontai ke pintu dan membukanya karena tahu mamanya tidak akan berhenti menggedor sampai pintu itu dibuka. Rasa malunya pada tetangga kanan kiri membuatnya memilih menghadapi amarah di balik pintu kamarnya itu.
"Kamu ini apa-apaan? Ngapain kamu tadi mencampuri pembicaraan mama? Terlebih tentang alasan meninggalnya papa," sembur Bu William ketika pintu terbuka.
Bella tidak menanggapi. Dia kembali duduk di tepi kasurnya.
"Nah...ngapain juga mama bohong tentang alasan meninggalnya papa. Udah jelas-jelas tertulis data di Kantor Kematian kalau papa meninggal karena over dosis, kan?," katanya tanpa beban.
"Itu gara-gara Kepala Kantor Kematian yang tidak mau disuap untuk memalsukan data kematian papamu," rutuk Bu William.
"Bagus dong. Beruntung masih ada orang di dunia ini yang tidak mau hidupnya diperbudak oleh uang untuk melakukan sesuatu yang bukan pekerjaannya."
"Jangan sok suci kamu, Bella." Mata Bu William memicing. Lalu sedetik kemudian dia melangkah untuk lebih mendekati putrinya seraya mengacungkan telunjuknya ke wajah putrinya itu. "Dengar ya, Bella. Mama berbohong tentang alasan meninggalnya papa agar kita dapat tetap hidup layak dan kamu serta dua kakakmu dapat sekolah dengan fasilitas pendidikan yang sangat baik. Kamu tahu sendiri dua kakakmu yang kuliah di Jerman butuh biaya yang tidak sedikit. Dan sebentar lagi kamu juga berangkat kesana. Kalau bukan Cygnus yang membiayai, lalu siapa? Mama? Jangan mimpi kamu!" Mata Bu William melotot.
"Aku kan sudah bolak balik bilang, ma, nggak kuliah di Jerman pun nggak apa-apa. Lagian aku malas kalau harus kuliah tapi masih harus memikirkan balas budi. Hutang budi nggak akan bisa dinilai dengan uang, ma."
"Jangan sok tahu kamu, Bel. Kalau bukan karena Cygnus, dua kakakmu nggak akan bisa belajar di luar negeri. Kehidupan keluarga kita juga nggak akan terjamin kalau bukan karena Cygnus. Nasi dan lauk pauk yang kamu makan sehari-hari juga kiriman dari Cygnus. Mama bayar uang sekolahmu juga karena bekerja untuk Cygnus. Jadi jangan pernah berpikir kalau darahmu suci karena tidak terpengaruh olehnya. Kita semua sudah kotor karena kita harus makan untuk tetap hidup. Paham?"
Bella hanya mengedikkan bahunya. Perdebatan dengan mamanya bertopik Cygnus itu bukan yang pertama kalinya. Dia sudah berulang kali mengatakan pada kedua orang tuanya untuk melepaskan diri mereka dari Cygnus tapi untuk alasan yang tidak dipahaminya, mereka memutuskan untuk bertahan. Memang tidak dapat dipungkiri kalau kehidupan mereka menjadi lebih terjamin ketika kedua orang tuanya bekerja untuk sebuah perusahaan pemotongan unggas di Lawang. Bahkan papanya memiliki uang yang menurutnya sangat berlebih untuk menyekolahkan dua kakaknya di Jerman. Namun ketika tahu bahwa papanya juga sanggup membeli zat-zat terlarang yang akhirnya mengantarnya ke kematian dengan uang hasil kerjanya tersebut, Bella merasakan adanya kesalahan. Tapi dia tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini pengetahuannya tentang pekerjaan kedua orang tuanya hanyalah tentang perusahaan pemotongan unggas. Dia tidak tahu apa hubungan perusahaan itu dengan kata Cygnus. Kedua orang tuanya tidak pernah membawa atau mengijinkannya ikut ke tempat kerja mereka. Ketika suatu hari dia nekat mengunjungi papa mamanya di kantor untuk memenuhi rasa ingin tahunya, keduanya marah besar untuk alasan yang tidak diketahuinya.
______________
Denial mengemudikan Gazoonya dengan kening berkerut, memikirkan yang baru saja terjadi di beranda rumah keluarga William. Mengapa keterangan kematian Pak William yang diberikan oleh Kantor Kematian dan putrinya berbeda dengan yang diberikan oleh istrinya? Ada yang tidak beres, batin Denial seraya melirik jam tangannya lalu mengarahkan Gazoo ke Kantor Kematian.
"Detektif Denial, kok kemari lagi?" tanya seorang satpam saat Denial membuka kaca mobil.
"Ya, Pak Eddy. Ada perlu lagi dengan Pak Gunawan. Apa beliau ada di kantor, pak?"
"Sepertinya ada. Saya tidak melihat mobilnya keluar."
"Hmmm, baiklah. Terima kasih, Pak Eddy." Denial menutup kaca mobilnya dan mengarahkan Gazoo ke tempat parkir mobil. Saat turun dari mobilnya, Denial dapat melihat Pak Gunawan sedang duduk di kursi kerjanya karena letak ruang kerja Kepala Kantor Kematian itu dekat dengan tempat parkir mobil.
Denial mengetuk pintu ruangan dua kali dan langsung masuk setelah dipersilahkan.
"Detektif Denial, ada perlu apa lagi? Bukankah baru tadi pagi Anda datang kemari?"
Denial tersenyum. "Benar, Pak Gunawan."
"Silahkan duduk." Pak Gunawan mempersilahkan.
"Kali ini pun pertanyaan saya masih sama dengan yang saya ajukan tadi pagi," kata Denial seraya duduk di salah satu kursi di depan meja Pak Gunawan.
Alis Pak Gunawan bertaut. "Maksud Anda tentang kematian Pak William?"
"Benar. Begini, Pak Gun," Denial melipat kedua tangannya di atas meja. "Saya baru saja dari rumah Pak William. Istrinya mengatakan kalau Pak William meninggal karena serangan jantung. Tapi keterangan dari Kantor Kematian dan juga putrinya mengatakan kalau Pak William meninggal karena OD. Mengapa ada perbedaan informasi?"
Pak Gunawan menyandarkan punggungnya ke kursi seraya melipat kedua tangannya di dada. Berkali-kali dia menghela nafas panjang sebelum kembali membebaskan kedua tangannya lalu menarik punggungnya maju.
"Maaf, saya tidak menceritakan sesuatu pada Anda tadi pagi. Bu William mencoba memeras saya dengan meminta saya menulis keterangan serangan jantung sebagai alasan meninggalnya suaminya."
"Apa?" Kini giliran Denial yang membebaskan kedua tangannya. Dia menarik maju punggungnya dengan wajah yang terbelit rasa terkejut. "Mengapa Bu William melakukan itu?"
"Saya tidak tahu. Dia tidak mengatakannya. Dia hanya meletakkan uang sepuluh juta di atas meja saya ini," Pak Gunawan menunjuk permukaan mejanya, "dan meminta saya merubah keterangan kematian suaminya."
"Sepuluh juta?" Denial membuka ke sepuluh jarinya.
"Ya, detektif. Ketika saya menanyakan alasannya, Bu William tidak mengatakan alasannya. Dia hanya meminta saya menerima uang itu dan juga meminta saya untuk tidak banyak bicara dan tidak banyak bertanya."
Sepuluh juta adalah jumlah yang cukup besar untuk uang tutup mulut sekaligus merubah alasan keterangan kematian. Ada apa sebenarnya di balik semua ini?, batin Denial.
"Pak Gun, kapan Bu William datang kemari untuk menyuap Anda?"
"Dua hari setelah meninggalnya suaminya. Sehari sebelumnya ada laporan dari rumah sakit bahwa pasien yang bernama William Sandjaja meninggal karena OD. Keesokkan harinya istri Pak William datang kemari dengan membawa uang sepuluh juta itu."
"Sendirian?"
"Saya pikir tidak. Hmmm, maksud saya, dia memang sendirian masuk ke ruangan saya. Tapi sepertinya ada orang yang menunggunya di dalam mobil minibus yang mengantarnya."
"Apa warna minibusnya? Anda tahu platnya?"
"Minibus abu-abu. Tapi saya tidak tahu platnya. Kaca filmnya juga hitam. Jadi saya tidak tahu persis berapa orang di dalam mobil itu."
Denial mengangguk-angguk. "Baiklah, Pak Gun, informasi Anda benar-benar membantu. Terima kasih banyak." Denial berdiri dan menjabat tangan Pak Gunawan. "Dan salut untuk Anda yang telah menjadi abdi negara yang baik dengan tidak mengijinkan diri Anda untuk menerima suap."
"Terima kasih, Detektif Denial. Saya tidak akan sanggup menanggung dosa karena telah menafkahi keluarga saya dengan uang haram." Pak Gunawan tersenyum.
Sepertinya aku dan Ars akan pulang larut malam ini. Atau bahkan...tidak pulang, batin Denial, tersenyum kecut saat mengarahkan Gazoo menuju ke DPM.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ars: CYGNUS (Seri ke-3)
Misterio / SuspensoDokter Ralline Callista Mulya, dokter forensik DPM (Divisi Polisi Malang) sekaligus sahabat Detektif Ars Zhen, harus mendekam di sel tahanan DPM saat salah seekor K-9 mengendus Black Heart di meja kerjanya. Kasus itu segera ditangani oleh Detektif A...
