Ars turun dari Si Hiu dengan langkah lebar. Tempat pertama yang akan ditujunya adalah ruangan Kapten Montreal. Dia akan melaporkan apa yang baru saja dilakukannya dan akan dilakukannya. Mungkin Kapten Montreal akan marah padanya karena telah melanggar perintah untuk tidak mencampuri urusan 182 dalam kasus Ralline. Tapi Ars tidak sabar ingin segera membebaskan sahabatnya dari sel. Menurutnya kerja Detektif Hanif dan Detektif Erlita terlalu lamban.
Saat melewati salah satu mobil, Ars spontan mundur beberapa langkah, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mengamati keadaan.
Sepi, batinnya.
Ars lalu berjongkok memeriksa ban salah satu mobil yang tadi dilewatinya. Dikeluarkannya ponselnya dari dalam tas untuk mencocokkan foto jejak mobil yang sempat diambilnya di tempat pemotongan unggas dengan jejak ban salah satu mobil.
Jejak ban mobil ini persis dengan yang ada di foto ini, batinnya dengan jantung berdebar, menyadari kuatnya kecurigaannya pada salah satu rekan detektif berdasarkan informasi yang diperolehnya dari Labkrim.
Ars lekas berdiri lalu kembali melangkah menuju ruangan kaptennya. Dilihatnya banyak orang duduk berjejer di kursi selasar di depan Divisi 184. Ini pasti pekerja gudang di tempat pemotongan unggas. Mereka memang harus diperiksa satu per satu untuk lebih mengetahui bagaimana sebenarnya proses penyelundupan blue safir ke dalam perut angsa itu, batinnya.
"Capt," Ars membuka pintu ruangan kaptennya setelah dua kali mengetuk.
Kapten Montreal yang sedang berbicara di telepon mengangkat satu tangannya, memberi kode pada Ars untuk duduk dan menunggu.
Ars mengangguk lalu duduk di salah satu kursi di depan meja Kapten Montreal. Iseng-iseng diambilnya ponselnya dari dalam tas untuk membunuh waktu. Dilihatnya pesan WA dari Janied berada di urutan pertama dari beberapa pesan yang mendesak inboxnya.
Pernah nonton Dilan? Film terbaper 2018. Kata Dilan, rindu itu berat. Kamu nggak akan kuat. Dilan bohong ah, sepertinya kamu kuat-kuat aja, ya. I wonder if you miss me as much as I miss you, babe?
Ars tersenyum karena pesan lucu Janied. Tapi dia juga sekaligus merasa bersedih dan bersalah karena menyadari waktunya untuk Janied akhir-akhir ini memang sangat sedikit.
Diketiknya pesan balasan. Nggak, Dilan nggak bohong kok. Aku juga nggak kuat. Stop wondering! I miss you as much as you do, hon.
"Maaf, lama menunggu." Kapten Montreal menutup telepon.
Ars mengangkat wajah sembari tersenyum.
"Kapten Anas barusan telepon, menanyakan perkembangan pengejaran sekaligus penangkapan Tony."
"Oh." Ars mengangguk-angguk, seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Saya juga baru saja datang dari Jalan Jati."
"Bagaimana kondisi di sana, Capt?"
"Sedikit kacau waktu saya datang. Kami dibantu beberapa pengunjung restoran untuk mengevakuasi anak-anak yang sedang bermain di play ground. Meski tersangka melarikan diri tapi kami nggak mau ambil resiko, Ars. Siapa tahu dia sudah memasang bom atau benda-benda berbahaya lainnya. Kalau dia punya pistol, bisa jadi, kan, dia punya senjata-senjata lain."
"Ya, Capt, saya mengerti."
"Tapi saya lega menerima laporan dari kamu. Good job, Ars." Kapten Montreal mengangkat dua jempolnya.
"Terima kasih, Capt. Ini kerja tim. Polisi berseragam juga bertindak sigap dan cepat. Tanpa mereka, Tony pasti masih on the run."
Kapten Montreal mengangguk-angguk. "Nanti saya traktir mereka makan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ars: CYGNUS (Seri ke-3)
Mystery / ThrillerDokter Ralline Callista Mulya, dokter forensik DPM (Divisi Polisi Malang) sekaligus sahabat Detektif Ars Zhen, harus mendekam di sel tahanan DPM saat salah seekor K-9 mengendus Black Heart di meja kerjanya. Kasus itu segera ditangani oleh Detektif A...
