Marwan membasahi bibirnya dengan lidah. Saat melakukan itu, dirasakannya otot-otot ujung bibirnya bergerak-gerak. Dipandanginya foto pria yang terpampang di hadapannya. Sedetik kemudian dia menengadah menatap Denial lalu pelan-pelan menunduk lagi. Sesekali matanya melirik foto itu.
"Bagaimana? Apa kamu mengenalnya?"
Marwan memainkan jari-jarinya. Hukumanku pasti akan bertambah lagi karena tampaknya polisi sudah berhasil mengungkap perbuatanku. Percuma saja tadi aku memberikan informasi yang mereka inginkan kalau ternyata satu lagi perbuatanku dapat membuatku mendekam lebih lama di penjara, pikir Marwan tanpa dapat menyimpulkan apakah dia menyesal atau tidak karena telah memberikan informasi pada polisi. Salah satu judul film Warkop Maju Kena Mundur Kena rupanya sedang kualami sekarang, batinnya lagi.
Alih-alih menjawab pertanyaan Denial, Marwan melayangkan ingatannya pada kejadian tiga hari sebelumnya ketika dia menerima telepon dari Pak Tony. Waktu itu dia sedang berada di rumah Narti, berencana mengantar Hananto ke sekolah.
"Bantu temanku. Kamu tidak usah banyak bicara dan banyak tanya. Setelah tugasmu selesai, kemarilah." Waktu itu Pak Tony langsung menutup pembicaraan setelah menyebutkan nama tempat yang harus didatanginya, sebuah area bakal perumahan di daerah Blimbing.
Dia ingat dirinya langsung meluncur ke tempat yang disebutkan Pak Tony segera setelah bosnya mengakhiri pembicaraan. Dia terpaksa membuat Narti memberengut karena harus membuatnya terburu-buru mengantar Hananto ke sekolah sendirian.
Tanah bakal perumahan itu sepi ketika dia tiba. Sudah ada beberapa material bangunan tapi tidak satu pun tukang-tukang terlihat. Ada dua mobil yang diparkir di dekat tumpukan bahan material. Satu mobil Timor warna merah dan satu mobil lain diketahuinya adalah milik Pak Tony. Dilihatnya seorang wanita keluar dari mobil milik Pak Tony. Tangan kanannya membawa sesuatu yang beberapa saat kemudian diketahuinya sebagai sebuah kemeja. Dia hanya dapat melihat tatapan wajah wanita itu karena area hidung ke bawah ditutupi dengan kain. Wanita semampai, berambut sebahu dan mengenakan anting-anting panjang yang mempunyai sulur-sulur yang dihiasi oleh mata-mata anting yang berkilauan disetiap sulurnya itu keluar dari pintu belakang mobil dan langsung membuka pintu depan mobil, area sopir. Di sana ada seorang pria duduk bersandar di jok dengan kemeja yang basah oleh darah yang gencar mengalir dari lehernya.
"Bantu aku memindahkan orang ini ke mobil itu." Wanita itu mengedikkan kepalanya ke mobil Timor merah lalu melepas kemeja yang dikenakan pria itu. Tangan wanita itu meskipun terbungkus sarung tangan bergerak cepat dan luwes melepas kancing demi kancing kemeja, membukanya, melepasnya dan menggantinya dengan kemeja baru. Sebenarnya Marwan juga bertanya-tanya mengapa wanita itu harus mengganti baju si mayat, tapi teringat pesan bosnya untuk tidak banyak bicara dan tidak banyak tanya, Marwan memilih diam.
"Buka pintu belakang mobil itu dan sedikit rebahkan joknya agar dia dapat bersandar," perintah wanita itu.
Marwan melakukan apa yang diperintahkan. Saat dia kembali si mayat sudah mengenakan kemeja baru. Kemeja warna abu-abu gelap yang bagian dadanya sudah sedikit lembab karena darah di bagian leher masih terus mengalir.
"Ayo." Wanita itu bergeser, memberi ruang agar dia dapat membungkuk dan mengangkat mayat pria itu. "Sandarkan dia di jok belakang," kata wanita itu saat mereka mengangkat si mayat.
Saat memindahkan si mayat, lagi-lagi dia dibuat terkejut oleh kemampuan wanita itu dalam mengangkat beban. Seolah-olah wanita itu sudah terbiasa melatih otot-otot tubuhnya sehingga dia tidak merasa kesulitan mengangkat tubuh si mayat yang berkisar sekitar lima puluh kilogram.
"Aku masuk dulu," wanita itu memberitahunya lalu masuk dan mendudukkan mayat pria itu. Wanita itu berusaha keras mendudukkan si mayat sesuai kemauannya karena tingkat kesulitan menggeser tubuh orang yang sudah mati dan yang masih hidup terbilang berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ars: CYGNUS (Seri ke-3)
Детектив / ТриллерDokter Ralline Callista Mulya, dokter forensik DPM (Divisi Polisi Malang) sekaligus sahabat Detektif Ars Zhen, harus mendekam di sel tahanan DPM saat salah seekor K-9 mengendus Black Heart di meja kerjanya. Kasus itu segera ditangani oleh Detektif A...
