Ekspresi wajah Marwan carut marut saat Detektif Marabunta masuk ke ruang interogasi. Itu adalah pertama kalinya dia berurusan dengan polisi. Selama ini dia sudah bekerja dengan hati-hati. Dia tahu mata polisi-polisi ada dimana-mana tapi dia tahu cara mengecoh mereka. Karenanya dia sedikit heran saat tahu polisi mengejar-ngejarnya. Meski dia terang-terangan mendatangi penjara DPM untuk membunuh Bu William, dia yakin itu bukanlah petunjuk awal polisi untuk mengejarnya.
Sebelum bekerja untuk Tony, Marwan bekerja serabutan. Meski tidak mempunyai tanggungan keluarga tapi impiannya untuk membahagiakan Narti membuatnya bersedia mengerjakan apapun demi memenuhi celengan ayam jagonya. Sejak pertama kali bertukar tatap mata di Freezing, janda beranak satu itu sudah sanggup mengobrak-abrik waktu tidurnya sekaligus menjadi ekstasinya untuk bekerja ini-itu dengan jam kerja yang tidak tentu. Marwan hanya mengambil sedikit dari hasil bekerjanya sebagai sopir, kuli bangunan, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang diminta tetangganya. Kebanyakan hasilnya untuk membeli segelas besar kopi dan satu pak rokok. Sebelum bertemu Narti, dia tergolong perokok yang nyepur. Disebut demikian karena mulutnya tidak ubahnya seperti lokomotif kereta api yang terus menerus mengeluarkan asap. Tapi Narti membuatnya berubah. Sejak pertemuan mereka itu satu slop rokok dibelinya untuk persediaan selama satu bulan. Bahkan lebih. Meski saat sekolah dulu otaknya tidak sempat riuh oleh wara-wiri sin, cos dan tan, dia masih bisa menghitung jumlah rokok dalam satu slop dan berapa rokok yang harus dihisapnya per hari agar uangnya dapat masuk ke perut si jago.
Marwan tidak menyimpan uangnya di bank. Bapak dan emaknya dulu juga tidak pernah melakukan itu. Mereka lebih suka menyimpan uang di bawah kasur atau celengan tanah liat yang dipendam di dalam tanah di halaman belakang rumah mereka jika celengan itu sudah penuh. Hanya bapak dan emaknya saja yang tahu lubang-lubang penyimpanan celengan itu.
Pertemuannya dengan Tony di Freezing menguatkan kebiasaan menyimpan uang di dalam celengan karena Tony mengatakan pekerjaannya akan membuat dompetnya cepat menebal. Dan jika polisi-polisi sampai tahu pekerjaannya, mereka akan memeriksa rekeningnya dan menemukan deretan nominal yang fantastis untuk seseorang yang terdaftar sebagai pekerja serabutan. Kini saat menatap polisi detektif di hadapannya, Marwan tahu kedok pekerjaannya terbongkar sudah. Tapi jika mereka memeriksa rekeningnya, mereka pasti akan bertanya-tanya karena tidak menemukan namanya dalam daftar nasabah bank manapun. Mereka juga tidak akan menyangka kalau hasil bekerjanya dipendam di dalam celengan jago di halaman belakang rumahnya. Hanya dia yang tahu lubangnya.
"Ini kalungmu?" Detektif Marabunta menyodorkan kalung di dalam plastik bersegel untuk membuka sesi interogasinya.
Marwan sedikit membungkukkan punggungnya untuk melihat kalung itu lebih dekat. Wajahnya seketika terkesiap teringat kalung yang dipinjam oleh Samsul, salah seorang teman sopirnya. Saat teringat nama Samsul dan melihat kalung itu, dia menemukan titik terang penyebab polisi-polisi mengejarnya. Samsul pasti sudah mengatakan semuanya. Dan sebentar lagi, giliranku, batinnya.
"Apa arti kata Cygnus itu?" Detektif Marabunta menyilangkan kedua tangannya dan menumpukannya di atas meja.
"Saya tidak tahu." Marwan melihat wajah Detektif Marabunta sarat dengan ketidakpercayaan akan jawabannya tapi setidaknya dia sudah mengatakan yang sebenarnya. Dia benar-benar tidak tahu arti kata itu meski dia sering mendengarnya di tempatnya bekerja. Dia pernah menanyakan arti kata itu pada Tony atau Pak Yanto tapi mereka tidak pernah memberitahunya.
"Kalau begitu katakan siapa orang yang tahu arti dari kata itu? Bosmu? Siapa dia?" Detektif Marabunta menarik kedua tangannya. Kini dia melipatnya di depan dada.
Marwan melawan tatap mata Detektif Marabunta. Namun sedetik kemudian dia menunduk. Pikirannya kalut. Antara harus mengatakan yang sebenarnya atau menutup-nutupi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ars: CYGNUS (Seri ke-3)
Mystery / ThrillerDokter Ralline Callista Mulya, dokter forensik DPM (Divisi Polisi Malang) sekaligus sahabat Detektif Ars Zhen, harus mendekam di sel tahanan DPM saat salah seekor K-9 mengendus Black Heart di meja kerjanya. Kasus itu segera ditangani oleh Detektif A...
