(7) Di Rumah Pak William

295 41 2
                                        

Denial menatap sesaat rumah Pak William, memastikan bahwa dia berdiri di depan rumah yang dicarinya sesuai dengan informasi alamat yang diperolehnya. Seorang wanita keluar dari dalam rumah beberapa detik setelah dia memencet bel.

"Cari siapa, mas?" tanya wanita itu dari beranda.

Denial tersenyum seraya mengeluarkan lencananya. "Saya Detektif Denial Sebastian dari DPM ingin bertemu dengan Ibu William."

"Apakah kedatangan Anda kemari adalah tentang mobil yang hilang, detektif?"

"Benar, bu." Denial mengangguk.

"Oh sebentar, sebentar." Wanita itu berlalu ke dalam lalu kembali lagi keluar dengan membawa kunci.

"Ibu William ada, bu?"

Wanita itu tidak menjawab. Dia menunduk untuk membuka kunci pagar. Setelah shackle gembok terbebas dari lubangnya, wanita itu membuka pagar.

"Saya Bu William, detektif. Bu William melangkah mendahului Denial menuju ke beranda. "Apakah mobil kami sudah ditemukan?"

"Sudah, bu. Tapi ada sesuatu yang harus saya bicarakan terkait mobil itu?"

"Sesuatu? Sesuatu apa? Apa keadaannya sudah hancur?"

"Oh, tidak, tidak." Denial mengatur posisi duduknya agar dia dapat menatap wajah Bu William sebelum menyampaikan informasi yang mungkin akan mengagetkan istri almarhum Pak William itu. "Seseorang memarkir mobil Anda tadi pagi di depan sebuah rumah di Jalan Intan. Ada mayat pria di mobil itu, bu." Denial mengucapkan kalimat terakhirnya setenang mungkin. Tapi tak urung Bu William memberikan reaksi kaget seperti yang sudah diperkirakannya.

"Ap...apa? Mayat si...siapa?"

"Itulah yang ingin saya tanyakan pada Anda, Bu William?"

"Tanya apa? Saya tidak tahu apa-apa tentang mayat itu." Bu William panik.

"Mohon tenang, bu. Ibu cukup menjawab pertanyaan saya saja." Denial menenangkan.

"Menjawab pertanyaan apa? Saya tidak tahu apa-apa tentang mayat di mobil saya."

Denial mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. "Apa ibu kenal dengan pria ini?" Denial menunjukkan foto sketsa pria yang tadi ditransfernya dari ponsel Ars.

Bu William mengamati sketsa itu baik-baik selama beberapa saat. "Tidak. Saya tidak mengenalnya."

"Anda yakin?"

"Ya, saya tidak mengenalnya," tegas Bu William. Wajahnya terlihat terganggu dengan pertanyaan Denial.

"Baiklah." Denial memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Bagaimana dengan nama Cygnus, bu? Apa Anda pernah mendengar nama itu?"

"Hmmm...tidak. Saya juga tidak pernah mendengar nama itu. Memangnya kenapa?"

"Ada sebuah kartu yang ditemukan di balik karpet di kompartemen bagasi mobil Anda. Kartu itu atas nama Cygnus, bu."

Denial melihat Bu William gelisah memainkan jari-jarinya.

Sementara itu, di dalam salah satu kamar yang letaknya dekat dengan beranda, seorang gadis menguping pembicaraan antara ibunya dan Denial. Awalnya dia tidak begitu tertarik dengan pembicaraan tentang mobil yang hilang. Tapi ketika dia mendengar ada mayat ditemukan di dalam mobil itu, keingintahuannya bangkit. Terlebih saat dia mendengar kata Cygnus, telinganya kian rapat menempel di jendela.

"Jadi Anda benar-benar tidak tahu tentang sketsa wajah yang tadi saya tunjukkan dan juga nama Cygnus itu, bu?"

Bu William menggeleng. Bibirnya mengatup.

Ars: CYGNUS (Seri ke-3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang