(42) Belum Berakhir

351 60 6
                                        


Seorang polisi berseragam tergesa-gesa menghampiri Ars. "Detektif Ars, tersangka penembakan berhasil melarikan diri dengan mobilnya. Regu Detektif Denial yang paling dekat dengan kita berusaha membantu," lapor salah satu polisi berseragam.

"Oke, baik. Dia lari ke arah mana?" Ars melangkah lebar keluar restoran menuju Si Hiu.

"Utara, detektif."

"Utara...Utara," sambil berderap Ars menjentik-jentikkan jarinya sementara dahinya berkerut. "Itu ke arah Lawang. Apakah penampakannya sama dengan yang di sketsa?"

"Maaf, anggota tidak sempat melihat tersangka dengan jelas, detektif. Dia langsung kabur dengan Fortuner hitam."

"Itu pasti Tony. Plat mobilnya?"

"N 1751 EEC."

"Oke, good. Sebarkan informasi ke anggota sweeping. Kita harus secepatnya menangkap orang itu." Ars melesat masuk ke mobilnya.

"Baik, detektif," polisi berseragam itu bergerak melaksanakan perintah Ars.

"Kamu! Ikut saya!" Ars menunjuk dua polisi berseragam dan mengajak mereka naik mobilnya. Dinyalakannya radio rig agar dapat berkomunikasi dengan Denial selama proses pengejaran.

"Bagaimana kondisi anggota yang tertembak tadi?" tanya Ars sambil mengemudi.

"Kakinya yang kena, detektif. Saya tadi juga belum sempat lihat. Lumayan kacau di sana tadi," jawab salah seorang polisi berseragam yang duduk di samping Ars. "Beruntung area play ground jauh dari pintu masuk. Jadi anak-anak berada dalam kondisi aman."

"Saya sudah menelepon Kapten Montreal. Mungkin sekarang ini beliau sudah tiba di sana. Semoga keadaan dan anggota kita yang terluka di sana cepat tertangani."

Suara berisik muncul dari radio rig.

"Ars, Ars."

Ars menekan tombol biru di radio rig yang terpasang di mobilnya.

"Ya, Den. Aku on the way mengejar Tony."

"Ya, aku juga. Anggota sweeping sudah siaga."

"Bagus. Per detik ini aku masih belum melihat target. Aku lewat Jalan Tumenggung Suryo. Aku berharap dapat memotong lajunya di flyover Arjosari."

"Ok, good. Aku akan lewat Jalan Ikan Paus jadi nanti aku bisa memotongnya di Kemirahan. Anggota sweeping standby setelah flyover, Karanglo, terus sampai ke Singosari dan Lawang."

"Ok, plat nomer target sudah disebar. Tapi menurutku dia tidak akan lewat jalan arteri. Mungkin terbongkarnya bisnis narkobanya adalah karena kecerobohannya, Den, tapi dia bukan orang bodoh. Ada banyak jalan pintas menuju Lawang. Target bisa jadi memilih jalan-jalan itu. Jadi nanti setelah dari flyover Arjosari aku akan putar balik, menyisir jalan-jalan pintas. Kamu menyisir jalan arteri saja."

"Ok. Ars, apa Kapten Montreal sudah di Jalan Jati?"

"Sepertinya sudah, Den. Aku langsung meneleponnya setelah Tony melarikan diri tadi. Ada apa, Den?"

"Aku belum lapor kalau dua orang pegawai gudang di tempat pemotongan unggas itu terlibat dengan penculikan Alvian." Denial menggosok-gosok kedua matanya karena dirasanya bola matanya terasa perih. Sesaat kemudian dia menguap.

"Ngantuk, Den?"

Denial meringis.

"Kalau begitu laporlah Kapten Montreal dulu agar beliau dapat segera berkoordinasi dengan Kapten Anas. Mungkin Detektif Marabunta yang kali ini harus ke Lawang dan dia akan kembali ke DPM dengan membawa banyak orang. Pegawai-pegawai di sana harus kita jadikan saksi. Satu lagi, Den. Minta Detektif Hanif dan Detektif Erlita untuk menekan Pak Yanto agar dia memberitahu alamat rumah utama Tony. Rumah yang di dekat tempat pemotongan unggas itu sepertinya hanya rumah singgah saja. Kalau kita tidak mendapatkan dia dalam pengejaran ini, sepertinya kita harus mengobok-obok rumahnya. Aku yakin pengusaha seperti dia mempunyai lebih dari satu rumah."

Ars: CYGNUS (Seri ke-3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang