3 tahun kemudian
Seorang gadis remaja sedang latihan menari dengan temannya untuk persiapan mengikuti lomba yang cukup terkenal, APSN atau Ajang Perlombaan Seni Nasional. Jika kita bisa memenangkannya, maka kita akan bisa mengikuti Internasional Art Competition. Tak lama kemudian terdengar suara dari pelatih mereka.
"Sudah cukup, Anna, Maya. Kalian sudah siap untuk tampil 2 hari lagi" yang dipanggil langsung berhenti dan tersenyum hormat pada sang pelatih.
"Terima kasih atas didikanmu, Kak" ujar Anna.
"Tak masalah, lagipula kalian tak terlalu sulit untuk diajar. Semoga kalian bisa memenangkannya dan menuju APSN antar nasional" do'a kakak tadi.
"Amiin" ujar keduanya. Tak lama kakak pelatih pamit keluar dari ruang tari dan membiarkan Anna dan Maya duduk dengan nafas terengah-engah.
"Kau siap, May?" Tanya Anna disela-sela istirahatnya.
"Siap tak siap, harus siap, Anna. Kita harus optimis saja. Semoga semua ini tak mengkhianati kita dan memberikan hasil yang memuaskan seperti kemarin" jawab Maya. Anna hanya mengangguk dan menenggak air mineralnya.
"Aku harus pergi. Masih ada ujian yang harus aku ikuti" pamit Anna.
"Oh ayolah, Anna. Kau serius mau meninggalkanku? Kau tahu, jika kau pergi maka aku akan sendirian lagi" rengek Maya. Anna hanya tersenyum tipis dan menepuk bahu temannya.
"Maafkan aku. Tapi aku sudah tak tahan lagi berada disana. Apalagi setelah aku mengetahui semuanya" jawab Anna.
"Semua? Apalagi yang kau ketahui tentang mereka, hah? Dengan cara yang sama?" Tanya Maya dengan jijik.
"Ya, cara yang sama."
"Lalu kau akan kemana?"
"Daratan yang jauh dari sini. Yah... walaupun kemungkinan besar aku akan bertemu dengan salah satu dari mereka" Anna berdiri dan menepuk bahu Maya. Ia meninggalkan temannya dengan helaan nafas yang keluar dari mulutnya.
*****
Kini ia berada disebuah ruangan yang cukup sunyi dengan seorang guru cantik didalamnya. Guru itu langsung tersenyum melihat kedatangan Anna.
"Ternyata kau datang, Anna"
"Aku harus datang, bukan? Supaya aku bisa pergi dari sini secepatnya" jawab Anna dengan datar. Guru itu tersenyum maklum, karena inilah sikap yang ditunjukkan Anna pada orang lain selain orang terdekatnya. Walaupun guru dihadapannya ini termasuk dekat dengan Anna, tapi ia tetap bersikap datar pada guru itu.
"Hah... baiklah, Anna. Ini soalnya. Jawab dengan benar ya, yah walaupun Ibu tahu jawabanmu tak pernah menyesalkan guru lain" Anna hanya mengangguk dan mulai menjawab semua pertanyaan dari lembar soal itu. Guru itu yang bernama Nabila hanya iba terhadap nasib murid didepannya. Anna cantik, sangat cantik malahan. Perpaduan antara Indonesia-Indo Belanda, rambut sepunggung berwarna coklat terang, dan mata biru yang sebenarnya bisa membuat orang lain terpikat. Namun karena masalah itu membuat Anna menjadi sosok yang pendiam dan tak terlalu mempercayai orang lain. Akibat sifatnya itulah ia juga tidak memiliki banyak teman. Satu-satunya teman yang dekat dengannya hanyalah Dharmaya Cantika, partnernya dalam bidang tari. Nabila hanya menghela nafas dan berdo'a semoga Anna mendapatkan kebahagiannya dikemudian hari.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam buat Anna menjawab semua pertanyaan itu. Anna memberikan kertas jawabannya pada Nabila tanpa tersenyum sedikit pun, seolah bibir tipisnya itu tak bisa mengeluarkan sebuah senyuman yang lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
What's wrong with me?
General FictionCerita #1 Broken home -Anggiana Georgiana Adrian a.k.a Aleen Cheveryl Azryl- "Perbedaanku membuat semua keluargaku menjauhiku. Hanya Mama dan kak Bryan yang berada di sisiku ketika mereka mengabaikanku. Mereka menjauhiku hanya karena aku berbeda. Sa...
