Anna sampai disebuah rumah yang cukup besar walaupun tak sebesar rumahnya -mantan rumahnya-. Ia mengeluarkan kopernya dari bagasi dan mengetuk pintu.
"Iya! Sebentar!" Tak lama kemudian keluar wanita berusia kisaran awal 40-an namun masih tampak anggun. Wanita itu tersenyum dan memeluk Anna.
"Anna! Masuk, Sayang. Sudah lama kamu tidak main ke sini" Anna tersenyum kecil dan menyeret kopernya.
"Maklum, Tan. Lagi sibuk soalnya"
"Ma, itu Anna ya?" Teriakan Maya terdengar dari lantai 2.
"Iya. Nah, Anna. Sekarang kamu naik ya. Tante mau masak buat makan siang" pinta mama Maya.
"Baiklah, Tan. Oh ya, Tan, Om mana? Kerja ya?" Mama Maya mengangguk dan mengelus puncak kepala Anna sebelum meninggalkannya sendirian. Anna tersenyum geli. Ia merasa kalau rumah Maya adalah rumah yang sebenarnya, bukan rumah yang penuh dengan ketegangan. Rumah yang hangat, nyaman, mendapat kasih sayang. Walaupun ia tidak memiliki hubungan darah namun mereka tetap memberikan kasih sayang. Tak seperti mereka. Anna memggeleng dan menuju kamar Maya. Ia mengetuk pintu kamar Maya dan terdengar teriakan Maya.
"Masuklah, Anna. Jangan sungkan. Pintunya tak terkunci kok" Anna memutar kenop pintu dan mendapati Maya sedang menonton drama Korea. Anna mendengus kecil melihat kebiasaan Maya kalau libur.
"Apa matamu tak bosan melihat wajah oplas mereka, Maya?" Maya mencebik dan melemparkan bantal yang ada ditangannya. Refleks Anna langsung menangkapnya dan terkekeh. Maya mengerucutkan bibirnya dan mematikan laptopnya. Ia mengernyit ketika melihat sebuah koper mini -mendekati ukuran sedang- yang dibawa oleh Anna.
"Mau pindah kemana, Buk?" Godanya. Namun senyuman langsung hilang dari wajah ayu Maya ketika melihat tatapan sayu Anna. Maya bangkit dan mengajak Anna duduk diranjangnya.
"Hei, ada apa? Apa yang mereka katakan padamu?" Anna tetap diam dan menatap Maya. Ia menghelas nafas sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Mereka mengusirku dan mencabut nama Adrian dibelakang namaku" Maya mematung. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum mengeluarkan suara.
"Kau tidak bercanda, kan, Anna? Candaanmu tak lucu" Anna menggeleng pelan dan langsung mendapat pelukan dari Maya.
"Oh, Tuhan. Apalagi ini? Kenapa ini harus terjadi padamu? Memangnya apa yang kau lakukan sampai semua ini terjadi, Anna? Ayo ceritakan padaku" kini keduanya duduk berhadapan. Anna menceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikannya. Karena ia tahu Maya bukanlah tipe orang yang akan membeberkan rahasia seseorang. Setelah Anna selesai bercerita ia melihat mata Maya yang sudah memerah dan airmata meluncur begitu saja dari mata coklatnya. Anna terkekeh melihatnya.
"Harusnya aku yang menangis, Maya. Bukan kau" Maya langsung menarik Anna ke dalam pelukannya dan menangis sesenggukan dibahu Anna.
"Aku tahu kau tak akan menangis, Anna. Makanya aku yang menggantikanmu menangisi semuanya. Papamu terlalu kejam. Mengapa tak kau tampar saja dia atau kau patahkan beberapa tulangnya, hah? Kenapa kamu malah menurut dan hanya meminta mamamu pergi ke acaramu? Kenapa kau tak meminta uang? Memangnya bagaimana kehidupanmu ke depannya?" Bisik Maya dan mengeratkan pelukannya. Anna tersenyum kecil dan menguraikan pelukan mereka.
"Maya, kalau aku memukul Angga maka masalah ini semakin membesar dan aku pasti kalah. Aku hanya meminta mama karena aku membutuhkannya, untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi. Masalah uang, apa kau lupa selama ini aku menyimpan uang dari hasil semua lomba yang aku ikuti?" Maya masih mengeluarkan air matanya dan menatap Anna dengan iba.
"Tapi kau akan kuliah ditempat jauh, Anna. Bagaimana kehidupanmu disana? Dengan uang yang kau punya mungkin hanya bisa bertahan sementara" Anna tersenyum dan menghapus airmata sahabatnya.
"Kita masih mengikuti lomba APSN di Bali, bukan? Tentu ada uang saku dan jika rejeki kita bisa memenangkannya dan pergi menuju London untuk mengikuti International Art Competition dan kalau kembali rejeki kita bisa memenangkannya. Tentu uangku juga akan bertambah. Dan jika aku pergi kelak aku bisa menyewa apartemen murah dan bekerja paruh waktu" Maya semakin menangis dan kembali memeluk Anna. Maya tak mengerti bagaimana Anna sudah memikirkan semuanya. Ia juga tak mengerti mengapa takdir begitu kejam pada sahabatnya.
"Maka itu kau mau kan menolongku untuk memenangkan perlombaan itu? Demiku?" Tanya Anna. Airmatanya juga sudah menumpuk akibat melihat sahabatnya menangisi takdirnya. Ia tak menyangka akan mempunyai seorang teman yang memang berada disaat ia terpuruk, bahkan rela menggantikannya menangis.
"Tentu, Anna bodoh. Aku akan menolongmu sampai kapan pun" Anna terkekeh dan mengelus punggung Maya yang naik-turun akibat menangis. Anna membujuk Maya supaya berhenti menangis. Tak lama kemudian Maya menarik tangannya dan menuju mama Maya yang sibuk menata meja makan.
"Ma, Maya boleh minta tolong, gak?" Mamanya menatap bingung pada 2 gadis yang matanya sudah memerah -mata Anna tak separah mata Maya-.
"Kamu mau apa, Sayang?" Anna yang memahami maksud Maya menggenggam erat tangan Maya dan menggelengkan kepalanya.
"Ijinin Anna menginap sampai ia lulus sekolah ya, Ma? Mama kan tahu kalau ia ikut sistem akselerasi jadi ia akan tamat tahun ini" pinta Maya dengan tatapan memelas. Mama Maya memberhentikan kegiatannya dan mendekati keduanya.
"Apa ada masalah yang lebih serius, Anna?" Tanyanya. Keluarga Maya sudah mengetahui seluk beluk permasalahan Anna, karena mereka adalah rumah bagi Anna.
"Iya, Tan" mama Maya langsung memeluk Anna dan mengelus rambutnya.
"Kamu boleh tinggal disini kapan pun kamu mau, Sayang. Kami tak keberatan" disaat itulah baru air mata Anna keluar. Ia tak menyangka kalau keluarga Maya akan sebaik ini padanya.
"Makasih, Tan. Makasih. Aku tak tahu harus membalas kalian seperti apa" isak Anna. Mama Maya mengecup pelan puncak kepala Anna.
"Tak ada yang perlu dibalas, Sayang. Semuanya murni dari hati kami. Om pasti juga setuju dengan ini. Kamu tak akan jadi beban kami" isakan Anna semakin terdengar. Maya yang mendengarnya juga ikut memeluk Anna dengan erat.
"Yang sabar ya, Anna. Mereka akan mendapatkan karma. Percayalah" Anna mengangguk dan mengeratkan pelukannya.
Lihatlah. Aku akan membuat mereka sengsara dengan caraku sendiri. Tunggulah pembalasanku, Tuan Anggara Adrian. Kau akan menanggung semuanya sampai kau akan berlutut dihadapanku kelak. Batinnya.
Vomentnya guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
What's wrong with me?
Ficção GeralCerita #1 Broken home -Anggiana Georgiana Adrian a.k.a Aleen Cheveryl Azryl- "Perbedaanku membuat semua keluargaku menjauhiku. Hanya Mama dan kak Bryan yang berada di sisiku ketika mereka mengabaikanku. Mereka menjauhiku hanya karena aku berbeda. Sa...
